Rabu, 15 Maret 2017

Perkuat Gerakan Hantam Hoax

Perkuat Gerakan Hantam Hoax
Yuliandre Darwis  ;   Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Pusat;
Dosen Komunikasi FISIP Unand
                                                  KORAN SINDO, 14 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada era banjir informasi, masyarakat diberikan aneka informasi yang benar maupun yang tidak benar. Beragam informasi silih berganti mengisi aktivitas kehidupan manusia.

Jika dianggap penting dan memiliki dampak luas pada masyarakat, informasi itu menjadi diskursus hangat di berbagai tempat seperti kampus, diskusi warung-warung kopi, hingga perdebatan pada ruang-ruang publik media massa. Persoalan maraknya berita palsu (hoax) yang cukup meresahkan dan mengkhawatirkan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah salah satu topik yang banyak dibicarakan orang saat ini.

Dalam Cambridge Dictionary, kata hoax berarti tipuan atau lelucon. Dengan perkataan lain, hoax berarti informasi yang tidak benar. Banyak pihak kemudian membuat dan menyebarkan hoax dengan berbagai tujuan dan kepentingan, politik, ideologi, bahkan motif ekonomi. Penelusuran Worth Traffic menyebutkan, pemasukan iklan pkspiyungan.org sebelum dibekukan pemerintah sempat mencapai USD100 per hari atau USD 36.500 setahun, yang setara Rp485 juta.

Kepentingan ekonomi hanya salah satu tujuan penyebaran berita hoax.Ada tujuan-tujuan lain penyebar hoax, seperti membuat keresahan sosial, misalnya penyebaran informasi hoax pascaperselisihan angkutan umum berbasis online dengan angkutan umum yang tidak menggunakan online, orientasi politik dalam momentum pilkada.

Penyebaran hoax tentu mengganggu stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Kominfo pada 2016 mencatat setidaknya ada 800.000 situs di Indonesia yang menyebarkan berita palsu dan ujaran kebencian.

Mengidentifikasi Informasi Hoax

Meskipun saat ini kita hidup dalam era teknologi komunikasi yang canggih dengan teknologi digital serta konvergensi media dan keterbukaan informasi, sejujurnya kita belum banyak mengetahui dan harus bersikap seperti apa menghadapi zaman informasi dengan kekuatan teknologi mutakhir. Kita sama-sama mafhum banyak hoax beredar melalui media memengaruhi opini masyarakat yang berdampak pada situasi sosial menjadi tidak stabil.

Oleh karena itu, penting melakukan pemetaan modusmodus informasi hoax.David Harley dalam buku “Common Hoaxes and Chain Letters (2008)” mengidentifikasi informasi hoax. Penyebaran berita hoax biasanya memiliki karakteristik surat berantai dengan memuat kalimat untuk mengajak orang menyebarkan informasi. Informasi hoax juga tidak mencantumkan tanggal dan deadline serta tidak mencantumkan sumber informasi yang valid.

Melakukan identifikasi informasi yang beredar menjadi langkah strategis untuk mencegah beredarnya informasi hoax. Sering kali kita mendapat broadcast melalui ponsel berupa pesan berantai yang meminta penggunanya menyebarkan informasi itu. Isi pesan macam-macam. Ada berupa undian berhadiah, informasi lowongan kerja, black campaign politik, dan seterusnya.

Belum lagi informasi itu tidak mencantumkan kapan kedaluwarsanya dan dari mana sumber informasi. Yang penting, informasi beredar luas dan cepat dibicarakan banyak orang sehingga membuat gaduh situasi sosial.

Hantam Hoax

Keresahan masyarakat terhadap informasi hoax tinggi. Berbagai cara dilakukan untuk membendung penyebaran hoax. Pemerintah bahkan memberi perhatian serius terhadap hoax.Presiden Jokowi menyatakan pemerintah akan menindak secara hukum, tegas, dan keras terhadap para pelaku penyebaran informasi palsu. Kemenkominfo telah memblokir 800.000 situs berkonten negatif dan akan merapikan 40.000 lebih situs berkonten negatif dan hoax.

Ada kementerian yang membentuk Badan Siber Nasional (BSN). Langkahlangkah ini merupakan cara pemerintah mengatasi hoax yang mengganggu jalannya roda pemerintahan. Di berbagai tempat dideklarasikan masyarakat anti-hoax, seperti di Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo, Wonosobo, Bandung.

Di Bandung misalnya, bersama Ridwan Kamil, wali kota Bandung, saya dengan masyarakat Kota Kembang melakukan deklarasi hantam hoax pada 21 Februari 2017. Gerakan hantam hoax harus digelorakan di berbagai tempat untuk membendung tsunami informasi hoax. Namun begitu gerakan anti-hoax sejatinya dibarengi dengan membangun kesadaran bermedia pada masyarakat, seperti apa memahami dan menyikapi pesan hoax termasuk yang tersebar lewat media massa.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel melalui buku “Blur: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi” menawarkan pendekatan skeptis terhadap informasi. Ketika memperoleh informasi hendaknya tidak langsung percaya, tapi bersikap ragu-ragu terhadap informasi tersebut. Dengan begitu, muncul pemikiran apakah informasi ini benar atau tidak, dari mana asal informasi, siapa yang menyebar informasi, dan apa tujuan informasi.

Selain itu, mengedepankan cara pandang kritis pada suatu informasi merupakan cara lain membendung hoax. Kita tahu bersama, tujuan penyebaran hoax memiliki banyak motif, termasuk ideologis. Melalui sebuah pesan informasi, secara implisit biasanya motif ideologi disusupkan pelakunya. Ini membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945.

Terakhir, memperkuat gerakan literasi media/melek informasi di lingkungan pelaku media itu sendiri, masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, kelompok pemerhati, dan sebagainya. Literasi warga harusnya dibumikan agar kesadaran memahami pesan media dapat semakin meluas di masyarakat informasi.

Berbagai cara ini sesungguhnya menjadi alternatif pilihan yang dapat dilakukan sebagai langkah menghadapi badai informasi hoax. Maraknya hoax seharusnya kita bendung, dicegah, dan bahkan dilawan, sebab informasi hoax tidak saja mengacaukan masyarakat, mengadu domba kita semua, menjadi duri dalam demokrasi yang sedang terkonsolidasi–informasi hoax membawa kita pada peradaban manusia yang semakin mundur.