Selasa, 05 April 2016

"Ngelmu Kancil"

"Ngelmu Kancil"

Indra Tranggono  ;   Pemerhati Kebudayaan;  Sastrawan
                                                        KOMPAS, 04 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Di dalam jagat cerita rakyat, kancil tak ubahnya pesohor. Dia  jagoan mengakali hewan lain dengan kemampuan akalnya. Karena itulah, dia mampu bertahan dan hidup mukti, mencapai kejayaan diri.

Kancil selalu berpenampilan ramah, manis, dan sopan. Ia pun supel sehingga banyak hewan senang bergaul dengannya.

Kelebihan lain, kancil mempunyai otak sangat encer, cerdas, dan mampu memproduksi ide-ide kreatif, terutama saat menghadapi persoalan. Lidahnya juga sangat terampil dalam memainkan logika dan makna kata dan kalimat. Hewan lain pun tersihir dan takluk.

Dalam setiap kali mengalami masalah,  kancil selalu punya ide cemerlang untuk menyelamatkan diri. Ketika tertangkap nyolong mentimun-dan akan disembelih oleh Pak Tani-kancil merayu, memprovokasi anjing untuk mau menggantikan posisinya. Dikatakan, dia akan dikawinkan dengan putri Pak Tani nan cantik.

Kontan si anjing bersedia. Kancil pun lolos. Melarikan diri. Dia tertawa mendengar jeritan anjing yang terkaing-kaing karena kepalanya dipalu Pak Tani.

Kisah tragis anjing hanyalah salah satu contoh dalam deretan korban akibat kelicikan sang kancil. Macan, gajah, dan hewan-hewan lain pun  pernah mencicipi keculasan kancil.

Saat sekolah dasar pada tahun 1970-an, saya mengenal kelicikan kancil dalam berbagai dongeng yang dimuat dalam buku bacaan wajib di sekolah. Tak jelas, apa motif Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu meloloskan dongeng itu sebagai bacaan wajib. Mungkin karena muatan lokalnya yang dianggap mengandung kearifan.

Mengidolai watak licik

Kearifan? Apakah mengajarkan anak untuk mengidolai kancil, dan menjadikan watak liciknya sebagai panutan itu arif? Tak ada protes, waktu itu. Dongeng kancilnya pun melenggang di benak jutaan anak-anak sekolah dasar di seantero negeri.

Hingga kini, dongeng kancil terus direproduksi melalui berbagai media. Misalnya  wayang (wayang kacil), langen carita (opera anak-anak), komik dan film animasi. Kancil juga muncul di kaus-kaus dengan teks yang berisi (tentang) pentingnya menyerap "ngelmu perkancilan" untuk melakukan "terobosan kreatif".

Disadari atau tidak, dongeng kancil telah turut ikut mendidik generasi bangsa kita. Kelicikan dan keculasan diartikan sama dengan kecerdasan. Tipu daya diidentikkan dengan kreativitas. Kebodohan orang lain bukannya diatasi, tetapi malah dianggap kelemahan yang harus dieksploitasi, dimanfaatkan.

Alhasil, keculasan (tidak lurus hati) dianggap sebagai keluhuran budi. Dan, ia pun melahirkan banyak korban dianggap sebagai prestasi.

Melawan "ngelmu" kancil

Ngelmu kancil bisa diartikan semesta pengetahuan dan kecakapan teknis untuk memengaruhi, mengelabui, dan melemahkan, serta menguasai pihak lain yang dijadikan korban. Kini, banyak orang dan lembaga menggunakan ngelmu kancil. Para anggota DPR layak disebut menggunakan ngelmu kancil ketika berniat melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui upaya untuk merevisi Undang-Undang KPK.

Sekilas, tujuan revisi itu terkesan baik agar KPK bisa menjadi lembaga yang menjunjung check and balances. Namun, secara esensial, revisi itu bertujuan menjadikan KPK tidak lebih dari sekadar macan ompong, macan sirkus, atau bahkan macan kertas yang tidak lagi powerful di dalam menerkam para tikus berbaju penyelenggara negara dan pemerintahan.

Artinya, DPR ingin mereduksi keberadaan KPK menjadi sekadar realitas simbolik, semacam aksesori kekuasaan. KPK hendak dibikin tampak ada, tetapi sesungguhnya tiada (baca kehilangan efektivitas peran dan fungsi). Tentu, jika KPK berhasil dilemahkan, yang keplok keras adalah kaum pengerat, pembobol kekayaan negara.  

Kini, "kawanan kancil"  yang berjumlah ribuan-bahkan mungkin jutaan-menguasai republik ini. Kaum kancil itu menggunakan ngelmu-nya untuk mengakali legislasi, regulasi, dan berbagai aturan agar bisa mendesakkan berbagai agenda kepentingannya. Ada yang didorong pertimbangan politik, ekonomi, ada pula karena pertimbangan sosial dan kultural.

Namun, inti semuanya sama: menjadikan negeri ini sebagai koloni kepentingan personal atau kelompok. Dengan ngelmu kancil plus uang dan kekuasaan, mereka ingin terus berkuasa. Tak peduli rakyat jadi korban.

Ngelmu kancil bisa dilawan dengan akal sehat, kecerdasan nurani dan  keberanian bertindak. Akal sehat menuntun kita pada kebenaran dan obyektivitas di dalam memahami realitas. Kecerdasan nurani memungkinkan kita untuk memberi bobot nilai dan makna atas pilihan tindakan. Dan, keberanian merupakan energi jiwa untuk memperjuangkan cita-cita ideal jadi kenyataan. Mari kita "bunuh" kancilisme!