Senin, 18 April 2016

Aku, Marx, dan Engels

Aku, Marx, dan Engels

Andika Ramadhan Febriansah ;   Mahasiswa Sejarah UNJ;
Anggota Serikat Mahasiswa Perubahan UNJ
                                                 INDOPROGRESS, 04 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AKU adalah seorang buruh pabrik tekstil di Barmen, Jerman. Aku hidup ketika feodalisme di Eropa mulai terkikis. Ketika itu, pembangunan mulai terpusat di kota-kota besar. Industrialisasi berkembang sangat pesat. Kian lama, pabrik-pabrik di Jerman bertumbuh pesat, tenaga-tenaga kerja pun dibutuhkan. Akibatnya terjadilah urbanisasi besar-besaran dari desa ke kota, karena para petani dipaksa meninggalkan lahan pertanian mereka untuk beralih profesi menjadi seperti aku; buruh. Kemiskinan, penggusuran dan eksploitasi yang marak terjadi karena cepatnya perubahan yang terjadi.

Di desa, ketika pertanian masih menjadi mata pencaharian masyarakat, semua orang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Mereka masih saling bertegur sapa, tak jarang pula bertukar hasil panen untuk menjalin kerukunan. Semua orang di desa bekerja untuk kehidupan, bukan untuk mendapatkan uang. Namun, zaman telah berubah, kini di pabrik kami semua bekerja bukan untuk kehidupan, melainkan untuk mendapatkan upah. Kami harus menuruti apa yang dikatakan oleh orang-orang yang telah mengupahi kami, termasuk merelakan waktu 12-16 jam sehari untuk bekerja di pabrik.

Aku bekerja di pabrik milik seorang pengusaha terkemuka bernama Johann Caspar Engels. Dia memiliki seorang cucu yang usianya masih muda, sekitar 23 tahun. Janggutnya tebal, tatapannya tajam, gaya hidup dan pakaiannya sangatlah sederhana. Walaupun dia adalah keturunan para pemilik pabrik tekstil, ia tidak pernah malu untuk bertegur sapa dengan para pekerja, bahkan sesekali mengajak kami mengobrol tentang keresahannya melihat kondisi para pekerja di pabrik milik keluarganya. Dialah Frederick Engels, seorang anak muda cerdas yang begitu peduli dengan nasib kaum buruh. Bagi Engels, kelas pekerja rela bekerja belasan jam dalam satu hari di pabrik karena para pemilik pabrik membangun sistem “depedensi” pada tiap orang. Artinya, setiap buruh yang bekerja di pabrik dibuat sedemikian ketergantungannya dengan para bos-bos pabrik.

Suatu ketika salah seorang buruh di pabrik protes. Ia tak terima ketika dirinya dipecat dengan alasan usianya yang sudah terlalu tua. Alasannya, ia telah menghabiskan masa mudanya untuk bekerja di pabrik dan anak serta istrinya butuh makan. Para pekerja yang lain hanya diam. Ada yang pura-pura tak tahu dan ada pula yang berusaha menenangkan pekerja yang dipecat. Mereka yang peduli akhirnya sama seperti aku: tak berdaya melihat pemecatan. Jika kami terlibat dalam protes, maka akan terjadi pemecatan yang lebih besar. Dua hari kemudian, Engels menemui para buruh. Aku yang ketika itu sedang bekerja, sejenak menghentikan pekerjaanku untuk mendengarkan Engels. Ia menyatakan keprihatinannya atas pemecatan buruh yang dilakukan oleh pabrik milik keluarganya kemarin. Menurut Engels, kaum buruh harus berani melawan “ketergantungan”. Ia pun mengatatakan kepada kami;

“Siapa yang bisa memberi jaminan pekerjaan pada kalian, siapa yang bisa menjamin hal itu jika tiba-tiba dengan alasan apapun atau tanpa alasan sama sekali tuan atau majikan kalian memecat kalian besok? Walaupun hari ini kalian memiliki mata pencaharian, belum tentu besok kalian tetap memilikinya.”

