Kamis, 16 Maret 2017

Parenting Just The Way You Are

Parenting Just The Way You Are
Hasanudin Abdurakhman  ;   Cendekiawan, Penulis;
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                    DETIKNEWS, 13 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya pernah diundang ke sebuah forum parenting, bersama beberapa ayah lain. Kami diminta bercerita tentang apa saja yang kami lakukan dalam pengasuhan anak. Masing-masing orang bercerita sesuai permintaan itu. Dalam sesi tanya jawab, ada seorang peserta tuna netra yang bertanya,"Bagaimana saya bisa jadi seorang ayah yang baik dengan keadaan saya? Akankah anak saya kelak bangga punya ayah seorang tuna netra?"

Psikolog Ratih Ibrahim yang menjadi tuan rumah acara itu menjawab,"Perhatikan bahwa 3 orang ayah yang tadi menceritakan pengalaman mereka, melakukan pengasuhan anak dengan cara masing-masing. Mereka menjadi diri sendiri, melakukan hal-hal yang mereka bisa. Sesederhana itu."

Begitulah. Banyak orang menganggap menjadi orang tua yang baik itu seperti menjadi sosok ideal yang serba sempurna. Harus serba bisa. Kita terbiasa mendengar paparan orang soal pengasuhan anak, kita mendengar hal yang hebat-hebat. Lalu kita mencoba menjadi hebat, dengan mengubah diri kita sendiri. Titik itu mungkin akan menjadi awal kegagalan kita dalam pengasuhan anak.

Saya kebetulan suka masak. Maka saya jadikan kegiatan masak sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan anak. Saya ceritakan itu kepada banyak orang. Tapi saya tak menganjurkan setiap ayah untuk belajar masak.

Masak bukanlah substansi dalam pengasuhan anak, ia hanya sarana. Yang substansial adalah komunikasi. Maka tempuhlah jalan yang paling mudah atau paling bisa Anda lakukan untuk berkomunikasi dengan mereka.

Bagi yang punya kemampuan bermain musik, ia adalah sarana yang sangat indah untuk menjalin komunikasi dan mendekatkan diri dengan anak. Demikian pula halnya dengan olah raga. Kegiatan di luar ruangan, fotografi, melukis, memancing, mendaki gunung, apa saja pun, bisa menjadi sarana. Intinya, semua itu hanya sarana.

Yang terpenting adalah keinginan untuk dekat dengan anak. Kalau keinginan itu ada, maka kita bisa menemukan sarana untuk menjalinnya. Sebaliknya, bila tidak punya keinginan, orang bisa menyusun seribu alasan untuk menghindarinya.

Bagaimana dengan orang yang punya kekurangan, seperti tuna netra tadi? Lha, kenapa perlu fokus dengan kekurangan? Sejak tadi kita bicara soal apa yang kita bisa, bahkan kelebihan kita.

Seorang dengan hambatan tertentu seperti tuna netra, bukan tidak punya kelebihan. Ia pasti punya sesuatu yang bisa dipakai untuk sebagai sarana untuk dekat pada anak. Bahkan, kekurangan seperti tuna netra itu bisa menjadi sarana untuk menjalin kedekatan dengan anak. Jadi, soalnya sekali lagi adalah soal kemauan, komitmen untuk menjadi orang tua yang dekat dengan anak.

Tapi ingat, jangan hal itu dijadikan alasan untuk tidak terlibat dalam pengasuhan anak. Pernah saya mengomeli seorang kawan yang mengaku tidak pernah berbincang dengan anaknya, dengan alasan dirinya seorang penyendiri. Atau, saya juga mengritik para orang tua yang tidak mendampingi anak-anaknya belajar. Kata mereka,"Kamu enak, bisa mengajari anak, karena kamu doktor."

Saya katakan bahwa saya itu doktor di bidang fisika. Artinya, saya hanya ahli di bidang itu, bukan di bidang lain. Saat anak saya harus belajar hal lain, maka saya belajar terlebih dulu untuk bisa mengajari mereka. Menjadi orang tua itu memang menuntut kita untuk belajar.

Intinya adalah, jangan mencari dalih untuk tidak dekat dengan anak, dengan mengatakan tidak bisa ini dan itu, kemudian tidak melakukan apapun. Jangan menghindar dengan alasan tidak memiliki sarana, sebagaimana orang lain memilikinya.

Setiap orang pasti punya sesuatu. Yang mengaku tidak punya apapun, adalah orang yang sebenarnya tidak punya hal yang paling dasar dalam pengasuhan anak, yaitu komitmen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar