Jumat, 17 Juni 2016

Muhammad Ali

Muhammad Ali

Sarlito Wirawan Sarwono ;  Guru Besar Psikologi UI; 
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI
                                                   KORAN SINDO, 12 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada 1970-an hanya ada dua peristiwa yang mampu membuat Jakarta lengang seperti musim Lebaran, yaitu pertandingan bulutangkis final All England atau Thomas Cup (Indonesia selalu jadi juara) dan pertandingan tinju Muhammad Ali.

Muhammad Ali wafat pada 3 Juni 2016 dalam usia 74 tahun. Walaupun pernah kencing darah karena ginjalnya kena pukulan berkali-kali dan menderita Parkinson akibat otaknya dihajar terus-menerus, usia Ali lebih panjang dari usia harapan orang Indonesia yang hanya 70,76 tahun, terutama penduduk laki-lakinya yang hanya 68,3 tahun.

Walaupun “anak” sekarang yang berusia 40 tahunan ke bawah tidak terlalu kenal siapa Muhammad Ali yang sebenarnya, orang-orang yang sekarang berumur 50 tahun ke atas tentu masih ingat ketika Muhammad Ali bertanding di Indonesia melawan juara kelas berat Belanda, Rudi Lubbers, pada 20 Oktober 1973 di Gelora Bung Karno, Senayan.

Waktu itu, dengan tiket masuk termahal (Ringside A) Rp27.500 (US65,00 atau sekitar Rp850,000 dalam nilai rupiah yang sekarang) dan termurah Rp1.000, penonton bisa menyaksikan bagaimana Ali mematahkan hidung Lubbers dalam pertandingan 12 ronde yang seru. Sesudah itu, Muhammad Ali pernah beberapa kali lagi datang ke Indonesia (yang terakhir 23 Oktober 1996) dan menjadi idola orang Indonesia, bukan hanya karena dia petinju yang hampir tak terkalahkan, tetapi karena Ali beragama Islam.

Walau begitu, Ali bukan malaikat. Ia menikah tiga kali. Pernikahan pertama dengan istri pertamanya, Sonji Roi (1964), hanya bertahan dua tahun karena Ali keberatan atas busana Sonji yang tidak islami. Perkawinan keduanya dengan Belinda Boyd (1967), dikaruniai tiga anak, tetapi juga harus berakhir setelah 10 tahun (1977) karena Belinda memergoki Ali sedang selingkuh dengan Veronica Porche Anderson, yang kemudian menjadi istri ketiga Ali (1977), dikaruniai dua putri dan tetap menjadi istrinya sampai akhir hayat Ali.

Muhammad Ali mungkin bukan contoh yang baik untuk perkawinan seperti yang diidealkan orang Indonesia. Bahkan semasa Bu Tien Soeharto masih menjadi ibu negara, pernah terbit PP 10/1983 yang melarang semua PNS dan anggota TNI/Polri untuk berpoligami. Hasilnya memang Pak Harto tidak berpoligami, tetapi tetap banyak menterinya dan pejabat tinggi lainnya yang diam-diam berpoligami.

Dalam hubungan ini Ali masih lebih baik karena walaupun pernah beristri sampai tiga orang, tetapi dijalaninya dengan sistem seri (satu mengikuti yang lain), bukan sistem paralel (beberapa istri sekaligus) sehingga Ali tidak pernah berpoligami. Namun, yang mungkin paling dikenang dari Ali sekitar 1970-an itu adalah sikap heroismenya untuk menolak wajib militer.

Kita tahu bahwa masa itu sedang terjadi perang Vietnam, yaitu perang yang melibatkan Amerika Serikat, yang menyebabkan AS mewajib-militerkan pemuda-pemuda Amerika untuk dikirimkan ke garis depan di Vietnam. Sebagai warga negara AS yang bernasionalisme tinggi, seharusnya Ali memenuhi panggilan wamil itu, tetapi dia justru berseru (saya terjemahkan bebas), “Tidak, saya tidak mau terbang 10.000 mil dari rumah hanya untuk membunuh dan membakar bangsa lain yang miskin dan untuk meneruskan dominasi kulit putih pedagang budak terhadap bangsa-bangsa lain yang berkulit lebih gelap di mana pun di seluruh dunia.”

Selanjutnya dia mengatakan, “Musuh kita yang sejati ada di sini (di AS). Saya tidak akan mengkhianati agama saya, rakyat saya, dan diri saya sendiri dengan cara menjadi budak mereka yang mencari keadilan, kebebasan, dan persamaan hanya untuk kepentingannya sendiri. Kalau saya yakin bahwa perang ini akan membebaskan dan menyamakan hak 22 juta rakyat saya, tidak usah dipanggil, besok pun saya akan datang sendiri untuk mendaftar wamil. Saya tidak rugi apa-apa untuk membela keyakinan saya. Mau dipenjara? Silakan. Rakyat kami sudah dipenjara selama 400 tahun.”

Inilah yang disebut integritas kepribadian yang sesungguhnya! Sama sekali tidak ada kaitannya dengan Pakta Integritas yang mana pun.

Tanpa banyak cing-cong, apalagi upacara pakta atau bahkan sumpah pocong, Muhammad Ali menunjukkan kepada siapa dia berpihak, yaitu kepada rakyat sendiri (minoritas kulit hitam Amerika Serikat, yang telah empat abad dijajah oleh pemerintah kulit putih yang “thogut “ atau kejam serta tidak adil) dan kepada agamanya sendiri.

Memang awalnya, pada 1964, ketika pertama kali masuk Islam, Ali yang aslinya bernama Cassius Clay Junior bergabung dengan Nation of Islam (sejenis Negara Islam) yang kontroversial dan antikulit putih, tetapi perkenalannya dengan Malcolm X (tokoh pejuang kulit hitam) menyadarkannya bahwa Islam tidak mengajarkan rasialisme. Ini kutipan ucapannya, “Membenci orang-orang karena warna kulit mereka adalah salah. Dan, tidak masalah warna kulit apa yang membenci. Perbuatan ini benar-benar salah.”

Maka, pada 1974 ia bergabung dengan Jamaah Sunni (seperti kita, Islam Indonesia) yang toleran dan pada masa-masa akhir hayatnya Muhammad Ali menyesalkan kekerasan yang mengatasnamakan agama Islam, “Apa yang benar-benar merisaukan saya adalah bahwa nama Islam dilibatkan, dan sebagian muslim adalah pelakunya yang memantik persoalan dan memicu kebencian dan kekerasan. Islam bukan agama pembunuh. Islam berarti damai. Saya tidak bisa hanya duduk-duduk di rumah dan menonton orang melabelkan muslim sebagai penyebab dari problem ini.”

Tiga nilai utama dari Revolusi Mental yang digagas Presiden Jokowi adalah integritas, etos kerja, dan gotong-royong. Yang pertama dari tiga yang utama itu adalah integritas. Muhammad Ali adalah salah
satu pribadi rujukan bagi yang ingin tahu seperti apa sih orang yang punya integritas itu?