Minggu, 19 Juni 2016

Puasa dan Kesalehan Transformatif

Puasa dan Kesalehan Transformatif

Zuly Qodir ;   Sosiolog;
Direktur Sekolah Politik Ahmad Syafii Maarif Pascasarjana UMY
                                                         KOMPAS, 18 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Di bulan Ramadhan, umat Islam dan kaum beriman diperintahkan menjalankan ibadah fisik dan spiritual: berpuasa. Semua kaum beriman penghuni negeri ini turut menjalankannya.

Negeri ini sangat dikagumi karena dianggap sangat religius, bukan sekuler. Di tengah posisi religius tersebut, tampak berseliweran kaum kere, miskin, dan marjinal. Itulah kaum mustad'afin. Teologi kita agaknya kurang berpihak pada golongan mustad'afin tersebut ketimbang pada golongan kelas menengah religius. Fenomena semacam itu dapat dengan mudah kita saksikan pada berbagai acara televisi yang lebih mempertunjukkan kelas menengah Muslim ketimbang kelas mustad'afin.

Pemihakan pada kelas kere ketimbang kelas menengah ditunjukkan ketika kita memiliki kepekaan yang dalam kepada masyarakat kelas miskin-papa secara sosial, politik, ekonomi, kultural, bahkan spiritual. Puasa, karena itu, bukan saja ibadah fisik, tapi juga spiritual, yang diharapkan dapat menciptakan serta menumbuhkan kepekaan sosial pada kaum papa dan mustad'afin.

Teologi "Kalibokong"

Gagasan orisinal tentang teologi "Kalibokong", yang dipopulerkan tahun 1990-an oleh Moeslim Abdurrahman, kira dapat menjadi sepenggal kisah di negeri kaya tetapi kaum kerenya berseliweran. Teologi "Kalibokong" memberikan kisah tentang terjadinya ketidakadilan di Tanah Air atas kelas sosial tertentu pada kaum kere. Kelas menengah menjadikan kaum kere sebagai pijakan beramal saleh. Kaum kere, karena itu, kata Moeslim Abdurrahman, jangan mudah dihakimi perilaku kesalehannya oleh kelas menengah Muslim dan kaum santri tulen.

Kaum kere yang sering dianggap kurang santri karena tak rajin mendengarkan pengajian-pengajian kiai, ustaz, pak haji dan bu hajah di tengah kompleks perumahan atau di tengah masjid pasar tidak berarti tidak saleh. Kaum kere, bagi  Moeslim Abdurrahman, bukan entitas yang harus dihakimi kafir, sesat, sinkretik , dan seterusnya, tetapi harus dipersoalkan mengapa mereka demikian kondisinya.

Teologi "Kalibokong" adalah sebuah ilustrasi tentang terjadinya ketakadilan yang dilakukan oleh kelas pemilik usaha alias pemilik modal, yang menjadikan kaum kere sekadar sebagai pekerja yang diperas keringatnya untuk mampu menghasilkan sebanyak mungkin barang sebagai produksi, kemudian mereka dibayar dengan bayaran yang sangat murah. "Kalibokong" adalah gambaran penindasan yang dilakukan sebuah entitas masyarakat kelas menengah ke atas terhadap entitas masyarakat lainnya yang tidak memiliki akses atas pendidikan, kekayaan, high cultur (modernisme), serta kesalehan simbolik.

Teologi "Kalibokong" merupakan ilustrasi betapa masyarakat kecil yang tidak berdaya hanya bisa memberikan tenaga mereka yang harganya dianggap murahan. Jika demikian, benarlah kaum kere, tertindas, serta miskin itu kemudian harus benar-benar tertindas secara sosial, secara politik, secara ekonomi, bahkan secara teologis? Sungguh tak adil memperlakukannya!

Di sinilah jika kita saksikan sekarang saat Ramadhan tiba, berbagai pengajian diselenggarakan di hotel-hotel berbintang, pengajian dengan mendatangkan ustaz yang populer serta selebritas dengan bayaran yang cukup tinggi, tampak paradoks dengan realitas hidup kaum mustad'afin.

Pada bulan Ramadhan, melakukan dan mengunjungi pengajian tentu saja perbuatan baik yang harus dikerjakan oleh umat Islam. Tetapi, apa maknanya pengajian dengan mengundang ustaz, dai, dan kiai yang kesohor dengan biaya tinggi dan diselenggarakan di hotel-hotel?

Apa artinya pula menyelenggarakan pengajian di stasiun-stasiun televisi dengan membayar mahal, dengan berpakaian seragam yang merupakan "perkumpulan-perkumpulan" dari kelompok masyarakat kelas menengah ke atas tertentu. Bukankah ini tak jauh beda dengan "perkumpulan" lain yang juga memiliki atribut-atribut tertentu sebagai bentuk politik simbolik: bahwa "kami" bagian dari komunitas, sementara yang lain tidak!

Refleksi teologis

Di tengah ingar-bingarnya situasi sosial politik dan sosial keislaman yang terjadi, kita tentu berharap tumbuhnya masyarakat yang memiliki kepedulian kepada mereka yang tertindas, termarjinalkan, tidak punya akses, serta dituduh tidak santri. Kita perlu sebuah tafsir Islam yang memihak kaum duafa. Meminjam Moeslim Abdurrahman, kita perlu tafsir wahyu transformatif.

Tafsir wahyu transformatif adalah mencoba "menelanjangi" dan menyusun sebuah kerangka metodologis gerakan umat Islam yang membela kaum duafa. Tafsir wahyu transformatif telah dikerjakan oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang membebaskan penderitaan masyarakat dari kebodohan dengan mendirikan sekolah atau tempat pendidikan.

KH Ahmad Dahlan telah membebaskan masyarakat dari kesengsaraan pengobatan sehingga mendirikan balai Penolong Kesengsaraan Omoem (PKO) Muhammadiyah, yakni memberikan pelayanan pada masyarakat miskin dan tertindas.  PKO adalah bentuk paling nyata gerakan KH Ahmad Dahlan membela kaum miskin, penyakit kemiskinan, dan penyakit sosial lain seperti yatim piatu.

Kesalehan transformatif, karena itu, adalah sebuah gagasan yang keluar dari refleksi teologis yang didasarkan pada realitas sosial yang menindas atas sesama umat Islam. Oleh karena itu, penyelesaiannya adalah membuat satu alternatif keber-Islam-an yang dapat menggeser ketidakadilan menjadi lebih adil dalam kerangka mengamalkan "Wahyu Langit" menjadi "Wahyu Bumi".  "Wahyu Langit" adalah wahyu yang suci dengan sekian banyak nilai. Sementara "Wahyu Bumi" adalah praksis keber-Islam-an yang benar-benar mampu mengubah kondisi kemungkaran sosial menjadi kesalehan sosial.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi kaum Muslim....