Apa yang dikatakan Engels adalah benar adanya. Dahulu ketika masih bertani kami bisa memproduksi kebutuhan kami tanpa harus mengikuti aturan orang lain. Kami bisa menanam apapun untuk asupan makanan tanpa harus khawatir dengan pemecatan. Sawah milik kami, jadi tak mungkin ada pemecatan. Namun, sekali lagi, zaman telah berubah. Sawah kami dihabisi untuk membangun pabrik-pabrik, sisanya dibeli oleh tuan-tuan tanah untuk membangun bisnis pertanian dan menjadikan orang-orang miskin di desa sebagai buruh tani. Kami semua sangat bergantung kepada para pemilik pabrik dan sawah. Kami adalah seorang buruh yang tidak merasa menjadi apa-apa, kami merasa tak menjadi manusia, hanya menjalankan fungsi seperti hewan; makan, minum, dipaksa bekerja, dan memiliki keturunan yang nantinya akan menjadi hewan seperti kami.

Perjalanan ke Paris

Pada tahun 1844, Engels mengajakku menemui temannya di Paris, Prancis, dengan berkereta. Setibanya di sana, aku dan Engels memasuki sebuah caffe, yang di dalamnya kulihat seorang anak muda berjanggut tebal seperti Engels, namun dengan penampilan sangat acak-acakan. Tak lama berselang, kulihat Engels melambaikan tangan dan menyapa lelaki itu dari kejauhan “Hei comrade..” lelaki berpenampilan acak-acakan itu pun tersenyum.

Aku sangat terkejut ketika mengetahui bahwa lelaki itu adalah temannya. Sangat mengherankan melihat seorang anak dari keluarga yang kaya-raya memilih berteman dengan lelaki urakan, seperti anak muda ini, yang segera kuketahui bernama Karl Marx, anak seorang pengacara dari Trier, Prusia. Ia dilahirkan di keluarga yang memberikan nuansa kehidupan kelas menengah perkotaan. Di depanku Engels memuji Marx: pada usia 23 tahun ia sudah mampu memperoleh gelar doktor filsafatnya dari Universitas Jena. Aku hanya bisa takjub!

Lantas Engels memperkenalkanku kepada Marx; “Marx, lelaki ini adalah seorang pekerja di pabrik tekstil milik keluargaku, dia adalah seorang buruh yang aktif mengkritik kinerja sistem pabrik-pabrik di Barmen.”

Setelah saling mengenal, aku pun banyak cerita kepada Marx tentang kondisi para pekerja di Jerman. Tentang pekerja yang dipecat sewenang-wenang, pekerja pabrik sepatu yang hidupnya sangat miskin, hingga seorang buruh tani yang mati kelaparan di atas ladang gandum milik tuan-tuan tanah. Marx memandangku dengan tatapan iba, kulihat matanya berkaca-kaca sambil terus memperhatikan apa yang aku bicarakan. Setelah aku selesai berbicara, aku melihat Marx mengeluarkan buku catatannya dan mengatakan bahwa zaman feodalisme di Jerman sudah berakhir, sekarang kita hidup di zaman Kapitalisme. Marx menambahkan “Zaman Kapitalisme melahirkan dua tipe masyarakat, yaitu proletariat dan kapitalis. Aku akan menjelaskan mulai dari proletariat..”

Menurut Marx, proletariat adalah para pekerja yang menjual kerja mereka dan tidak memiliki alat-alat produksi sendiri, seperti aku dan para pekerja lainnya di pabrik milik keluarga Engels. Karena mereka tidak memiliki sarana-sarana untuk memproduksi kebutuhan mereka, maka mereka harus menggunakan upah yang mereka peroleh untuk membeli apa yang mereka butuhkan. Maka dari itu proletariat tergantung sepenuhnya pada upahnya untuk bertahan hidup. Hal inilah yang membuat proletariat tergantung pada orang yang memberi upah. Orang-orang yang memberi upah itu adalah kaum kapitalis. Jelas, kapitalis adalah orang-orang yang memiliki alat produksi. Sambil menyeruput segelas kopi, Marx mengatakan “sebelum aku menjelaskan sepenuhnya tentang kapitalis, kamu harus mengerti terlebih dahulu apa itu kapital.”

