Selasa, 07 Maret 2017

Trumpisme

Trumpisme
Daniel Dhakidae  ;   Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Prisma, Jakarta
                                                        KOMPAS, 06 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kira-kira sudah lebih sedikit dari 30 hari, sepertiga dari 100 hari pertama Presiden Donald John Trump, yang menjadi presiden Amerika Serikat setelah melewati salah satu pemilihan umum AS yang paling dramatik karena dipentaskannya pertarungan antara ”the Beauty and the Beast”.

Ketika memerintah pada hari-hari pertama, langsung saja muncul sesuatu yang tak pernah dialami sang presiden baru, betapapun berhasilnya ia sebagai pebisnis miliuner. Ternyata memakai kekuasaan kenegaraan dan otoritas korporat begitu berbeda. Menggunakan executive order, dekrit, sesuatu yang konstitusional. Namun, pada hari-hari pertama, dekrit kepresidenan tentang kebijakan imigrasi terhadap ”tujuh negara sumber terorisme” dipersoalkan dan ditolak lembaga kenegaraan negara bagian.

Ini hanya salah satu dari beruntun kebijakan yang dipersoalkan, pengangkatan yang ditolak, yang sudah diangkat mundur dan lain sebagainya. Dunia mencemooh; koran Belanda de Volkskrant seperti menghujat ketika dikatakannya: ketiadaan pengalaman, nafsu kebesaran, ketiadaan pasokan para ahli yang mampu dan bersedia menduduki kursi menteri. Kesimpulan besarnya: kacau-balau di Gedung Putih. Presiden negara adikuasa menjadi bahan tertawaan dunia.

”Mein Manifest” dan ”Mein Kampf”

Namun, Trump bukan dirinya sendiri, tetapi Amerika, yang memilihnya. Hanya dengan itu bisa diberikan suatu penilaian seimbang tentang Trump dan idenya, Trumpisme. Untuk melacak Trumpisme, suatu peristiwa di Jerman agaknya berguna untuk diangkat di sini. Buku yang menjadi dokumen tentang pandangan ekonomi-politik Trump, Crippled America, Amerika yang Lumpuh (dalam cetakan berikutnya judul utama diganti Great Again, to Fix Our Crippled America), akan diterjemahkan ke bahasa Jerman.

Penerjemah dan penerbit terombang-ambing memutuskan apa judul pas dalam bahasa Jerman. Pilihan awal adalah Mein Manifest. Akan tetapi, dari segi alusi terlalu dekat dengan Mein Kampf Adolf Hitler. Judul itu mungkin ditolak, suatu yang tidak penting lagi untuk analisis ini.

Pertanyaan utama, mengapa ada kesan kedekatan itu? Mari kita periksa apa yang dikatakan Hitler dalam Mein Kampf dan apa yang dikatakan Presiden Trump dalam Crippled America sebagai garis petunjuk kebijakan kepresidenannya.

Pertama, chauvinisme yang terikat kuat dalam suatu rasa ditekan dan ditindas. Jerman menderita karena kolusi internasional yang memeras Jerman setelah Perang Dunia I, dalam perjanjian Versailles. Jerman tak akan berkembang menuju kemajuan tanpa memutuskan mata rantai Versailles. Bagi Trump, Amerika menderita karena kolusi modal internasional atas nama globalisasi yang memaksa modal Amerika keluar negeri, dan dengan itu membawa kesempatan kerja ke dunia luar dan mengabaikan Amerika sendiri.

Kedua, Lebensraum. Bagi Hitler, partai Nazi harus berani mengumpulkan rakyat dan kekuatannya berbaris di jalan-jalan keluar dari penyempitan, wilayah hidup, menuju tanah dan wilayah baru dan dengan demikian seterusnya membebaskannya dari bahaya kebinasaan di bumi ini atau untuk membebaskannya dari bangsa budak untuk melayani kepentingan bangsa lain (Mein Kampf). Trump menafsirkannya ”terbalik”, bukan ekstensifikasi, tetapi intensifikasi ruang hidup. Salah satu jalan ke sana, menutup Amerika dengan dinding beton, dan peraturan baru keimigrasian. Amerika harus menjadi yang pertama dan utama dan bukan keluar untuk mencari tanah lain.

