Senin, 11 April 2016

Masyarakat Emosional dalam Pusaran Demokrasi Liberal

Masyarakat Emosional

dalam Pusaran Demokrasi Liberal

Fikri Suadu ;   Dosen Neuroscience dan Peneliti
pada Indonesia Brain Research Center (IBRC) Surya University
                                                   KORAN SINDO, 05 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Penilaian bahwa politik yang ada sekarang semakin dangkal dan demokrasi yang ada lebih bersifat prosedural dibandingkan semangatnya untuk pencapaian tujuan yang lebih substantif benar adanya. Bagi saya, ini bukanlah problem sederhana yang bisa diselesaikan dengan cepat karena berkaitan langsung dengan kesadaran dan paradigma berpikir masyarakat. Terlebih ketika diperhadapkan pada sebuah fakta bahwa pilihan politik sangat dipengaruhi oleh pertimbangan emosional dibandingkan pertimbangan rasional. Inilah mengapa dalam setiap pesta demokrasi kita disuguhkan banyak akrobat politik masyarakat.

Mulai dari pencitraan politik, konflik antara sesama pendukung kandidat, pembakaran kantor penyelenggara pemilu (KPU), hingga adu jotos dalam sengketa pilkada. Apalagi pada era demokrasi liberal yang konflik kepentingannya semakin luas dan akses ke kekuatan-kekuatan eksternal (pemilik modal) semakin terbuka, tidak hanya di level nasional, namun sampai ke tataran global.

Hal ini tentu saja semakin menyulitkan kita untuk melakukan upaya konsolidasi kekuatan politik nasional secara lebih serius, mengingat banyak intervensi kepentingan eksternal yang turut campur. Di samping itu juga, rendahnya kompetensi demokrasi dan komitmen sipil dalam masyarakat semakin menambah rumit berbagai masalah demokrasi saat ini.

Baik yang berkaitan dengan politik transaksional, kekerasan sipil, maupun konflik sosial dalam masyarakat. Hal ini tentu saja menjadi penghambat terpenuhinya realisasi kebebasan sipil sebagai cita-cita demokrasi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Otak Emosional dan Pikiran Politik

Otak sekali lagi merupakan organ terpenting bagi manusia. Ini karena otak merupakan perangkat yang berfungsi menentukan esensi seseorang sebagai manusia. Di samping itu, otak memainkan peranan penting dalam kemampuan survivalitas, pengaturan refleks, emosi, akal sehat, nalar berpikir, kesadaran, dan pengambilan keputusan. Salah satu bagian otak yang memainkan peranan penting dalam pengaturan emosi dan turut memengaruhi pengambilan keputusan adalah sistem limbik.

Sistem ini terdapat di area otak tengah. Dalam sudut pandang evolusi, sistem limbik merupakan bagian otak mamalia yang lebih tua dan bertanggung jawab atas cara binatang mengungkapkan dan merasakan emosinya. Dalam proses pengambilan keputusan dan menentukan pilihan, sistem limbik berperan sebagai faktor pendorong keinginan, emosi, dan gairah bagi korteks serebral yang terdapat di area otak depan manusia.

Ketika sistem limbik sangat aktif, kondisi pikiran akan sangat negatif dan reaktif sehingga mempermudah seseorang melakukan banyak kekeliruan akibat tergesa-gesa dan sangat emosional dalam mengambil keputusan. Demikian sebaliknya, ketika sistem limbik kurang aktif, kondisi pikiran umumnya lebih bersifat positif, kritis, dan logis.

Emosi berkaitan erat dengan ikatan atau hubungan, kenangan, pengakuan, dorongan hasrat atau motivasi, suka atau tidak suka, benci atau cinta, dan sebagainya. Pada konteks demokrasi, ketika seseorang terlibat secara emosional dengan salah satu kandidat, dalam konteks positif, orang tersebut akan melakukan pembenaran untuk menjustifikasi pembelaan emosional atas pilihannya tersebut.

Sebaliknya, ketika keterlibatan emosional tersebut dalam konteks negatif, orang tersebut akan melakukanpembenarandengan cara apa pun sebagai pembelaan atas ketidaksukaannya. Tak tanggung-tanggung, bisa dalam bentuk pengultusan, pembelaan buta, maupun pemujaan tanpa batas. Sebaliknya, jika sosok kandidat tersebut tidak disenangi, yang ada penghinaan, menjelek-jelekkan, fitnah, bahkan pengafiran.

Otak emosional hanya memberikan dua macam dorongan, pemihakan atau penolakan berupa justifikasi tanpa melibatkan nalar berpikir logis. Kita mungkin bisa mengakui bahwa kandidat A lebih baik, pantas, dan layak dibandingkan kandidat B, tapi ketika memori pikiran kita mengungkapkan bahwa kandidat A pernah mengkhianati kita, otak emosional kita akan memberikan pemihakan terhadap kandidat B.

Alam Pikir Emosional

Demokrasi neoliberal dicirikan dengan pemikiran yang menjunjung tinggi kesadaran, nalar logis, literal, universal, dan beranggapan bahwa emosi merupakan proses yang tidak rasional, tidak efektif, dan lemah dalam pengambilan keputusan yang sarat akan nilai moral tanggung jawab.

Inilah yang menjadi penyebab mengapa demokrasi neoliberal mengalami dan menghadapi banyak masalah ketika diterapkan di negara berkembang yang mayoritas perilaku politik dan demokrasi masyarakatnya masih reaktif emosional. Terlebih di Indonesia yang masyarakatnya masih mempercayai mitos, mistis, dan berbagai hal irasional lain.

Gejalanya bisa dilihat secara telanjang setiap kali masyarakat diperhadapkan pada momen politik dan pesta demokrasi. Seolah sikap dan perilaku seperti saling menghujat, mencaci maki, menjelekjelekkan, memfitnah, bahkan sampai mengafirkan antarpendukung kandidat telah merupakan sebuah kewajaran yang biasa saja dalam pentas politik.

Politik tampil tak ubahnya arena tinju yang menyuguhkan pertarungan adu gengsi, harga diri, kehormatan, identitas kelompok, dan berbagai atribut emosional lainnya. Para pendukung pun larut dalam euforia dengan keterlibatan emosional yang dalam. Kinerja otak mereka sepenuhnya berada di bawah kendali norepinefrin yang membuat mereka sepenuhnya terikat dengan pilihan sikap mereka.

Tak ada ruang kompromi terlebih negosiasi gagasan. Tak ada lagi pemikiran berkaitan dengan asas kepantasan dan kelayakan seorang kandidat untuk menjadi pemimpin. Akal sehat mereka sepenuhnya dikendalikan oleh kesenangan dan kecemasan untuk meraih kekuasaan politik semata. Yang terpenting kandidatnya menang dan mereka turut menjadi bagian “orang dekat” yang memiliki akses istimewa terhadap kekuasaan politik, birokrasi, dan pemerintahan.

Sebuah alam pikir yang sepenuhnya berorientasi kepuasan semata. Dalam perpaduan seperti yang telah dijelaskan, pencapaian cita-cita politik dan demokrasi secara lebih substantif tidak akan pernah mendapatkan kesempatan.