Senin, 18 April 2016

ABG

ABG

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                   KORAN SINDO, 17 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Berikut ini kutipan dari sebuah berita di salah satu media sosial tanggal 7 April 2016. Awal kutipan: ”Siswi yang belakangan diketahui bernama SED itu adalah siswi salah satu SMA swasta, Medan.

Siswi ini memarahi polwan ketika hendak ditilang karena menggelar konvoi, Rabu (6/4/2016) kemarin seusai mengikuti ujian nasional. Saat diamankan polisi, penumpang mobil wanita cantik yang masih berseragam SMA marahmarah kepada Ipda Perida Panjaitan yang hendak menilang. ”Oke Bu, saya tidak mainmain ya, saya tandai Ibu. Saya anak AD,” katanya dengan menunjuk-nunjuk polwan tersebut (AD adalah nama seorang jenderal polisi). Ipda Perida hanya membalas katakata wanita cantik tersebut dengan kata, ”Ia....ia....ok ya...,” katanya.

Saat wartawan konfirmasi lagi, apakah ia benar anak Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen (Pol) AD, ia tidak menjawab, hanya diam dan menutup wajahnya. Seusai ribut-ribut, Ipda Perida membiarkan para siswi tersebut pergi. ”Kalian pulang ya, langsung ke rumah ya. Kami memang membubarkan konvoi anak sekolah, buat kalian juganya,” ucapnya. Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen (Pol) AD membantah siswi yang memarahi polwan Ipda Perida Panjaitan adalah putrinya.

”Anak saya tidak ada perempuan, yang diberitakan itu bukan anak saya. Tiga orang anak saya laki-laki dan tinggal di Jakarta semua,” kata AD ketika dikonfirmasi salah satu media online, Rabu (6/4/2016) malam. Akhir kutipan. Karena berita tersebut di atas, Instagram pribadi milik SED langsung mendapat kecaman dari netizen. Ada yang memberinya nasihat, tetapi kebanyakan memarahi, bahkan ada yang menuliskan kata-kata yang kurang sopan, pada-hal para pengecam itu juga tergolong baru saja melewati usia ABG (anak baru gede), alias mantan ABG dan baru memasuki usia remaja.

Hal ini menunjukkan betapa geramnya sesama mantan ABG di dunia maya terhadap rekannya yang bernama SED ini. Memang SED tidak sendiri. Selain mobil SED yang ditangkap polisi, masih banyak mobil lain dalam konvoi (namanya juga konvoi, pasti mobil SED tidak sendirian), sedangkan di mobil SED sendiri ada beberapa temannya yang sama-sama merayakan UN (ujian nasional).

Yang dirayakan pun tidak jelas apanya dari UN, karena mereka baru saja usai mengikutinya, bukan merayakan kelulusan dari UN. Pokoknya mereka asal berhura- hura saja dengan melawan semua aturan. Persis seperti semboyan hedonis abadi anak muda sejak zaman saya sendiri masih ABG, yaitu

”Muda hurahura, tua foya-foya, mati masuk surga!”, yang pada kesempatan lain dan oleh kelompok lain, bisa dilakukan dalam bentuk nongkrong sampai larut malam, atau ngetrek, sampai ikut geng motor dan sebagainya. Yang lebih positif pun ada, seperti membentuk kelompok-kelompok hobi, olahraga, musik, netizen dll, walaupun banyak di antaranya dalam format-format baru yang tidak dikenal oleh angkatan orang tua alias Angkatan Babe Gue (yang disingkat ”ABG” juga).

Memang Anak Baru Gede zaman sekarang (ABG-S) selalu kontroversi (bertolak belakang) jika berhadapan dengan Angkatan Babe Gue atau ABG zaman dulu (ABG-D), termasuk di dalamnya perlawanan terhadap norma-norma generasi tua.

Kisah Siti Nurbaya, misalnya, yang melawan adat Minang ketika dia akan dinikahkan paksa dengan Datuk Maringgih, saudagar tua bangka, si lintah darat (karena orang tua Siti Nurbaya banyak berutang pada Datuk Maringgih), dan lebih memilih Syamsul Bahri yang kebetulan perwira KNIL (tentara Belanda), adalah cerminan dari perlawanan generasi ABG-S melawan generasi orang tua mereka alias ABG-D saat itu.

Jadi secara teoretis, orang tidak perlu marah ketika SED (representasi ABG-S) marahmarah kepada Ipda Perida (representasi ABG-D). Tetapi nyatanya, berita itu telah memancing kemarahan ABG-S ataupun ABG-D zaman sekarang. Berarti masih ada nilai-nilai yang sama, yang diikuti emosi yang sama, yang berlaku antargenerasi. Nilai yang saya maksud adalah nilai harga diri dan menghormati orang lain, apalagi pada orang yang lebih tua.

Adegan SED memarahi Ipda Perida dianggap sangat tidak layak oleh generasi muda ataupun generasi yang lebih tua, apalagi adegan itu sempat ditayangkan juga di media-media massa (khususnya TV). Seandainya SED ketika melawan polisi adalah bagian dari kelompok massa yang sedang demo dihadang oleh pasukan polisi, maka sikap menentang yang seperti itu dianggap biasa untuk zaman sekarang.

Namun, SED melakukannya sebagai perorangan terhadap Ipda Perida yang juga seorang individu. Individu versus individu, yang satu ABG sekarang, yang satu lagi ABG zaman dulu, dan yang ABG-S berkata-kata sombong dan kurang ajar terhadap ABG-D yang selayaknya dihormati dan dihargai.

Harga diri kaum ABG-S yang menonton sikap SED yang sombong itu terhentak, mereka (yang diwakili oleh para netizen yang berkomentar terhadap Instagram SED) tidak mau dianggap generasi yang sombong, suka melecehkan, tidak menghargai generasi tua, termasuk melecehkan orang tua dengan cara mencatut namanya. Bukan gua banget deh pokoknya, kata kaum ABG-S dalam hatinya.

Sementara itu, ABG-D sendiri juga tidak senang ketika kehormatan dirinya yang terwakili oleh sosok Ipda Perida dihina habis-habisan seperti itu. Tetapi yang paling aneh adalah bahwa di zaman reformasi ini, masih ada mentalitas Orde Baru atau mentalitas feodal yang mengandalkan kekuasaan orang lain untuk mendapatkan pengaruh atas diri orang lain, yang masih melekat pada diri calon intelektual muda Indonesia.