Kamis, 07 April 2016

Revolusi Industri 4.0 dan Transisi Ekonomi

Revolusi Industri 4.0 dan Transisi Ekonomi

Firmanzah ;   Rektor Universitas Paramadina;
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI
                                                  KORAN SINDO, 28 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Demonstrasi besar-besaran sopir taksi dan angkutan di Jakarta (22/03) semakin menyadarkan kita semua bahwa revolusi industri keempat atau 4.0 telah hadir lebih cepat dari dugaan kita semua. Tidak hanya di Indonesia, sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat juga mengalami hal serupa. Benturan antara pelaku industri konvensional dan pelaku usaha industri 4.0. Demonstrasi memprotes kehadiran taksi berbasis aplikasi terjadi di London, Paris, New York, Montreall, Budapest, Berlin, dan banyak kota besar lain di dunia. Revolusi industri 4.0 memicu transisi ekonomi dengan skala besar dan fundamental.

Dapat dipastikan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam 5-10 tahun ke depan akan mengubah secara radikal bagaimana doing-business dan bagaimana barang-jasa diproduksi dan dipasarkan. Dalam konteks connecting-generation, produsen dan konsumen akan dapat bertransaksi langsung dengan sangat efisien, andal, dan efektif tanpa membutuhkan jasa dan bisnis antara. Prinsip dasar revolusi industri 4.0 inilah yang diperkirakan merevolusi ekonomi saat ini dan masa depan. Bila kita melihat sedikit sejarah ke belakang, sebenarnya transisi ekonomi juga terjadi di setiap munculnya revolusi industri.

Revolusi industri 1.0 yang terjadi selepas penemuan mesin uap di abad ke-18 telah menghasilkan cara produksi yang lebih efisien dan efektif. Transisi ekonomi dari cara kerja berbasis tangan (handmade) menjadi berbasis mekanikal yang mampu menghasilkan produk dan jasa jauh lebih besar, lebih variatif, lebih presisi, dan lebih kompleks.

Sementara itu, revolusi industri 2.0 lebih menitikberatkan pengorganisasian kerja yang lebih ditopang pembagian unit kerja (division of labor) didukung dengan hadirnya sumber energi kelistrikan di abad ke-19. Kombinasi dari kedua hal itu adalah produksi-massal dapat dengan mudah dilakukan melalui standardisasi dan spesialisasi kerja di fasilitas produksi dan pabrikasi.

Dengan adanya sumber ketenagalistrikan, produksi di malam hari dimungkinkan untuk mengejar permintaan di pasar yang semakin meningkat tajam. Ternyata perkembangan ilmu pengetahuan di abadabad berikutnya menghasilkan lompatan teknologi yang luar biasa. Kemajuan dunia di bidang elektronik dan teknologi informasi (TI) telah menandai munculnya revolusi industri 3.0. Pada 1970-an proses produksi secara massal telah mampu dilakukan secara otomatis.

Pada tahun-tahun setelahnya pemanfaatan robot dalam proses produksi telah menggantikan manusia. Bahkan perkembangan di bidang teknologi artificial intelligent (AI) juga telah menjadi perdebatan hangat saat ini karena optimalisasi robotik dikhawatirkan benar-benar menggantikan fungsi manusia. Selama ini pemanfaatan robot dalam proses produksi telah digunakan di sejumlah fasilitas produksi mulai dari automotif, elektronik, dunia kedokteran, hingga aktivitas eksplorasi luar angkasa dan laut dalam.

Setelahnya, ketika kemajuan di bidang microchip dan internet telah menghadirkan smartphone yang terjangkau dipadu dengan biaya bandwith yang semakin murah, hadir revolusi industri baru, yaitu revolusi 4.0 yang sedang kita alami saat ini. Sebenarnya, sejumlah bisnis telah terkena dampak dari hadirnya revolusi industri 4.0. Misalnya saja, PT Pos yang dulunya sangat mengandalkan usaha jasa pengiriman surat terpaksa mentransformasi diri akibat revolusi industri 4.0.

Mengirim kabar, mengucapkan ulang tahun, selamat hari raya, dan berkomunikasi yang dulunya dilakukan melalui jasa PT Pos terganti dengan pengiriman pesan melalui perangkat telekomunikasi handphone. Hal ini membuat PT Pos kehilangan pendapatan yang cukup besar akibat volume jasa pengiriman surat turun tajam. Fenomena ini juga terjadi di seluruh dunia dan memaksa perusahaan serupa meredefinisi ulang bisnis mereka menjadi perusahaan penyedia jasa keuangan, jasa logistik, dan jasa pemanfaatan aset yang dimiliki di berbagai daerah.

