Senin, 20 Juni 2016

Kulit Bawang Identitas

Kulit Bawang Identitas

Zen RS ;   Novelis; Penulis Traffic Blues dan Jalan Lain ke Tulehu
                                                       JAWA POS, 19 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DENGAN identitas apakah Omar Mateen sebaiknya disebut? Jawaban atas pertanyaan itu akan melahirkan rentetan konsekuensi yang lain. Jika disebut muslim, dia akan dilekati atribusi: teroris. Jika dianggap warga Amerika, boleh jadi dia hanya disebut sakit jiwa.

Omar Mateen adalah pelaku penembakan yang menewaskan puluhan orang pengunjung kelab gay di Orlando, Amerika Serikat. Orang tua Omar berasal dari Afghanistan. Orang tuanya beragama Islam –begitu juga Omar. Namun, Omar lahir di New York dan tumbuh sebagai anak serta menjadi manusia dewasa di Amerika. Dia mencicipi dan sedikit banyak dibentuk oleh (jenjang) sistem pendidikan di Amerika.

Omar tentu bisa disebut sebagai orang Afghanistan, setidaknya karena orang tuanya memang tulen berasal dari sana. Omar juga bisa disebut sebagai muslim karena dia memang memeluk Islam. Namun, Omar sangat wajar juga jika dianggap sebagai warga Amerika. Selain lahir dan besar di Amerika, dia memang berpaspor Amerika. Sebagai warga Afghanistan, muslim, atau Amerika, semua itu mungkin dan sah.

Lalu, identitas manakah yang paling mewakili Omar?

Kemungkinan akan ada banyak jawaban atau justru tidak ada jawaban sama sekali. Sebab, apa pun jawaban yang diberikan, hampir pasti jawaban tersebut memberangus sisi Omar yang lain –menyangkalnya, menihilkannya. Pertanyaan di atas hanya mungkin dijawab dengan meyakinkan dalam perspektif yang memandang identitas sebagai sesuatu yang tunggal, solid, tak terbagi.

 Masalahnya, identitas hampir selalu bersifat jamak, plural, beraneka. Tidak ada orang yang sepenuhnya beridentitas tunggal. Masing-masing di antara kita terdiri atas berlapis-lapis identitas. Seseorang bisa menjadi muslim, namun saat yang sama juga merupakan seorang laki-laki, seorang Jawa, seorang Marxis, atau seorang gay. Sekaligus juga penggemar Persebaya sekaligus Liverpool, pemuja Pramoedya Ananta Toer dan Maxim Gorky, hingga seorang berkulit cokelat dan berambut keriting.

Mengikuti klasifikasi Amin Maalouf, secara garis besar identitas terbagi dua: (warisan) vertikal dan horizontal. Warisan vertikal adalah identitas yang tidak bisa dipilih (misalnya, jenis kelamin dan ras) –pendeknya primordial, alami, tak tertampik. Namun, identitas horizontal bisa dipilih secara sadar dan mana suka. Misalnya, fans Man United atau Liverpool, Teman Ahok atau Lawan Ahok, dan jadi anggota geng motor atau komunitas fotografi.

Ketika salah satu identitas menguat dan mengatasi identitas yang lain, itulah ’’situasi’’ yang disebut sebagai politik identitas. Saya menyebut itu ’’situasi’’ karena politik identitas hampir selalu muncul dalam konteks tertentu. Bukan hadir mak mbedunduk alias sekonyong-konyong. Sebuah konteks, entah itu politik atau ekonomi atau sosial atau yang lain, akan membuat salah satu di antara aneka identitas menguat dan melejit ke permukaan.

Dalam konteks Ambon pada 1999, sudah pasti identitas muslim atau Kristen yang akan mencuat. Dalam konteks pertandingan sepak bola di Tambaksari, tidak penting lagi muslim atau Kristen karena yang pokok adalah Bonek atau Aremania.

Di Afrika Selatan pada masa apartheid, warna kulit jelas menjadi hal yang menentukan. Namun, di Rwanda, warna kulit sudah tidak penting lagi karena yang menentukan (sekaligus mematikan) adalah seseorang itu (etnis) Hutu atau Tutsi.

Menjadi perempuan di Jerman sangat mungkin tidak berdampak, namun menjadi perempuan di Afghanistan pada masa kekuasaan Taliban jelas akan sangat menentukan nasib. Pada 2012, di Jakarta, tidak penting identitas anggota Gerindra atau PDIP. Namun, hal itu bisa amat memengaruhi silaturahmi pada 2014.

Padahal, sangat mungkin dalam situasi yang lain, sebagai contoh, seorang Hutu dan Tutsi bisa berbagi kopi karena sama-sama menyukai Barcelona atau sama-sama menggemari novelnya Chinua Achebe. Di luar stadion, seorang Bonek dan Aremania mungkin saja akan jejingkrakan bareng mendengar rima ’’Barisan Nisan’’ karena sama-sama menggemari Homicide.

Politik identitas sering tidak terhindarkan karena, sekali lagi, seseorang kadang-kadang tidak bisa memilih situasi. Tiba-tiba saja sebuah konteks politik datang menyergap dan memaksa satu sama lain menegaskan diri ke mana menghadap dan ke mana pula berpihak.

Namun, semoga lah kita masih bisa menarik napas dalam-dalam, mengambil jeda beberapa waktu, agar bisa melihat dan akhirnya menyadari satu hal penting: mungkin saja seseorang yang menjadi lawan sebenarnya punya lebih banyak persamaan dengan kita daripada perbedaannya. Entah itu persamaan etnis, ras, warna kulit, agama, hobi, profesi, band/klub/pengarang favorit, atau persamaan-persamaan yang lain.

Sebab, identitas boleh jadi bukan ’’jati diri’’, yang mengandaikan seakan-akan ada inti yang ajek di dalam diri masing-masing. Seakan-akan ada diri yang sak jati ning diri. Kemungkinan seperti mengupas bawang: ketika kulitnya dikelupas satu demi satu, pada akhirnya tak ditemukan satu pun biji.

Jadi, siapakah Omar Mateen? Muslim? Seorang (Keturunan) Afghanistan? Warga Amerika? Atau bahkan, seperti ditengarai banyak pihak, sebagai gay?