Rabu, 01 Maret 2017

Beragama dengan Bahagia

Beragama dengan Bahagia
Iqbal Aji Daryono  ;  Praktisi Media Sosial; Penulis; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                 DETIKNEWS, 28 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dengan raganya yang mulai menua, ibu saya sudah menyimpan beberapa keluhan kecil. Entah kolesterol entah asam urat entah apa, tak begitu jelas buat saya. Yang jelas badannya sering pegal-pegal, semacam masuk angin tapi bukan. Kalau pas parah-parahnya, sampai-sampai tangannya terpaksa dia pukul-pukuli sendiri. Kasihan.

Mak'e, begitu saya memanggilnya, sudah mencoba minum macam-macam. Mulai jeruk nipis, larutan seledri, jus melon, sampai minyak ikan. Ada sih efeknya, tapi nggak sempurna-sempurna amat. Hingga kemudian dia mencoba jeruk lemon, buah yang di kota Perth sini biasanya kami abaikan.

Ajaib, ternyata dengan rutin minum lemon, segala keluhan Mak'e sirna jauh-jauh. Apa saja yang semula selalu dia ratapkan, kini tak lagi pernah terdengar.

Maka wajar saja, Mak'e jadi begitu tergila-gila pada lemon. Setiap kali lewat halaman belakang kompleks kami, di mana ada dua pohon lemon tumbuh dan buahnya untuk warga kompleks, mata Mak'e selalu dengan tajam mendeteksi keberadaan buah dahsyat itu. Setiap kali kami mau berkunjung ke rumah teman yang terdeteksi punya pohon lemon, Mak'e selalu berpesan agar dimintakan. Setiap kali Mak'e melihat pohon lemon di pinggir jalan, dengan puluhan biji buah ranum bergelantungan (ya, di sini banyak orang menanamnya), Mak'e tampak ngiler dan bergumam, "Walah, eman-eman, sayang banget ya nggak dipetiki...."

Nah, syahdan, dalam kondisi batin yang mencintai lemon satu setengah derajat di bawah cintanya kepada anak laki-lakinya, tiba-tiba suatu senja Mak'e bercerita.

"Tadi sore waktu nemani Hayun main, aku nemu lemon jatuh dari rumah di sebelah playground, kuning-kuning, seger-seger."

Hayun adalah anak saya, tujuh tahun umurnya. Saya menyimak Mak'e sambil lalu, tentu juga sambil ikut senang mendengar kabar membahagiakan yang statusnya dunia-harus-tahu itu. Tapi ternyata ada sambungannya,

"Tapi setelah aku kantongi dan mulai jalan pulang, hatiku nggak tenang je, Le. Akhirnya aku kembalikan lagi."

"Lha ngopo, Mak? Kenapa?" saya bertanya, kali ini jadi jauh lebih memerhatikan.

"Lha aku ki wis tuwo, sudah tua," sambung Mak'e. "Kalau nanti ada barang yang ternyata nggak bener dan masuk ke perutku, besok aku tanggung jawabnya di hadapan Gusti Allah tuh gimana...."

Omaigat. Saya tercekat, dan langsung menelan ludah. Seteguk saja.

Lalu Mak'e mengingatkan tentang kisah hikmah seorang pemuda yang menemukan buah apel di tepi sungai, memakannya, tapi karena galau hatinya si pemuda menyusuri sungai berkilo-kilo, untuk menemukan siapa pemilik pohon apel di hulu sana. Dan seterusnya.

Kali itu saya sudah tidak terlalu mendengarkan cerita tentang si pemuda dan buah apel yang disampaikan emak saya. Yang ada di kepala dan hati saya hanyalah perasaan bungah tak terkira, seperti ketika kita berjumpa sahabat lama yang sudah belasan tahun tak bersua.

Saya sangat bahagia, bersyukur, dan merasa melepas rindu yang tertahan lama. Sebab sejujurnya, beberapa masa belakangan ini saya agak mengkhawatirkan kondisi batin Mak'e.

Ya, sejak dia pegang HP yang agak bagusan, lantas bisa nonton Yutub dan Fesbukan, saya tahu bahwa banyak berita dan tontonan yang diakses Mak'e adalah yang 'begitu-begitu'. Akibatnya, pernah misalnya, Mak'e bilang kalau sudah nggak minat lagi mengikuti pengajian Bapak Yang Itu. Saya merasa tahu sebabnya. Itu pasti karena Si Bapak Yang Itu sudah dituduh liberal oleh mereka-mereka. Sebagai gantinya, Mak'e nonton Ustazah Anu dengan tekun. Padahal saya ikut menguping, Sang Ustazah Anu dengan garang bilang, "O, kalau yang itu sesat! Bukan Islam! Jangan diikuti!"

Belum lagi akun-akun dan fanpage di Fesbuk yang sering dibuka Mak'e, banyak di antaranya yang sangat religius namun dari jenis yang saya khawatir justru akan berpengaruh negatif bagi ketenangan batin, kedamaian hati, dan spiritualitas Mak'e di usia senjanya.