Berdasarkan pengamatan Marx, kapital adalah uang yang diinvestasikan, bukan uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Ada dua tipe sirkulasi komoditas, sirkulasi pertama adalah ciri kapital, yaitu Uang – Komoditas – Uang (dengan jumlah yang lebih besar) = (M1-C-M2). Sirkulasi ini memiliki tujuan “Membeli untuk Menjual” agar menghasilkan lebih banyak uang. Di sini seorang pemilik pabrik akan menggunakan uang (M1) untuk membeli komoditi (C) untuk menjualnya kembali demi mendapatkan lebih banyak uang (M2). Sedangkan sirkulasi bentuk kedua bukanlah ciri kapital, yaitu Komoditas – Uang – Komoditas (C1-M-C2). Di sini seorang nelayan menjual ikan hasil tangkapannya (C1) dan kemudian menggunakan uang (M) untuk membeli roti (C2). Artinya, kapital adalah penumpukan uang yang menghasilkan lebih banyak uang.

Kelas kapitalis dengan demikian adalah mereka yang hidup dari keuntungan kapital dengan cara mengeksploitasi kerja-kerja buruh. Sangatlah wajar ketika rekan-rekanku, para buruh di pabrik tak berani protes dengan upah rendah dan jam kerja yang sangat eksploitatif. Jika mereka mengeluhkan upah dan jam kerja, maka mereka akan dipecat. Aku pikir itu benar, para buruh benar-benar tak mampu menjadi seorang manusia, bahkan untuk mengkritik dan mengeluh mereka tak mampu, mereka harus menuruti bos-bos pabrik yang telah mengupah mereka. Kaum kapitalis tak boleh diprotes dan dikritik, mereka tak pernah salah layaknya Tuhan.

Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 pagi. Obrolan kami begitu menarik, sehingga aku sangat terlarut dalam dialog bersama Marx dan Engels. Karena besok pagi aku harus bekerja, maka aku mengajak mereka berdua untuk segera pulang. Engels mengajak Marx untuk menginap di rumahnya, di Barmen. Kami bertiga pun segera keluar dari pintu caffe dan melangkahkan kaki menuju stasiun kereta api untuk segera melanjutkan perjalanan pulang menuju Jerman..

Marx Berkunjung ke Pabrik

Pukul 08.00 pagi aku dan buruh-buruh di pabrik mulai bekerja, memproduksi barang-barang untuk mengejar target “satu hari 3000 produksi”. Aku bekerja dalam keadaan penuh sesak di bawah lampu neon berjarak 30cm bersuhu 40’C. Dengan bagian luar yang kelihatan sangat mewah, kondisi di dalam pabrik lebih mirip kandang ayam ketimbang tempat manusia bekerja. Kulihat wajah rekan-rekanku sangat lesu dan kelelahan. Di depan pintu pabrik, aku melihat Marx dan Engels. Mereka datang bukan untuk mengawasi dan menyuruh kami bekerja lebih keras, tetapi berkeliling untuk menyapa seluruh buruh-buruh di pabrik.

Pada saat jam istirahat, Marx menghampiri para buruh. Ia menyapa kami dengan senyuman hangat. “Bagaimana, apakah kalian semua merasa bahagia bekerja di pabrik?” tanyanya kepada kami.

Aku hanya diam, rekan-rekanku pun tak mampu menjawab. Marx mulai melanjutkan pembicaraan “Aku paham bahwa ada hubungan yang nyata antara kerja dan sifat dasar manusia. Tetapi apakah kalian merasa bahwa kerja-kerja kalian telah membuat kalian menjadi manusia seutuhnya?” Semua buruh langsung menggelengkan kepala, pertanda bahwa mereka tak merasa menjadi manusia, melainkan terpaksa bekerja untuk mencari uang agar bisa makan dan melanjutkan kehidupan.

