Senin, 04 April 2016

Transformasi PT Islam

Transformasi PT Islam

Amich Alhumami ;  Antropolog, bekerja di Kementerian PPN/Bappenas
                                                    REPUBLIKA, 21 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam wacana publik, sangat sedikit ahli dan pengamat yang mengulas tema perguruan tinggi Islam. Padahal, perguruan tinggi Islam berperan penting dalam memajukan masyarakat dan berkontribusi besar dalam pembangunan bangsa. Salah satu sumbangan sangat berharga perguruan tinggi Islam adalah memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat Islam, yang menghasilkan orang-orang terpelajar yang menjelma menjadi kelompok kelas menengah terdidik.

Kalangan terdidik dari kelas menengah Muslim ini telah membentuk suatu lapisan sosial baru, yang memainkan peran sentral dalam proses transformasi sosial-budaya. Mereka menjadi penggerak utama perubahan dan penyuara ide-ide pembaruan untuk mencapai kemajuan dan kemodernan.

Transformasi kelembagaan

Peran perguruan tinggi Islam dalam upaya memajukan masyarakat Indonesia bisa dilacak sejak awal kemerdekaan tahun 1950-an, ketika lembaga pendidikan tinggi Islam mulai didirikan, seperti sekolah tinggi Islam (STI), perguruan tinggi agama Islam negeri (PTAIN), dan akademi dinas ilmu agama (ADIA). Berbagai bentuk perguruan tinggi Islam ini selanjutnya berkembang menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang kemudian mengalami kemajuan sangat pesat sebagai institusi pendidikan tinggi modern.

Transformasi IAIN menjadi UIN memiliki makna penting dalam konteks 
perkuatan lembaga pendidikan tinggi Islam. Transformasi kelembagaan ini bertujuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat untuk memperoleh layanan pendidikan tinggi bermutu melalui pengembangan bidang-bidang keilmuan selain Dirasah Islamiyah. Setelah mengalami transformasi kelembagaan, UIN kemudian mengembangkan program-program studi umum: sains dan teknologi, yang mencakup fisika, kimia, biologi, matematika, farmasi, teknik, bahkan kedokteran dan kesehatan masyarakat.

Perkembangan mutakhir ini sesungguhnya merupakan ikhtiar perguruan tinggi Islam untuk merespons tantangan kemodernan, yang menuntut tersedianya sarjana-sarjana yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknikal. Dengan mengembangkan sains dan teknologi, perguruan tinggi Islam sejatinya sedang berikhtiar untuk menemukan kembali jangkar keilmuan yang pernah menandai masa keemasan Islam pada abad-abad silam.

Sejarah mencatat, antara abad ke-8 sampai ke-15, dunia Islam berhasil mengukir prestasi gemilang dalam pengembangan sains, teknologi, dan filsafat, yang membawa pengaruh besar pada munculnya zaman pencerahan di Eropa. Pada masa-masa tersebut, para ilmuwan Muslim berhasil membangun tradisi intelektual dan mendominasi hampir semua cabang ilmu pengetahuan.

Bahkan, masyarakat Barat berutang kepada ilmuwan Muslim yang telah menerjemahkan ke dalam bahasa Arab karya-karya para pemikir Yunani kuno di bidang sains dan filsafat, yang kemudian diadopsi bangsa Barat. Saksikan, melalui dunia Islam bangsa Eropa mendapat akses untuk mengembangkan ilmu pengetahuan modern.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi Islam mempunyai tanggung jawab besar untuk menemukan kembali spirit pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta memelihara dan menumbuhkembangkan warisan intelektual berupa karya-karya ilmiah dari para ilmuwan Muslim terdahulu.

Integrasi bidang ilmu

Kita perlu mengapresiasi inisiatif UIN untuk membuka program studi umum dan menawarkan bidang keilmuan di luar kajian ilmu-ilmu keislaman, seperti sains dan keteknikan. Namun, untuk mendukung upaya pengembangan program studi umum tersebut, UIN harus memperkuat kapasitas kelembagaan sejalan dengan perluasan mandat dalam pengembangan keilmuan. Dalam perspektif demikian, UIN memiliki posisi penting dan strategis yang berperan mengintegrasikan bidang keilmuan umum (sains dan teknologi) dan ilmu-ilmu keislaman. Dengan demikian, salah paham atau pandangan keliru yang selama ini berkembang di masyarakat mengenai adanya pemisahan antara kedua bidang keilmuan tersebut secara perlahan dapat dihapuskan.

Untuk itu, UIN harus menjadi pelopor lahirnya ilmuwan-ilmuwan baru yang mempunyai wawasan komprehensif dan integral, bahwa ilmu pengetahuan sejatinya tidak bisa dipilah antara "ilmu sekuler" yang berada di bawah otoritas perguruan tinggi umum dan "ilmu Islam" yang berada di bawah otoritas perguruan tinggi Islam. UIN diharapkan mampu mengintegrasikan bidang-bidang keilmuan tersebut, sehingga tidak ada lagi dikotomi antara keduanya. Lebih dari itu, UIN harus dikembangkan menjadi universitas berkelas dan unggul (center of excellence) sekaligus pusat pengembangan ilmu pengeta huan dan teknologi, yang menjadi basis pembangunan peradaban bangsa.

Tiga kategori peran

Seiring makin berkembangnya lembaga pendidikan tinggi Islam, pemerintah seyogianya terus mendorong agar IAIN dan UIN tumbuh kembang dengan baik sehingga dapat berperan maksimal dalam pembangunan bangsa. Pemerintah dapat menaruh harapan pada perguruan tinggi Islam paling kurang untuk tiga hal. Pertama, menjadi institusi transmisi ilmu pengetahuan dengan memadukan lmu-ilmu keislaman, sains, dan teknologi, yang memberi manfaat bagi masyarakat dan mendorong kemajuan bangsa.

Kedua, menjadi ujung tombak gerakan pembaruan pemikiran Islam sebagai respons atas dinamika modernisasi, dengan tetap berpijak pada tradisi dan khazanah pemikiran Islam klasik, seperti anjuran ulama salaf:al-mukhafadhatu ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah. Kaidah fikih ini bermakna: memelihara tradisi lama yang baik, mengambil pemikiran baru yang lebih baik.

Ketiga, menjadi lembaga perantara atau makelar budaya (center of excellence) guna memandu masyarakat menyongsong perubahan sosial-budaya agar tetap berada dalam bingkai Islam. Dengan demikian, masyarakat Muslim dapat mengapresiasi modernitas zaman tanpa harus kehilangan identitas keislaman.

Untuk itu, Kementerian Agama yang menaungi UIN-IAIN dituntut bekerja lebih keras lagi dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi Islam. Sumbangan terpenting kepada bangsa adalah ketika perguruan tinggi Islam mampu melahirkan sarjana-sarjana berkualitas sehingga dapat menjadi modal dasar pembangunan nasional.

Kita semua memberi penghargaan yang tinggi atas sumbangan besar perguruan tinggi Islam dalam membangun pendidikan bagi masyarakat, dengan memberi perhatian pada penguatan nilai dan budaya Islam, serta pendalaman ilmu-ilmu keislaman. Sungguh, masyarakat Muslim perlu memelihara warisan ilmu-ilmu keislaman yang demikian kaya untuk dikembangkan menjadi identitas khas bagi perguruan tinggi Islam.

Seluruh pemangku kepentingan perlu merespons tuntutan masyarakat untuk membangun perguruan tinggi Islam, yang bukan saja kuat di bidang kajian keislaman, tetapi mampu mengembangkan sains dan teknologi untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang maju, modern, dan bermartabat.