|
Menyongsong Lebaran tahun ini
dibalut mendung berita ekonomi. Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2013 turun
menjadi di bawah 5 persen, pertama kali dalam 10 triwulan terakhir, dan
penurunan keempat kali berturut-turut sejak triwulan II-2012. Subsektor
pertanian pangan hanya tumbuh 0,78 persen tatkala permintaan bahan makanan
meningkat selama bulan puasa. Hal inilah yang tampaknya melambungkan harga
cabai dan bawang merah lebih dari 50 persen. Kenaikan harga juga terjadi untuk
beberapa jenis bahan makanan lain, seperti daging dan telur ayam ras, ikan,
serta daging sapi.
Peningkatan harga pangan selama
bulan puasa merupakan ritual tahunan, tetapi pemerintah tak kunjung piawai
membendungnya. Bahkan terkesan kian reaktif dan kalap seolah baru sekali ini
terjadi. Penambahan impor daging baru diupayakan setelah bulan puasa. Itu pun
yang diimpor daging beku, padahal kebanyakan konsumen rumah tangga terbiasa
dengan daging potong dari sapi lokal atau sapi bakalan impor.
Menteri Perdagangan terkaget-kaget
menyaksikan sendiri kenyataan ini di pasar. Daging sapi beku yang diimpor oleh
Bulog pun ternyata dijual dengan harga yang masih relatif tinggi, bukan Rp
75.000 di tingkat konsumen seperti yang dijanjikan oleh Bulog dan pemerintah
sebelumnya.
Kenaikan harga makanan menyumbang
separuh inflasi bulan Juli 3,29 persen (bulanan) sehingga laju inflasi
kumulatif bulanan pada tahun kalender 2013 yang baru 7 bulan sudah mencapai
6,75 persen. Adapun laju inflasi tahunan (indeks harga konsumen bulan Juli
tahun ini dibandingkan dengan bulan Juli tahun 2012) sudah mencapai 8,61
persen, jauh melebihi target pemerintah sebesar 7,2 persen ataupun perkiraan
Bank Indonesia (BI) dan sejumlah ekonom.
Tentu saja lonjakan inflasi juga
bersumber dari kenaikan harga BBM bersubsidi yang berdampak penuh pada bulan
Juli dan menimbulkan dampak lanjutan pada kenaikan ongkos angkutan sehingga
mendorong kenaikan harga-harga secara umum.
Sementara itu, data terbaru
perekonomian Amerika Serikat menunjukkan tambahan lapangan kerja baru di luar
sektor pertanian (farming) sebanyak 162.000. Walaupun angka ini lebih rendah
dari perkiraan, angka pengangguran turun dari 7,6 persen pada bulan Juni
menjadi 7,4 persen pada bulan Juli. Ditambah data pertumbuhan ekonomi AS pada
triwulan II-2013 yang lebih baik dari triwulan sebelumnya, masing-masing 1,7
persen dan 1,1 persen, membuat Bank Sentral AS (The Fed) sudah ancang-ancang memotong separuh penyuntikan
likuiditas ke dalam perekonomian mulai akhir tahun ini dan menghentikan total
pada pertengahan tahun 2014. Selama ini The
Fed dalam sebulan membeli mortgage-backed securities senilai 40
miliar dollar AS dan obligasi negara (Treasury
securities) 45 miliar dollar AS.
Perkembangan terakhir di dalam
negeri dan luar negeri itu bakal memperlambat arus masuk dana luar negeri,
bahkan harus mulai diantisipasi kemungkinan terburuk, yaitu arus modal balik
keluar. Dengan mempertimbangkan yang sudah terjadi dan kemungkinan ke depan, BI
boleh jadi menaikkan BI Rate lagi menuju aras 7 persen.
Sebelum kenaikan suku bunga kredit
sekalipun, laju investasi sudah melemah. Pertumbuhan investasi—yang diukur
berdasarkan pembentukan modal tetap bruto (PMTB)—terus-menerus melorot selama
empat triwulan berturut-turut hingga menjadi 4,7 persen pada triwulan II-2013,
hanya sekitar sepertiga dari laju pertumbuhan triwulan II-2012. Selama kurun
waktu 2009-2012, pertumbuhan investasi berkisar 8,5 persen hingga 9,8 persen.
Kinerja perdagangan luar negeri
juga tidak menggembirakan. Ekspor bulan Juni turun 1,4 miliar dollar AS dari
bulan Mei sehingga memperlebar defisit perdagangan pada semester I-2013 yang
sudah mencapai 3,3 miliar dollar AS atau hampir dua kali lipat dari defisit
sepanjang tahun 2012.
Impor BBM tetap menjadi momok.
Selama paruh pertama 2013 impor BBM sudah mencapai 14 miliar dollar AS,
membuatnya terus bertengger sebagai komoditas impor terbesar. Kondisi
perminyakan kian buruk karena ekspor minyak mentah justru turun tajam sebesar
21 persen pada bulan Juni dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Perlu dicatat,
sejak tahun ini Indonesia telah mengalami defisit perdagangan minyak mentah.
Produksi minyak mentah sudah lama turun, bahkan sejak tahun 2012 sudah menyeret
penurunan produksi minyak dan gas secara keseluruhan.
Pemburukan di hampir semua
indikator ekonomi tidak terjadi hanya menjelang Lebaran ini, tetapi sudah
berlangsung hampir dua tahun.
Seminggu ke depan kita rehat
sejenak dari kecenderungan pemburukan ekonomi. Berbagi rezeki untuk sanak
keluarga di kampung halaman. Melepas penat setelah berjibaku dengan kemacetan
parah di jalan.
Perekonomian di pedesaan akan lebih
semarak untuk bilangan minggu. Setelah itu lesu seperti sediakala. Para pemudik
kembali harus berjibaku di kota-kota besar dengan beban hidup yang semakin
mengimpit. Setidaknya puluhan ribu dari mereka bakal menghadapi ancaman
pemutusan hubungan kerja, seraya kenaikan harga kian menggerus daya beli
pekerja.
Ada baiknya sedia payung sebelum
hujan. Tambahan pendapatan menjelang Lebaran sebagian ditabung. Sekecil apa pun
pendapatan kita nanti sehabis Lebaran, sisihkanlah setidaknya 10 persen untuk
ditabung. Bagi yang memiliki lebih, investasikanlah dalam bentuk perangkat
finansial yang aman, semisal saham atau reksa dana.
Dengan tekad baru di hari fitri,
kita kembali bekerja dengan semangat baru, memacu produktivitas lebih tinggi.
Dengan kesadaran baru, menyisihkan sebagian hasil untuk ditabung agar kala
perekonomian ”paceklik” kita tak serta-merta terempas tanpa bantalan. Rakyat
terpaksa harus mencari selamat sendiri-sendiri karena negara belum kunjung
menghadirkan sistem jaminan sosial nasional semesta. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar