Jumat, 08 April 2016

Bahaya Laten Isu Rasis

Bahaya Laten Isu Rasis

Asmadji As Muchtar ;   Wakil Rektor III Universitas Sains Alquran
Wonosobo, Jawa Tengah
                                                       JAWA POS, 06 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

TERKAIT proses pilkada DKI Jakarta, bermunculan isu rasis yang sudah tentu berpotensi membuka luka lama. Trauma pun bisa kambuh lagi bagi korban tragedi kerusuhan yang pernah terjadi. Hal ini sangat disayangkan. Sebab, seharusnya segenap masyarakat DKI Jakarta bisa menjadi teladan yang baik bagi proses demokrasi yang sedang berkembang di negeri ini.

Jika proses demokrasi di DKI Jakarta sampai ternoda oleh masalah rasis, efek dominonya bisa meluas ke daerah-daerah lain. Jika ditamsilkan, DKI Jakarta bagaikan lokomotif yang bergerak terdepan, sedangkan daerah-daerah lain ibarat gerbong-gerbong yang bergerak mengikuti lokomotif. Jika lokomotif terperosok, seluruh gerbong bisa ikut-ikutan terperosok.

Dalam proses demokrasi, layak diingatkan bahwa isu rasis bisa menjadi bumerang. Artinya, bisa berbalik arah dan menghantam telak pihak yang melemparkannya. Alih-alih ingin mendapatkan simpati rakyat dengan melemparkan isu rasis, justru rakyat akan semakin antipati. Sebab, logika rakyat selalu mengutamakan keamanan dan kenyamanan tanpa terusik masalah rasis.

Dengan kata lain, rakyat akan mendukung kandidat yang rentan menjadi korban isu rasis daripada mendukung kandidat yang suka melemparkan isu rasis. Sebab, jika sampai terjadi kerusuhan beraroma rasis, rakyatlah yang paling menderita dibanding elite politik dan elite ekonomi.

Cukup Cerdas

Kini masyarakat Indonesia, terutama yang ada di DKI Jakarta, sudah cukup cerdas dalam menyikapi berbagai isu. Mereka pun tentu tidak mudah memercayai isu rasis. Karena itu, jika masih ada pihak yang mempermainkan mereka dengan isu rasis, tentu mereka akan semakin antipati.

Bagi masyarakat DKI Jakarta yang cukup cerdas, tentu mereka juga sudah mahir memakai logika, termasuk logika politik. Misalnya, mereka kini sangat mengerti bahwa isu rasis sengaja diembuskan pihak yang ingin menyudutkan etnis tertentu dan jika terjadi kerusuhan berharap akan mendapat keuntungan politik. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kemanusiaan dalam arti luas.

Isu rasis pasti sengaja dilemparkan untuk menikam lawan politik. Maka, sangat mungkin masyarakat yang cukup cerdas justru akan semakin simpati kepada pihak yang hendak ditikam. Oleh karena itu, pihak yang melemparkan isu rasis perlu segera belajar lagi masalah sosial politik dan demokrasi.

Sangat Berbahaya

Data-data empiris membuktikan bahwa isu rasis selalu berbahaya untuk dibiarkan berkembang di tengah masyarakat pluralis seperti masyarakat DKI Jakarta. Jika pemerintah tidak merespons secepatnya, bukan tidak mungkin mereka akan ikut menjadi korban. Misalnya, pemerintah dinilai sengaja membiarkan terusiknya kenyamanan dan keharmonisan masyarakat.

Selain itu, media massa sebagai salah satu pilar demokrasi selayaknya turut serta melenyapkan isu rasis dengan cara mewawancarai tokoh-tokoh masyarakat yang sama-sama berkomitmen terhadap keamanan dan kenyamanan DKI Jakarta. Terutama, selama proses pilkada berlangsung.
Bagi aparat penegak hukum, sepatutnya mereka berusaha serius melakukan proses hukum bagi siapa pun yang sengaja melemparkan isu rasis. Dalam hal ini, yang jelas-jelas telah terbukti menyebarkan isu rasis layak diproses sesuai hukum yang berlaku.

Efek Domino

Efek domino isu rasis yang beredar menyertai proses pilkada DKI Jakarta tidak bisa diremehkan, terutama bagi pemerintah. Sebab, jika isu tersebut sampai berkembang dan menjelma menjadi aksi-aksi destruktif dan anarkistis, tentu citra pemerintah yang identik dengan citra bangsa dan negara bisa rusak.

Tidak menutup kemungkinan isu rasis bakal menjalar ke daerah-daerah lain jika dibiarkan berkembang menjadi aksi-aksi negatif. Sebab, sebagian besar warga Jakarta merupakan pendatang dari daerah-daerah lain.

Kerusuhan besar pada pertengahan Mei 1998 di Jakarta dan Solo jangan sampai terulang lagi. Kini, sebagian masyarakat semakin cemas sambil terbayang lagi kerusuhan tersebut. Selain itu, kini kalangan investor pun dilanda kecemasan terkait merebaknya isu rasis di Jakarta. Sebab, mereka masih trauma terhadap kerusuhan besar yang terjadi pada 1998 lalu.

Karena itu, pemerintah dan semua lapisan masyarakat layak mengutuk isu rasis agar tidak berkembang liar dan menimbulkan efek domino secara nasional. Bangsa dan negara kita harus diselamatkan dari bahaya laten isu rasis sebagaimana bangsa dan negara lain yang kini sudah maju dan sangat menabukan isu rasis. Termasuk isu rasis yang muncul dalam stadion ketika berlangsung pertandingan bola.

Untuk konteks Indonesia yang sedang berproses menjadi negara demokratis dan maju, munculnya isu rasis sangat memalukan. Seperti dorongan menuju kemunduran atau menolak untuk maju. Jangan sampai kerusuhan rasis terjadi lagi dalam pesta demokrasi yang seharusnya berlangsung menyenangkan bagi semua pihak. ●