Minggu, 17 April 2016

Jalur Sutra Vs Jalur Rempah

Jalur Sutra Vs Jalur Rempah

Restu Gunawan ;   Sekjen Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI);
Saat ini bekerja di Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud
                                                        KOMPAS, 16 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Penamaan jalur sutra mengacu pada komoditas dagang antarpelabuhan yang dibawa oleh pedagang Tiongkok ke sejumlah wilayah, baik di Asia maupun Eropa. Dalam makna filosofis, jalur sutra juga bermakna hubungan antarpedagang yang sangat halus bagaikan sutra.

Kini, diplomasi melalui jalur sutra yang dilakukan oleh Tiongkok telah berhasil menghubungkan tautan historis ataupun ekonomi dengan negara-negara lain di dunia. Hal itu tidak terlepas dari upaya Pemerintah Tiongkok sejak dulu sampai sekarang untuk terus memopulerkan jalur sutra, baik dalam forum akademis di dalam negeri Tiongkok maupun forum-forum budaya dan ekonomi dunia. Dalam perdebatan akademis selama ini, jalur sutra dirasakan sangat besar perannya dalam menghubungkan satu peradaban dengan peradaban lainnya di dunia.

Mengacu pada fenomena Tiongkok tersebut, Indonesia sebenarnya mempunyai komoditas yang sangat penting dalam pembentukan peradaban dunia. Melalui jalur pelayaran rempah- rempah (maritime spice route), para pelaut di Nusantara telah berhasil pula menautkan hubungan budaya dan ekonomi di berbagai belahan dunia.

Dalam lintasan sejarah

Ada tiga komoditas penting jika menyebut rempah-rempah, yaitu cengkih (eugenia aromatica), pala (myristica fragrans) dan biji pala yang menarik minat bangsa-bangsa Eropa dan bangsa lainnya untuk datang ke Kepulauan Maluku. Dari semua rempah tersebut, cengkih-lah yang memilikiharga paling tinggi. Bangsa Tiongkok menggunakan cengkih antara lain untuk pengobatan dan untuk menyegarkan bau napas. Pada masa Dinasti Tang, cengkih digunakan untuk penyedap rasa makanan. Di Eropa,cengkih digunakan untuk pengobatan dan menambah nafsu makan, dan masih banyak kegunaan lain untuk diceritakan.

Rempah-rempah telah menghubungkan peradaban di Asia Tenggara hingga ke Timur Tengah sejak dahulu. Berdasarkan temuan arkeolog Giorgio Buccellati dan ahli botani purbakala Kathleen Galvin, bukti paling awal keberadaan cengkih di luar Maluku berasal dari sekitar 1700 sebelum Masehi (SM) di situs Mesopotamia, Terqa, Suriah. Kehadiran cengkih di rumah tangga kelas menengah di Suriah menunjukkan bahwa sejak zaman awal sudah terdapat kehadiran perdagangan jarak jauh untuk komoditas yang tidak tahan lama ini. Sementara itu, pada abad ke-3 SM, rempah sudah cukup dikenal di Tiongkok. Bahkan, kekaisaran Hanmemerintahkan bawahannya untuk mengunyah cengkih yang membuat napas menjadi segar dan wangi.

Hingga 500 tahun SM, perdagangan antara Romawi dan Yunani dengan India-Timur Jauh telah berlangsung sangat ramai. Selama lebih dari 500 tahun sejak pemerintahan Mark Anthony hingga Justian, masyarakat kolonial Romawi telah melakukan perdagangan dengan India.

Dalam perdagangan tersebut, berkarung-karung lada dibawa dari rumah-rumah menuju pasar. Emas yang diterima dari kapal-kapal sebagai penukar barang yang dijual dibawa ke pantai menggunakan tongkang dengan alunan musik dari gelombang laut tak pernah putus, sebagaimana dituliskan oleh penyair Tamil.

Rute kuno perdagangan rempah-rempah ini diawali dari Maluku (Ternate, Bacan, Jailolo, Tidore untuk cengkih; dan Banda untuk lada) kemudian menuju Malaka, India, Sri Lanka. Lalu ada yang masuk ke Teluk Persia, ke Babylonia, dan ke Eropa. Sementara jalur lainnya: dari India ke Laut Merah masuk Terusan Suez masa awal, ke Alexandria dan ke Romawi (Eropa).

