Kamis, 02 Maret 2017

Memanfaatkan Kunjungan Raja Salman

Memanfaatkan Kunjungan Raja Salman
I Basis Susilo  ;  Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP
Universitas Airlangga Surabaya
                                                   JAWA POS, 28 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kunjungan kepala negara merupakan diplomasi tingkat tinggi (high-level diplomacy). Kunjungan selalu penting bagi yang berkunjung dan yang dikunjungi. Bagi tamu, bagaimana menjadikan dinamika negeri yang dikunjungi strategis bagi negerinya. Bagi tuan rumah, bagaimana menjadikan dinamika negeri tamunya strategis bagi pembangunan nasionalnya. Bagi pemimpin negara dan orang-orang dekatnya, gambaran arti kepentingan kunjungan itu bisa tampak jelas dan terperinci. Namun, masyarakat hanya bisa mencatat signifikansinyasecara garis besar.

Rencana kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud ke negara kita selama sembilan hari mulai Rabu (1/3) mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Di media sosial, selama beberapa hari terakhir kita disuguhi kabar-kabar seputar kunjungan itu.

Tetapi, yang ditonjolkan justru yang kecil-kecil dan aneh-aneh. Misalnya kunjungan yang serbamewah, lama, banyak pengikutnya, bawa mobil sendiri, mengusung eskalator portabel sendiri, makan-minum sendiri, bawa banyak dana, dan lebih banyak waktu untuk berliburnya. Pemberitaan tersebut sebenarnya spekulatif, tendensius, dan tidak substansial, tapi bisa menjelaskan sesuatu secara simbolis.

Untuk bisa memahami kunjungan Raja Salman kali ini, kita mesti melihat penggerak utamanya, yaitu Visi 2030 dan Reformasi Ekonomi Arab Saudi, yang dicanangkan tahun lalu sebagai respons atas terus menurunnya harga minyak dunia. Visi 2030 menargetkan peningkatan tiga hal: indeks daya saing global dari 25 ke 10 besar, investasi langsung dari luar (FDI) dari 3,8 ke 5,7 persen dari GDP-nya, dan peran swasta supaya berkontribusi 40–65 persen dari GDP-nya.

Untuk itu, Reformasi Ekonomi mendiversifikasi dan mendiferensiasi usaha-usahanya ke sektor nonmigas, mencari dana pinjaman untuk menutup defisit belanjanya, serta menjual sebagian saham Aramco. Dengan melihat Visi 2030 dan Reformasi Ekonomi Arab Saudi itu, kita bisa lebih memahami kunjungan Raja Salman kali ini.

Pertama, jumlah rombongan amat banyak untuk ukuran umum. Sekitar 1.500 orang. Pesawatnya saja sembilan. Bisa jadi itu pemborosan. Tapi, bisa jadi itu disesuaikan dengan tujuannya. Jumlah banyak tersebut terdiri atas para pangeran, para usahawan Saudi, Menteri Energi Khalid Al Falih, serta para pejabat Aramco. Itu menunjukkan bahwa perdagangan dan investasi menjadi urusan terpenting bagi kunjungan kali ini serta penawaran saham Aramco. Itu sudah ditunjukkan di Malaysia sebagaimana kata Menlu Datuk Seri Anifah Aman di New Straits Times (26/2), prioritas kunjungan tiga hari ke Malayisa saat ini adalah peningkatan perdagangan dan investasi.

Keikutsertaan menteri energi dan para pejabat Aramco dalam lawatan Raja Salman ke Malaysia, Indonesia, Tiongkok, dan Jepang kali ini menunjukkan keseriusan tentang penjualan saham 5 persen dari Aramco ke para investor di Asia Tenggara dan Asia Timur. Lawatan itu juga menunjukkan usaha-usaha lain selain migas yang akan dikembangkan para pengusaha Saudi dan memerlukan kerja sama dengan Indonesia dan tiga negara yang dikunjungi kali ini.

Untuk itu, pemerintah dan para pengusaha kita mesti bisa menarik dana dari para pengusaha Saudi tersebut untuk mengakselerasi pembangunan kita. Investasi perlu ditawarkan ke para pengusaha Saudi untuk mengakselerasi dinamika pembangunan kita, terutama untuk bidang energi dan infrastruktur, termasuk perumahan. Di pihak lain, pemerintah perlu mempertimbangkan tawaran saham Aramco untuk diambil perusahaan-perusahaan milik negara kita, yang hasilnya bisa menambah dana untuk pembangunan nasional kita.

Kedua, liburan Raja Salman di Bali memang menarik karena lamanya dan biaya yang dikeluarkan. Semuanya termahal di hotel maupun fasilitas-fasilitas lainnya. Tetapi, wisata memang jadi salah satu sektor yang sedang dilirik untuk menyukseskan Reformasi Ekonomi Arab Saudi. Sehingga kehadiran selama enam hari di Bali itu untuk menjajaki kemungkinan investasi ke sarana dan prasarana pariwisata di Indonesia.

Pemerintah dan para pengusaha pariwisata kita tentu perlu memanfaatkan kunjungan Raja Salman ini untuk mendukung target Kemenpar: 15 juta turis pada 2017 dan 20 juta pada 2020. Selama ini jumlah turis dari Saudi masih sedikit. Padahal, turis Saudi yang biasa saja memiliki buying power tinggi. Seperti dilaporkan Ketua PHRI Bali Cok Ace, rata-rata belanja turis Saudi USD 1.750 kalau berlibur ke Bali. Liburan Raja Salman di Bali bisa dimanfaatkan untuk mendorong lebih banyak turis Saudi berwisata ke Indonesia.

Selain itu, pemerintah dan pengusaha perlu meyakinkan para pengusaha Saudi untuk berinvestasi sarana dan prasarana wisata. Misalnya pembangunan infrastruktur wisata seperti resor-resor dan kawasan-kawasan wisata atau food service di Bali khususnya dan Indonesia umumnya.

Ketiga, nilai perdagangan kita dengan Saudi ternyata amat sedikit. Impor dari Saudi hanya USD 2.273.260, itu pun didominasi migas (USD 1.693.258). Ekspor kita cuma USD 1.120.736, itu pun cuma nonmigas. Jadinya, defisit kita USD 1.152.564. Defisit di kita itu menunjukkan secara kasatmata bahwa Saudi belum strategis bagi kita.

Untuk itu, pemerintah dan para pengusaha kita perlu berusaha keras untuk menjadikan Saudi strategis bagi dinamika pembangunan kita. Dengan cara –mau tak mau– harus menyeimbangkan (kemudian membuat surplus) neraca perdagangan kita dengan Saudi.