Di bidang media, revolusi industri 4.0 mengubah secara radikal cara konsumen mendapatkan informasi. Mulai dari berbasis koran printing menjadi koran digital. Di dunia terdapat penurunan industri printing akibat menurunnya oplah koran dan majalah. Bahkan sejumlah koran legendaris seperti The Independent menghentikan penerbitan koran cetak. Beberapa terbitan majalah seperti Newsweek juga beralih ke versi digital.

Dunia perbankan dan jasa keuangan juga mulai mengalami transformasi secara radikal. Hadirnya internet-banking dan branchless-banking telah mengubah bagaimana manajemen perbankan-ritel dikelola. Tuntutan kehadiran kantor cabang tergantikan dengan hadirnya ATM dan keandalan sistem internet-banking. Banyak transaksi yang dilakukan oleh konsumen perbankan tanpa melalui kantor cabang. Bahkan saat ini istilah “brick” diganti dengan “click”.

Brick (batu bata) mencerminkan kantor cabang dan click merefleksikan akses cepat berbasis internet. Industri ritel juga mengalami transformasi mendasar menuju ke konsep online shopping. Tidak hanya di Indonesia, di banyak negara online shopping telah banyak menggerogoti pasar industri ritel konvensional. Selain itu, industri musik telah berubah radikal. Dari distribusi musik berbasis CD berubah menjadi digital. Era ini membuat banyak distributor yang gulung tikar karena beralihnya perilaku konsumen dari membeli CD ke membeli melalui download di sejumlah portal berbayar penyedia musik. Industri jasa perjalanan juga terkena dampak dari revolusi 4.0.

Semakin lama konsumen semakin mengandalkan pembelian tiket pesawat, kereta api, kapal laut, dan pemesanan kamar hotel berbasis digital. Sepertinya transisi radikal dan besar-besaran sedang terjadi dan membutuhkan antisipasi tidak hanya bagi pelaku usaha, tetapi juga pemerintah. Sulit membayangkan bagaimana transisi ini terjadi 5-10 tahun ke depan.

Memang revolusi industri 4.0 akan melahirkan peluang usaha baru. Namun korban dari revolusi industri 4.0 juga perlu diantisipasi. Terutama para pekerja yang selama ini menggantungkan diri pada usaha konvensional yang berisiko akan meredup dan hilang dengan hadirnya revolusi industri 4.0. Misalnya saja, sebuah pertanyaan besar apakah usaha seperti pusat ritel di Pasar Tanah Abang Jakarta, Pasar Turi Surabaya, Pasar Klewer Solo, dan di daerah lain masih bisa bertahan 5-10 tahun ke depan?

Jangan-jangan konsep pasar grosir yang selama ini kita kenal terganti dengan pasar digital yang mulai marak terjadi saat ini. Akan ke manakah para pedagang yang selama ini menggantungkan hidup dari jualan di pasar-pasar tradisional? Pertanyaan inilah yang perlu menjadi dasar bagi pemerintah untuk secepatnya merumuskan kebijakan antisipasi agar tidak muncul masalah sosial akibat hilangnya mata pencaharian.

Transisi ekonomi tidak hanya mendukung hadirnya start-up atau technopreneur, melainkan juga memikirkan bagaimana tenaga kerja yang tergusurtergusur akibat kalah bersaing dalam revolusi industri 4.0. Terlebih salah satu ciri khas revolusi industri 4.0 relatif pada modal (capital intensive), padat teknologi (technology intensive) serta tidak padat karya (labor intensive).

Sementara situasi Indonesia saat ini masih membutuhkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan yang semakin sulit untuk diturunkan jumlahnya. Hal inilah yang menjadi tantangan di transisi ekonomi, terutama di sektor ketenagakerjaan di Indonesia.

Masingmasing pihak perlu secara dingin dan tenang merumuskan hal ini agar transisi ekonomi di era revolusi 4.0 terjadi secara baik dan tidak berujung pada konflik horizontal antara tenaga kerja di industri-konvensional dan tenaga kerja di industri-berbasis-digital.