Selasa, 12 April 2016

Pujangga

Pujangga

Putu Setia ;   Pengarang; Wartawan Senior TEMPO
                                                  KORAN TEMPO, 09 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberikan semacam beasiswa bagi para penulis untuk menghasilkan karyanya. Menurut Menteri Anies Baswedan, caranya dengan memberikan tunjangan hidup kepada para penulis dalam jangka waktu tertentu agar mereka berkonsentrasi menulis. Bisa dikirim ke luar negeri, tempat yang merangsang mereka untuk kreatif, termasuk melakukan riset.

Saya teringat akan sebuah pertemuan pada 1970-an. Ada Made Sanggra, pengawi (pengarang berbahasa Bali); dan ada Gerson Poyk, sastrawan Indonesia. Made Sanggra sudah menerbitkan sendiri kumpulan puisi dan cerita pendek dalam bahasa Bali, meski sangat sederhana. Salah satu cerita pendeknya, berjudul Ketemu Ring Tampaksiring, mendapat penghargaan dari Majelis Pertimbangan Kebudayaan Bali. Made Sanggra berkata: "Kalau saja pengawi hidupnya seperti pujangga di zaman Majapahit, pasti lahir karya sastra bermutu." Dia iri, pujangga di era Majapahit dibiayai hidupnya untuk menulis kekawin, sementara Made Sanggra menulis di sela-sela bertani.

Sastrawan Gerson Poyk, yang sudah menulis novel Sang Guru, mengangguk. "Beri saya uang untuk berkelana dan menulis, akan saya hadiahkan novel yang bagus. Bagaimana saya bisa menulis dengan konsentrasi kalau untuk makan minggu depan harus menulis dua atau tiga cerita pendek pesanan koran," katanya.

Tapi karya sastra tak pernah berhenti terbit, sampai hari ini. Pujangga masa kini terus berkarya dengan latar sejarah yang mungkin kelam. Ada Leila S. Chudori dengan Pulang, ada Laksmi Pamuncak dengan Amba, dua contoh saja. Mereka bernasib baik, setidaknya dibanding Made Sanggra dan Gerson Poyk. Mereka punya "bekal" untuk riset.

Juga bertebaran "pujangga" yang karyanya dengan mudah dijual lewat celotehan di media sosial. Tak semua penulis bisa memanfaatkan media sosial untuk berjualan, atau bisa jadi tidak mau karyanya dijajakan bagai menjual markobar—martabak produksi putra Jokowi. Karena itu, terobosan Menteri Anies Baswedan bagai angin surga.

Mpu Tantular, yang hidup di era Majapahit Raja Hayam Wuruk abad ke-14, diminta menulis karya yang bisa dijadikan sesuluh kerajaan. Lahirlah Kekawin Sutasoma yang di dalamnya terdapat "kata sakti": bhinneka tunggal ika—kata yang kini jadi sesanti negeri ini. Meski dibiayai hidupnya untuk menulis, pujangga ini tak terpengaruh oleh pesanan, bahkan nama yang dipakai, Tantular, artinya tak terpengaruh.

Tak cuma Tantular yang diberi "beasiswa" oleh Hayam Wuruk. Ada pujangga lain, Mpu Prapanca, yang kemudian melahirkan Kekawin Negarakertagama yang termasyhur itu. Kisah ini memang sejenis reportase kerajaan, namun dengan keindahan bahasa, kekawin dengan 98 pupuh (sajak bertembang) ini begitu indah, melampaui zamannya.

Di era sebelumnya, Kerajaan Kediri, lahir karya sastra yang sampai kini tak henti-henti dibaca dan ditembangkan. Misalnya Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa di era Raja Airlangga. Kresnayana karya Mpu Triguna di era Raja Jayabaya. Smaradahana karya Mpu Dharmaja pada masa Sri Kameswara. Juga "tafsir baru" dengan gaya bertembang tentang Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Tentu yang dahsyat adalah kisah Lubdaka yang diadaptasi Mpu Tanakung ke dalam masyarakat Jawa Hindu, yang sampai kini jadi rujukan di Bali.

Saya bermimpi Menteri Anies Baswedan juga melebarkan gagasan beasiswa ini dengan jemput bola kepada "pujangga bahasa daerah", jika kita percaya pelestarian bahasa dan sastra daerah memperkuat budaya nasional. Mereka tentu kalah bersaing jika diharuskan membuat proposal.