”Aku percaya pada menempatkan kepentingan rakyat Amerika pertama—selalu. Tidak ada tempat kedua atau ketiga. Tingkat komitmen semacam itu sudah lama hilang dari kebijakan luar negeri kita, dalam kebijakan perdagangan kita, dalam kebijakan keimigrasian kita. Kadang-kadang kita terlalu berkeluh-kesah mengenai apa yang dipikirkan bangsa lain tentang kita. ... dulu mereka begitu bangga berada bersama Amerika. Kini? Mereka tertawakan kita. Ada satu ungkapan yang sudah tidak Anda dengar lagi, menyedihkan, yaitu ’Made in America’. Kita akan katakan itu lagi—dalam tingkat setinggi-tingginya.” (Great Again, How to Fix Our Crippled America, 2016)

Ekstensifikasi ruang hidup dikritik habis-habisan. Semua kerja sama politik, militer, dan ekonomi internasional memperlemah Amerika, dan dengan itu menciutkan Lebensraum di dalam Amerika itu sendiri, karena Lebensraum yang terlalu terbuka akan menekan Amerika sendiri: lapangan kerja yang hilang, neraca perdagangan yang merugikan Amerika. Kerja sama internasional yang lebih menjadi beban Amerika tanpa adanya pertimbangan utama ”America first”.

Dengan dua paham di atas, Mein Manifest dan Mein Kampf tidak sama, tetapi dengan perbedaan konteks dan lain-lain menjadi ”dua saudara” yang bila buku itu diberikan judul Mein Manifest rasanya tidak terlalu jauh meleset.

Populisme, globalisasi, dan kecelakaannya

Ini membawa kita ke suatu medan lain, yaitu gejala Trump tidak bisa sekadar menjadi olok-olokan dan protes nasional dan internasional, tetapi harus diperiksa apa yang memungkinkan munculnya fenomena yang menggemparkan seluruh muka bumi ini. Perkembangan itu tidak bisa dilihat lepas dari perkembangan kapitalisme itu sendiri. Kalau itu soalnya, maka menjadi semakin aneh bahwa seorang kapitalis besar Amerika seperti Donald Trump, sadar atau tidak sadar, memakai Marx untuk memperkuat argumennya, ketika dia berbicara tentang globalisasi, pergerakan modal, dan lain-lain.

Dalam arti itu, dia memang seorang populis. Namun, mengklaim populis pengemban populisme, sama seperti cendekiawan, tidak biasa dipakai oleh pembicara dan menunjukkan dirinya sebagai referen; dia bertindak dan orang lainlah yang memberikannya label itu. Demikian juga dengan Trump, dia tidak menamakan dirinya seorang populis, tetapi dalam berpikir dan bertindak, the American people selalu menjadi referensi utama.

Namun, dalam pikirannya, rakyat Amerika adalah rakyat yang menderita. Ketika dia melihat Amerika, semuanya ditempatkan dalam posisi ”kalah”, ”rusak”, yang dalam kata-katanya sendiri ”Aku saksikan apa yang terjadi dengan negeri kita; meluncur ke neraka”; dan tidak ada orang lain yang berpikir tentang itu dan hanya dia yang bisa menyelesaikannya. Itu menjadi seluruh tema bukunya tentang kerusakan dan hanya dia yang mampu bekerja membereskan Amerika yang lumpuh.

Dengan demikian, semua keanehan Trump berasal dari sana: memusuhi pers karena menyebarkan ”fake news”, beritanya bukan mengandung ”nonsense”, karena dalam nonsense masih ada sesuatu yang berurusan dengan sense, makna. Di sana tidak ada informasi, karena itu apa yang dikatakannya adalah mengingkari kebenaran itu, negating the truth. Kalau mengingkari kebenaran maka pantas disebut ”musuh rakyat,” patut diberi catatan di sini bahwa tidak pernah ada yang mengatakan itu selain kaum revolusioner kiri Marxis tentang pers borjuis.

Dengan demikian, populisme Trump, seorang kapitalis besar, selalu memberi kesan ”patologis”, seorang yang selalu membanggakan keberhasilannya menghadapi di depan matanya bangsanya sendiri yang ”rusak dan cacat” yang harus dibenahi (tentang patologi kaum populis, bandingkan Vedi Hadiz, Islamic populism, 2016). Dia tidak mungkin mengutip Marx, tetapi apa yang 150 tahun lalu dikatakan secara eksplisit atau implisit oleh Marx menjadi pikiran Trump tentang kapitalisme yang mengandung kontradiksi internal di dalam sistem itu sendiri: ketidakadilan bagi rakyat Amerika, tekanan berat terhadap upah/gaji dalam persaingan global karena keterampilannya sendiri kalah dari tenaga asing; konsentrasi kekayaan ke dalam tangan elite Amerika.