Masa keemasan bagi perdagangan rempah-rempah dengan aktor pedagang pribumi (Indonesia) terjadi pada abad ke-14. Pada masa itu, kota-kota pesisir timur laut Pulau Jawa dengan para pedagang Tiongkok, Arab, dan Jawa menjadi pemain utama dalam jalur perdagangan internasional yang menghubungkan kepulauan rempah dengan dunia. Pelabuhan bongkar muat Malaka jadi pelabuhan utama pengumpulan dan distribusi cengkih dan rempah-rempah ke dunia lain dan punya kontribusi penting untuk kemakmuran Maluku.

Perkembangan cepat ini telah membiasakan orang Eropa tentang keajekan dalam mendapatkan rempah-rempah yang sangat diperlukan. Kondisi ini membuat orang-orang Eropa merasa terganggu karena Eropa jadi sangat bergantung pada pasokan rempah-rempah dari para pedagang Muslim. Keinginan bangsa Eropa untuk menghilangkan ketergantungan kepada pedagang Muslim dan mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah menjadi motivasi utamamereka untuk mencari jalur laut ke sumber utama penghasil rempah-rempah, yaitu Maluku.

Adalah Laksamana Portugal, Alfonso de Albuquerque, yang berkedudukan sebagai wakil raja Portugal di India yang merancang untuk menguasai jalur vital internasional. Usaha tersebut hampir sepenuhnya berhasil dengan menguasai Goa di pesisir India (1510), Malaka (1511), dan Hormuz (1515). Hanya Aden yang melawan kendali Portugal. Setelah periode inilah peran dari pedagang pribumi lambat tetapi pasti diambil alih oleh Portugal.

Lalu, setelah jalur rempah-rempah dan juga sumber utama penghasil rempah-rempah Maluku dikuasai oleh maskapai perdagangan VOC dan Belanda, periode selanjutnya adalah dunia perbudakan di Maluku tak bisa dihindarkan lagi. Pelabuhan-pelabuhan utama lambat laun dikuasai oleh pemerintah kolonial dan semua komoditas perdagangan dikendalikan oleh Belanda, termasuk rempah-rempah.

Ikon diplomasi budaya

Melihat kegemilangan pelaut-pelaut pribumi dengan rempah-rempah sebagai komoditasnya, maka sudah saatnya jalur pelayaran rempah-rempah dapat digunakan sebagai ikon diplomasi budaya untuk menyebarluaskan nilai-nilaiperadaban Indonesia di dunia internasional.
Jalur sutra dan jalur rempah-rempah sebenarnya tumbuh hampir bersamaan dalam pembentukan peradaban dunia. Meskipun sudah terlambat dibandingkan dengan jalur sutra (silk route), ada bagusnya untuk kita mulai. Perlu dibuat strategi untuk terus menyebarluaskan ke dunia internasional dan penyadaran bagi para pemangku kepentingan di dalam negeri.

Merujuk pada Tiongkok dengan jalur sutranya, bukan tidak mungkin jalur (budaya) rempah-rempah bisa dikembangkan menjadi komoditas ekonomi yang penting. Misalnya, dengan membuat jalur penerbangan, jalur pelayaran mengikuti rute jalur rempah-rempah, promosi kuliner, serta budaya lainnya yang berhubungan dengan produk budaya rempah-rempah.

Pada tataran lainnya perlu dilakukan penelitian lintas negara dan kawasan tentang pelabuhan-pelabuhan yang merupakan jalur rempah-rempah, lokakarya, dan seminar, ataupun muhibah budaya dengan melibatkan berbagai negara yang berkaitan dengan jalur rempah pada masa lalu. Sebab, pada kenyataannya jalinan yang terbentuk dari perdagangan rempah-rempah ini telah pula terajut dalam suatu nilai-nilai kehalusan pikiran dan hasil budaya yang halus dan hangat seperti pedasnya rasa rempah- rempah yang telah menyebar di Asia dan Eropa jauh sebelum milenium pertama.