Senin, 18 April 2016

Humor dan Kepantasan

Humor dan Kepantasan

Bre Redana ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                        KOMPAS, 17 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya sering membayangkan apa kira-kira yang dibayangkan oleh orang-orang yang ingin jadi pemimpin, jadi kepala daerah, jadi presiden. Dengan senyum malaikat ketika blusukan ke pasar, adakah mereka tengah membayangkan membikin pasar lebih baik, makanan lebih banyak, sekolah lebih bagus, rumah sakit lebih sehat, damai lebih dekat, cinta lebih murni, dan seterusnya?

Bukan saja pengalaman memimpin unit kerja terdiri atas lima-enam orang saja sudah pusing setengah mati, kalau kita percaya buah adalah hasil perbuatan menanam, adakah selama ini orang-orang tadi memperlihatkan krida untuk memperbaiki kehidupan rakyat banyak? Bukan untuk kehidupan diri sendiri dan keluarga? Sebenarnya yang kita tonton lebih mirip komedi badut-badut.

Mendadak jadi ingat lawakan Srimulat zaman dulu. Seolah semua serba ada, kepada para tamu, pelayan menawari mau minum apa: teh, kopi, cokelat, jus.... Para tamu menyebut pilihan masing-masing.

Mari ke restoran, tukas pelayan. Penonton gerrr....

Humor mencairkan ketegangan. Kita tahu apa yang ditawarkan oleh mereka yang ingin jadi pemimpin tak ubahnya seperti apa yang ditawarkan oleh pembantu dalam dagelan Srimulat. Ada anekdot, kelompok lucu Srimulat kemudian bubar karena kalah lucu dibandingkan tetangganya. Yang dimaksud tetangga adalah DPR.

Ya, sayang. Bagi generasi kini atau yang belum pernah berkesempatan menonton Srimulat di panggung, baik diketahui bahwa penampilan Srimulat di panggung agak berbeda dibandingkan di televisi seperti dikenal banyak orang.

Tahun 1980-an, mereka punya panggung di pulau di tengah danau buatan di Taman Ria Remaja Senayan, persis bersebelahan dengan Gedung DPR RI. Tiap malam, pentas mereka dipenuhi penonton. Pertunjukan dimulai dengan penampilan band Srimulat mengiringi penyanyi yang bergantian tampil. Setelah itu drama komedi babak pertama. Seusai babak pertama, layar panggung turun. Kembali penyanyi menghibur penonton, sementara di balik layar awak panggung menata dekorasi untuk babak kedua. Begitu persiapan beres, layar kembali dibuka, masuk babak kedua sampai pertunjukan berakhir sekitar pukul 22.00. Itulah masa emas panggung Srimulat.

Teguh (1926-1996), pemimpin Srimulat, memiliki doktrin terkenal mengenai makna humor, makna lucu: lucu itu aneh, aneh itu lucu. Contohnya: muncul penyanyi, bersarung, baju surjan Jawa compang-camping, gembel. Ia bermonolog, bercerita dulu dia pejuang. Mengiringi monolognya, pelan-pelan band membuka intro lagu. Si gembel menyanyikan lagu Deep Purple, "Soldier of Fortune". Penonton terpingkal-pingkal.

Entah dapat inspirasi dari mana, Teguh telah mewariskan suatu gagasan bahwa ironi kehidupan ini sendiri yang melahirkan humor. Persis ditampilkan karya-karya besar, bahkan Cervantes dengan Don Quixote sekalipun. Yang membikin karya tadi abadi adalah dari situ kita bisa becermin mengenai ketidakberesan manusia dan ketidakberesan hidup.

Selain rumusan mengenai lucu, Teguh secara ketat memberlakukan disiplin panggung, menyangkut mana boleh dan mana tidak boleh. Tanyalah pelawak eks Srimulat, Tarzan. Meski lucu, pelawak lelaki dilarang menyebut perempuan lawan main yang kebetulan berperan sebagai istri sebagai "itu kendaraan saya". Mereka dilarang melakukan dagelan esoterik, yang hanya lucu untuk kalangan mereka sendiri, serta sejumlah aturan dan pakem lain. Perempuan, apalagi yang kategori cantik (oh kenangan, pemain Srimulat dulu cantik-cantik), dilarang ikut melucu.

Kini, pakem dunia panggung seperti itu tak ada lagi. Tontonlah televisi kita kalau Anda masih tahan. Lawakan pembawa acara dan celotehan para pesohor terkesan tak mengenal aturan yang berhubungan dengan kepantasan. Kepantasan tidak hanya hilang dari panggung, tapi juga dari kehidupan sehari-hari.

Dikarenakan kesempatan sejarah bagi panggung pertunjukan rakyat, Srimulat kemudian gulung tikar. Jelas bukan karena kalah lucu dibandingkan tetangganya, DPR. Sebab, yang kelihatan lucu dari si tetangga itu sungguh juga sering di luar kepantasan.