Marx mengajak kami agar tak sekedar menjalankan fungsi-fungsi hewaniah. Ia mengatakan bahwa manusia memiliki potensi-potensi dan kekuatan-kekuatan unik yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sebagai contoh, seekor laba-laba mampu menjadi seorang penenun dan seekor lebah mampu membuat malu seorag arsitek karena sarang yang dibuatnya. Namun, inilah yang membedakan arsitek dengan lebah, bahwa seorang arsitek sudah membayangkan seperti apa bentuk bangunan yang akan mereka buat di dalam imajinasi sebelum mereka membangunnya di dalam kenyataan. Pertama, yang membedakan manusia dengan hewan adalah bahwa kerja-kerja manusia mampu mewujudkan suatu realitas konkrit yang sebelumnya hanya ada di dalam imajinasi. Berdasarkan sudut pandang Marx, karya seni merupakan imajinasi yang sebelumnya ada di alam pikir seorang seniman. Kedua, kerja manusia bersifat material. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan material kita. Pemenuhan kebutuhan bisa membawa manusia pada penciptaan kebutuhan baru. Misalnya, produksi mobil-mobil akan membawa kita pada kebutuhan akan jalan raya. Ketiga, kerja mentransformasikan sifat dasar manusia.

Aku terpana melihat penjelasan Marx, sangat detail dan mengagumkan. Dengan usia semuda itu ia merupakan anak muda yang memiliki pemikiran yang sangat brilian. Rekan-rekanku pun merasakan hal yang sama. Semenjak berbincang dengan Marx, mereka semua mampu memahami sistem kerja kapitalisme yang telah menyelewengkan sifat dasar manusia. 30 menit sebelum waktu istirahat habis, Marx mulai melanjutkan pembicaraan. Seluruh pekerja langsung memperhatikan dengan pandangan yang cukup serius.

“Hubungan kerja dan sifat dasar manusia yang telah diselewengkan oleh kapitalisme aku sebut sebagai alienasi, dimana manusia tidak lagi melihat kerja mereka sebagai sebuah ekspresi dari tujuan mereka” begitu penjelasan Marx.

Menurutnya, alienasi atau keterasingan terdiri dari empat unsur dasar. Pertama, kaum pekerja tidak lagi memproduksi objek-objek berdasarkan ide-ide mereka. ekerja tak lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, tetapi mereka bekerja untuk kapitalis, yang memberi mereka upah untuk menyambung hidup. Aktivitas produksi bukan lagi menjadi ajang ekspresi ide-ide manusia, tetapi sudah dikontrol dan menjadi milik para kapitalis. Hal itulah yang akhirnya menjadikan kerja-kerja di pabrik menjadi sarana-sarana yang amat membosankan dan mematahkan semangat para pekerja.

Kedua, Marx berpendapat bahwa para pekerja teralienasi dari produk-produk yang telah mereka buat, dimana produk-produk kerja bukan menjadi milik mereka, melainkan menjadi milik para kapitalis. Marx benar, bayangkan saja, jika kami menginginkan barang-barang yang kami produksi di pabrik, kami harus membelinya seperti orang lain. Kami menjadi seorang produsen sekaligus konsumen. Bahkan salah seorang buruh di pabrik roti ada yang mati kelaparan karena tak mampu membeli roti yang, ironisnya, mereka buat sendiri. Kondisi yang sama juga dialami oleh para buruh petani yang mati kelaparan karena mereka tak mampu membeli gandum yang mereka produksi sendiri.

Ketiga, sistem kapitalisme membuat para pekerja teralienasi dari sesama pekerja. Ketika Marx berusaha melanjutkan penjelasannya, ada seorang pekerja melambaikan tangannya ke arah Marx, “Hai tuan, aku sepakat dengan pendapat anda” begitu kata pria tersebut. Perhatian Marx dan para pekerja tertuju kepada laki-laki itu. Namanya Terkel, ia berusaha memperjelas apa yang ia bicarakan dengan mengatakan bahwa para pekerja bisa berdampingan dengan seseorang selama beberapa bulan tanpa mengetahui namanya. Satu hal yang diketahui oleh para pekerja bahwa mereka terlalu sibuk untuk sekedar berbicara. Begitulah, bahkan untuk berbicara, para buruh tidak memiliki waktu. Suara Telker yang sangat lantang membuat suasana di dalam pabrik begitu hening. Marx pun memberikan senyuman dan apresiasi terhadap laki-laki ini, lalu mengatakan bahwa apa yang dibilang Telker harus menjadi renungan bagi seluruh kaum buruh di Jerman, tidak hanya di pabrik tekstil milik Engels. Marx mengatakan bahwa para buruh dipaksa untuk berkompetisi, bukan bekerjasama. Maka tak heran jika banyak pekerja yang berusaha mencari muka di hadapan bos-bos pabrik demi mendapatkan imbalan dan tidak disingkirkan atau dipecat. Siapa yang bekerja lebih cepat, bersedia dieksploitasi dengan memproduksi lebih banyak, dan siapa yang berhasil menyenangkan atasannya, maka dialah yang mendapatkan imbalan.