Maka, ketika mendadak mendengar Mak'e bicara agama dari sisi yang sangat spiritual semacam mengembalikan buah lemon temuan, saya lega luar biasa. "Mak'e telah kembali," kira-kira begitu batin saya.

Memang sih, secara hukum agama, ada ulama yang membolehkan makan buah yang jatuh di tempat umum. Tapi berhati-hati, menjaga diri agar jangan sampai melakukan hal yang siapa tahu tidak disukai orang lain, adalah nilai keberagamaan yang menurut saya begitu indah.

"Yo wis, bener banget Mak! Ya beragama tu seperti itu! Sip tenan kuwi!" saya langsung menimpali dengan beringas, sambil berusaha menutup-nutupi keterharuan saya.

Selang tak berapa lama dari peristiwa "Si Emak dan Buah Lemonnya", saya datang ke pengajian warga Indonesia di Perth. Sore itu yang ngisi pengajian adalah Pak Onny Kaji Edan. Ustadz bukan, ulama bukan, kiai apalagi, jelas bukan. Hahaha. Tapi justru dari pengajian bersahaja yang disampaikan kolega kami yang satu itu, saya merasa sejenis perasaan sumringah dan gembira muncul lagi.

Pak Kaji bicara tentang hal yang sangat dekat, yaitu tentang bagaimana mencari berkah dari restu orangtua. Tak ada ayat-ayat yang dikutip di situ, tak ada penjelasan hukum-hukum agama di situ, namun yang saya simak justru sesederhana "Jadi kuncinya, bagaimana menjadikan segala hal yang menggembirakan hati orangtua kita itu identik dengan diri kita. Misalnya ibu kita sedang makan roti, maka sebisa mungkin waktu ibu kita memakannya, beliau mengingat kita, 'Oh ini roti ini mirip yang dikasih anakku itu....' Nah, saya menjalani laku demikian, dan sungguh kelancaran dan keberkahan hidup selalu saya dapatkan!"

Oh, aduh. Ini dia. Sudah lamaaa sekali rasanya saya tidak mendengar pengajian model yang begini ini. Kalau boleh saya menyebutnya, inilah namanya contoh beragama. Sontak saya membandingkan, bagaimana banyak orang belajar filsafat, tapi malah gagal berfilsafat. Bagaimana orang belajar ilmu sastra, tapi belum tentu berhasil bersastra. Bagaimana orang suntuk siang malam mempelajari ilmu tasawuf, hafal luar kepala khazanah sufisme dari A sampai Z, tapi justru jauh dari perilaku bertasawuf.

Demikian pula, betapa banyaknya orang belajar ilmu agama, namun malah lupa bagaimana caranya beragama.

Apa yang saya rasakan dari peristiwa Mak'e dan lemonnya, juga dari pengajian sederhana tentang bagaimana mencari berkah dari kebahagiaan orangtua, menjadi pelepas rindu saya akan pemandangan "laku beragama".

Hari-hari belakangan ini, tahun-tahun terakhir ini, entah kenapa saya merasa jauh sekali dari nikmatnya beragama. Aktivitas menjalankan agama yang saya jumpai lebih didominasi oleh pembelaan atas eksistensi agama, perasaan terancam dan tertindas mewakili agama, kecurigaan atas ini-itu yang diyakini mengancam agama.

Kata kunci yang tak henti terdengar bukan lagi seperti masa dulu, ketika guru ngaji di masjid kampung saya bicara tawakal, sabar, atau ikhlas. Yang diangkat bukan lagi kisah semacam Uwais Al-Qarni yang ke mana-mana menggendong ibunya yang lumpuh dan buta, bukan cerita tentang seorang pelacur yang diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang sekarat kehausan, bukan pula nasihat keutamaan menyingkirkan duri dari jalan agar orang lain tidak menginjaknya lantas kesakitan.

Paket yang muncul bersama label agama sekarang ini rasanya melulu tentang... harga diri, marwah, ghiroh, dan entah kata-kata apa lagi yang menumbuhkan suasana tegang tak henti-henti, keinginan untuk melawan dan melawan (entah siapa yang mau dilawan), juga sikap penolakan kepada banyak hal.

"Lho! Emangnya apanya yang salah? Agama bukan cuma mengajarkan kelembutan! Tapi juga ketegasan dan keberanian!"

Iya, iya. Saya juga tidak sedang mengkampanyekan depolitisasi agama kok, Mas. Saya tidak sedang menyalahkan, apalagi berupaya merongrong dan melemahkan dan sebagainya dan seterusnya. Saya cuma bilang, saya merasa rindu dengan suasana dulu. Dan ternyata kerinduan itu sedikit terobati dengan beberapa peristiwa kecil yang saya temui.

Apa iya sih, perkara rindu saja harus diperdebatkan sampai ke twitwar?