Selasa, 14 Maret 2017

Sundel Bolong

Sundel Bolong
Mohammad Nuh  ;   Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
                                                      JAWA POS, 12 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pernah dengar kisah tentang sundel bolong? Bagi mereka yang lahir tahun 1950-an sampai 1970-an atau kelompok baby boomers dan tinggal di perkampungan hampir pasti mengenal kisah sundel bolong.

Hantu ini menjadi sangat populer seiring film dengan judul yang sama sukses di pasaran pada awal dasawarsa 1980-an.

Sundel berarti wanita jalang, bolong berarti berlubang. Umumnya digambarkan sebagai wanita cantik berambut panjang dan bergaun panjang warna putih yang punggungnya berlubang (Jawa: bolong).

Waktu berpapasan terlihat wajahnya begitu cantik dan semerbak harum baunya. Begitu lewat, punggungnya yang berlubang menebar bau busuk yang luar biasa menyengatnya. Karena punggung yang berlubang tadi dipenuhi belatung. Itulah karakteristik dasar sundel bolong, yaitu berparas cantik dan wangi, berjalan tanpa menginjakkan kakinya di bumi, dan berbau busuk setelah berpapasan.

Sebagai kisah folklorik, mitos dan metafor tentu nyatanya tidak pernah kita jumpai. Namun, itulah cara orang tua kita dulu bagaimana mengenalkan sebuah ”nilai kemuliaan” melalui kendaraan cerita seperti dongeng dan sejenisnya.

Jadi, kisah dan cerita diciptakan sedemikian rupa sehingga anak menjadi sangat tertarik. Dalam kondisi ketertarikan tersebut orangtua bisa memasukkan pesan moral dan sistem nilai kepada sang anak. Itulah kearifan lokal.

Pesan moral atau nilai apa yang dikandung dalam sundel bolong? Orang yang tidak memiliki pendirian yang diibaratkan dengan berjalan tanpa atau tidak menginjak bumi (ngawang). Dia cenderung berbohong dan berkhianat di saat kepentingannya terganggu. Komitmen dilakukan semata karena kepentingan dirinya.

Berparas manis, awalnya penuh keindahan, namun berikutnya penuh dengan kebusukan. Itulah ciri khas dari orang yang tidak memiliki pendirian. Tidak ada sundel bolong yang berwajah menyeramkan, semuanya berwajah manis sebagai modal untuk menjalankan misi kebohongan yang akan dia lakukan.

Seseorang dalam menjalankan misi kebohongan selalu bermuka manis atau memelas. Dua ekstremitas senjata untuk berbohong. Ini sama sekali bukan berarti orang bermuka manis dan memelas selalu akan menjalankan misi kebohongan. Bagi mereka yang memiliki pendirian yang kuat, manis dan memelas adalah ekspresi riil, keadaan sebenarnya, karena mereka tidak mengenal kausa kata bohong sehingga tidak memiliki kausa aksi berbohong. Itulah kandungan dan pesan moral sundel bolong.

Kisah tentang kebohongan itu terlukis rapi dalam tradisi profetik, sebagaimana kisah Nabi Yusuf. Keirian dan kedengkian saudara-saudaranya menyebabkan mereka berusaha untuk menyingkirkan Nabi Yusuf (waktu itu masih kecil) dari lingkungan keluarga.

Mereka membawanya jalan-jalan dan memasukkannya ke dalam sumur dan dengan paksa bajunya dilepas terlebih dulu. Baju Yusuf mereka lumuri darah, lalu ditunjukkan ke ayah mereka, Nabi Ya‘qub. Sambil menangis dan memelas mereka bilang bahwa Yusuf meninggal diterkam serigala.

Pada zaman itu aksi kebohongan mereka sudah tergolong sangat canggih. Namun, di balik kebohongan selalu ada kejanggalan. Apa itu? Kalau memang Nabi Yusuf dimakan serigala, mengapa bajunya masih utuh meskipun ada lumuran darahnya? Apa memang serigala kalau mau menerkam seseorang meminta terlebih dulu supaya baju korbannya dilepas? Itulah kejanggalannya.