Dia keras terhadap globalisasi, karena kalau globalisasi adalah suatu ide besar, mengapa hanya 15 persen pertumbuhan ekstra yang jatuh ke haribaan kaum buruh; sedangkan 85 persen mengembungkan kantong perusahaan-perusahaan besar? Itu semualah, katanya, yang bisa menjelaskan mengapa tekanan/desakan untuk menganut perdagangan bebas berasal dari ruang direksi dan tidak berasal dari kaum buruh itu sendiri. Dengan demikian, dalam diri Trump terjadi pertabrakan antara seorang kapitalis yang beretorika Marxis; seorang dari negeri adidaya (superpower) yang mengeluh tentang penderitaan yang disebabkan negara lain.

Trump dan ”post-truth politics”

Pertanyaan paling menarik adalah ke mana dunia ini dibawanya, dan apa wajah dunia dalam empat tahun ke depan. Dengan spekulasi bermacam-macam antara lain dia sudah menembusi jantung-hati demokrasi itu sendiri dalam arti berikut ini. Pertama, demokrasi berpijak atas, dan pengakuan akan, dan penghormatan terhadap fakta. Akan tetapi, Trump mengabaikan fakta itu: kemenangan tiga juta suara hasil pemilihan bagi Hillary Clinton sampai hari ini tidak diakuinya dengan argumen bahwa tiga juta itu adalah para ”pemilih ilegal” yang memasuki Amerika secara ”ilegal” meski tak pernah terbukti.

Kedua, fiksi itu semakin meyakinkannya untuk membangun tembok pemisah antara Amerika Serikat dan Meksiko demi Lebensraum Amerika seperti sudah dikatakan di atas. Ketiga, dengan Donald Trump, dunia mengucapkan selamat jalan Aufklärung, masa pencerahan, dan selamat datang masa post-truth.

Namun, sebagaimana sudah dikatakan di atas, Donald Trump adalah suatu gejala historis, dia tidak berdiri sendiri. Dia adalah kelanjutan dari Presiden George Bush junior. Hampir seluruh bencana Irak bertumpu atas suatu yang dengan memakai istilah Hannah Arend, lying in politics, berbohong dalam politik, ketika dikatakan bahwa di Irak semuanya bertumpu pada senjata pemusnah massal (the weapons of mass destruction), yang dipropagandakan oleh Presiden George Bush.

Bagaimana membuktikan bahwa itu bukan bohong adalah dengan menyerang Irak. Ketika seluruh negeri Irak sudah hancur-binasa, ”senjata pemusnah massal” itu tidak pernah ditemukan dan satu-satunya yang ditemukan adalah suatu kebinasaan massal oleh senjata Amerika itu sendiri.

Harvard Gazette mengemukakan betapa berbohong menjadi begitu menguasai kampanye Amerika yang lalu dan mengemukakan angka 126 dari 169 atau 75 persen ujaran Trump adalah bohong dibandingkan dengan 59 dari 212 atau 28 persen ujaran Hillary Clinton sama bohongnya. Dengan masuknya Trump ke Gedung Putih, dia membawa bersamanya post-truth politics.

Sebagai pembanding, mari kita arahkan pandangan kita ke dalam negeri. Suasana kampanye pemilihan gubernur Jakarta tidak kurang menghasilkan kebohongan bila ditinjau dari segi ini; lying in politics adalah salah satu jalan, dan dalam arti tertentu menjadi satu-satunya jalan. Pantun yang beredar viral di media sosial bisa menjelaskan sesuatu tentang itu:

Terang bulan terang di kali

Buaya lapar disangka nyanyi

Jangan percaya mulut politisi

Mingkar-mingkur masih brani janji.

Janji bohong dalam kampanye pilkada berlangsung karena pemberi janji tahu bahwa dia tidak mampu mencapainya karena ketiadaan sumber daya untuk itu. Dengan begitu, di sini lebih menjadi soal etis.

Sedangkan post-truth politics memberikan dasar ontologis yang di atasnya dibangun seluruh politiknya. Tembok Trump yang memisahkan Amerika dan Meksiko menjadi contoh terbaik untuk post-truth politics itu. Imigran ilegal, demikian Trump, adalah sumber kebinasaan Amerika dan karena itu di atasnya harus dibangun politik pemisahan Donald Trump. Di sini bukan soal sumber daya dan kemampuan memperolehnya—pasti berlimpah-ruah. Kriterium paling utama post-truth politics dipertontonkan di sini, yakni ”apa yang saya katakan adalah fakta! Ia menjadi fakta karena saya katakan”.

Politisi pilkada berbual dengan janji yang pasti tak sampai, masalah moral politik ada di sana. Sedangkan post-truth politics menghapus sambil pada saat yang sama memonopoli fakta dengan menciptakan ”fakta alternatif”, dan dengan itu membuang kebenaran. Donald Trump dengan keahliannya memakai retorika politik berhasil membawanya ke Gedung Putih.