Selasa, 19 April 2016

OKI dan Manuver Saudi

OKI dan Manuver Saudi

Musthafa Abd Rahman ;   Wartawan KOMPAS, di Mesir Kairo
                                                        KOMPAS, 18 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sudah diduga, konflik sengit Iran-Arab Saudi saat ini akan mewarnai jalannya dan hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-13 Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki, yang telah berakhir Jumat (15/4) lalu. Deklarasi Istanbul, hasil KTT OKI itu, mencerminkan posisi hegemoni Arab Saudi saat ini di dunia Islam dan Arab.

Arab Saudi dengan kekayaannya akhir-akhir ini memang merancang memegang kendali dunia Arab dan Islam, untuk kemudian dikondisikan sebagai jaringan kekuatan melawan musuh bebuyutan regionalnya, Iran. Arab Saudi pun cukup berhasil mengooptasi panggung KTT OKI di Istanbul untuk kepentingan geopolitiknya tersebut.

Sedikitnya 5 dari 218 butir yang tertuang dalam Deklarasi Istanbul mengecam intervensi Iran dan Hezbollah di sejumlah negara Arab. Hal itu yang memaksa Presiden Hassan Rouhani dan delegasi Iran pada forum KTT OKI itu memilih walk out dari arena sidang ketika Deklarasi Istanbul hendak dibacakan.

Sebagian besar media massa di sejumlah negara Arab pro Arab Saudi edisi hari Sabtu lalu menurunkan berita utama berjudul "KTT OKI Kecam Intervensi Iran dan Hezbollah". Forum OKI pun sudah serta-merta seperti Liga Arab dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yang menjadi panggung untuk mengecam intervensi Iran dan Hezbollah. Bahkan, Liga Arab dan GCC pada awal Maret lalu telah menetapkan Hezbollah sebagai organisasi teroris.

Pemerintah Mesir menjelang kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Kairo, 7-11 April lalu, membatalkan sewa stasiun televisi Al-Manar milik Hezbollah atas satelit NileSat milik Mesir. Hal itu bisa menghentikan siaran televisi Al-Manar sebelum menemukan tempat sewa satelit baru.

Sungguh ironis, forum KTT OKI bukannya diberdayakan untuk ajang rekonsiliasi, tetapi dimanfaatkan oleh suatu negara untuk menggebuk negara lawan politiknya.

Turki, sebagai tuan rumah KTT OKI, tampak membiarkan aksi manuver Arab Saudi menggunakan forum KTT itu untuk menyerang Iran dan Hezbollah. Turki dan Arab Saudi kini memang berada dalam satu barisan dalam upaya menumbangkan rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah.

Sebaliknya, Iran dan Hezbollah berjuang mati-matian mempertahankan rezim Presiden Assad. Bahkan, milisi Hezbollah dan satuan pasukan elite Iran dari Brigade 65 kini sedang terlibat pertempuran sengit dengan milisi oposisi dukungan Turki dan Arab Saudi di Aleppo dan sekitarnya.

Karena itu, pertempuran di Aleppo ikut berandil besar pula dalam memengaruhi hasil KTT OKI tersebut. Jarak antara Istanbul dan Aleppo cukup dekat, bisa ditempuh hanya satu jam perjalanan dengan pesawat terbang, seperti jarak Jakarta-Surabaya. Maka, maklum saja, secara psikologis bunyi tembakan artileri dan serangan udara pesawat tempur di Aleppo cukup terasa di kota Istanbul.

Karena itu juga, lain Istanbul, lain pula Jakarta. Pemerintah Indonesia dalam forum KTT Luar Biasa OKI di Jakarta pada awal Maret lalu cukup berhasil menggiring KTT tersebut fokus membahas isu Palestina, sesuai dengan agenda. Arab Saudi tampak tidak bermain di KTT Luar Biasa OKI di Jakarta.

Namun, Pemerintah Indonesia tidak bisa lagi meletakkan isu Palestina menjadi perhatian utama dalam forum KTT OKI di Istanbul karena berhadapan dengan kepentingan negara besar di kawasan, yaitu Arab Saudi.

Maka dipertanyakan, masa depan nasib Deklarasi Jakarta yang dihasilkan KTT Luar Biasa OKI di Jakarta pasca keluarnya Deklarasi Istanbul. Deklarasi Jakarta adalah cermin dari kebijakan politik Indonesia. Adapun Deklarasi Istanbul adalah hasil manuver Arab Saudi yang didukung Turki.