Yang keempat dan terakhir, Marx mengatakan bahwa kelas pekerja teralienasi dari potensi kemanusiaan mereka sendiri. Kerja bukan lagi sebagai wujud ekspresi dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia, tetapi malah membuat manusia tidak menjadi dirinya sendiri. Hal itulah yang menurut Marx membuat para pekerja seperti di pabrik ini akan merasa nyaman ketika tidak bekerja dan merasakan gelisah dan tidak nyaman ketika sedang bekerja. Oleh karena itu kerja-kerja buruh tak lagi bersifat sukarela, melainkan terpaksa; dipaksa bekerja.

Waktu sudah menunjukan pukul 13.00, para pekerja terlihat gelisah dan satu persatu dari mereka mulai berpamitan kepada Marx untuk memulai kembali aktivitas produksi mereka. Lalu, sebelum aku kembali bekerja, aku bertanya kepada Marx, “tuan Marx, bagaimana cara mengubah ini semua? mungkinkah kami para buruh akan terus dieksploitasi layaknya hewan dan terus bergantung kepada kaum kapitalis sehingga kami tidak bisa merdeka atas diri kami sendiri?”

Marx langsung menjawab“Kekejaman sistem kapitalisme akan melahirkan lebih banyak kelas pekerja yang menderita akibat tereksploitasi, dan orang-orang yang tereksploitasi seperti kalianlah yang kelak berpotensi sebagai aktor yang akan mengakhiri kapitalisme melalui revolusi kelas pekerja.” Marx mengucapkan kata-kata itu dengan penuh harap dan kepercayaan bahwa kelak kaum buruh mampu memutus sendiri rantai penderitaan mereka.

Tak lama setelah itu, Engels yang sedari tadi memperhatikan dan larut dalam penjelasan menambahkan apa yang dikatakan Marx, “Untuk melakukan sebuah revolusi demi terbentuknya tatanan dunia yang lebih adil, maka kaum buruh se-dunia bersatulah!”

Belum puas dengan jawaban Marx dan Engels, aku kembali bertanya “Tuan, lalu masyarakat seperti apa yang akan lahir ketika zaman kapitalisme berhasil diakhiri oleh sebuah revolusi?”

Marx menjawab dengan tenang “Masyarakat tanpa kelas”. Katanya, akan hadir suatu zaman yang lebih baik dibandingkan pada saat ini, dengan berakhirnya kepemilikan pribadi, eksploitasi, dan kelas-kelas sosial demi terwujudnya kemerdekaan umat manusia. Semua orang hidup dalam bingkai kesetaraan, tak ada yang saling mendominasi, tak ada diskriminasi, tak ada lagi perbudakan, tak ada lagi penghisapan dan penindasan manusia terhadap manusia lainnya. Tahapan zaman itu bernama komunisme, dimana semua orang memiliki hak yang sama untuk merealisasikan diri dan berpartispasi aktif dalam segala bentuk kehidupan sosial.

Aku sangat berterimakasih kepada Marx karena ia berhasil menyadarkan kaum buruh terhadap penindasan dan penghisapan yang mereka alami. Walaupun banyak yang mengkritik Marx, bagiku kita semua harus melihat Marx dengan adil. Kelahiran Marx dan buah pemikirannya harus disambut dengan perasaan bahagia. Ajaran-ajaran Marx telah menginspirasi seluruh buruh di Eropa, bahkan kelak di seluruh dunia untuk melakukan perlawanan terhadap sistem kapitalisme yang kejam. Perbudakan harus dihapuskan dan pembebasan umat manusia harus diperjuangkan.

Setelah satu jam berbicara dengan Marx, aku dan para pekerja lainnya kembali bekerja. Aku melihat Marx perlahan-lahan meninggalkan ruangan pabrik, lalu Engels segera menyusul di belakangnya, mereka keluar melalui pintu utama pabrik ini. Selamat jalan Marx, Engels.