Selasa, 07 Maret 2017

Janji Investasi Arab Saudi

Janji Investasi Arab Saudi
Edy Purwo Saputro  ;   Dosen Pascasarjana di UMS Solo; 
Doktor Ekonomi UNS Solo
                                             MEDIA INDONESIA, 04 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KEDATANGAN Raja Salman memberikan peluang terhadap realisasi investasi dan neraca perdagangan yang lebih baik. Paling tidak hal ini terlihat dari kesepakatan dalam bidang kerja sama pengembangan usaha kecil-menengah, termasuk kesepahaman bidang perdagangan.

Terkait hal ini, potensi bilateral Indonesia-Arab juga mencakup di bidang keagamaan, terutama jumlah umat muslim yang melakukan ibadah haji dan umrah. Oleh karena itu, komitmen terhadap realisasi investasi Arab menjadi penting sehingga bisa sejalan dengan bilateral Indonesia-Tiongkok yang selama ini meningkat pesat di era pemerintahan Jokowi.

Realisasi investasi tentu menjadi faktor penting dari semua bentuk kerja sama bilateral, termasuk juga interaksi Indonesia-Arab. Meski demikian, realisasi investasi tidak bisa terlepas dari jaminan keamanan sosial-politik.
Oleh karena itu, kegaduhan politik di semester awal 2017 tentu menjadi peringatan karena situasinya bisa berubah dari wait and see menjadi wait and worry jika investor tidak yakin dengan kepastian sospol pascapilkada serentak. Paling tidak, banyaknya gugatan hasil pilkada menjadi sinyal awal tentang kepastian iklim sospol, belum lagi adanya putaran kedua pilkada Jakarta yang tentu juga menjadi perhatian serius investor.

Komitmen

Selain komitmen investasi, Arab Saudi berkomitmen memberikan pinjaman melalui Saudi Fund Contribution to The Financing of Development sebesar US$1 miliar. Dana pinjaman ini rencananya bersifat pendampingan atau co financing yang akan digunakan untuk pembiayaan infrastruktur dan perumahan. Urgensi terhadap pembiayaan bidang infrastruktur tidak bisa terlepas dari minimnya anggaran dan beban utang luar negeri yang semakin besar sehingga co financing dari Arab secara tidak langsung mendukung program dan proyek pemerataan pembangunan infrastruktur.

Data BKPM menegaskan pada 2016 jumlah investasi Arab mencapai US$ 0,9 juta yang tersebar di 44 proyek. Jika dibanding dengan tahun 2015, ternyata investasi ini jauh lebih kecil, yaitu US$30,4 juta yang tersebar di 28 proyek, sedangkan di 2014 hanya US$2,9 juta dan pada 2014 hanya US$ 0,4 juta. Artinya, kumulatif investasi Arab di Indonesia memang relatif kecil, meski dari lawatan Raja Salman akan ada realisasi investasi mencapai US$ 7 miliar. Oleh karena itu, kumulatif investasi pasca lawatan ini menjadi penting untuk membuka potensi kerja sama yang lebih besar lagi dan tentu bisa mencakup di semua bidang. Di satu sisi, tentu ini menjadi menarik dicermati meski di sisi lain ada tantangan untuk merealisasikan semua komitmen investasi itu.

Kerja sama investasi Saudi Aramco di kilang minyak Tuban juga memberikan pengaruh penting terhadap produksi dan distribusi migas.
Paling tidak ini terkait dengan kapasitas kilang minyak di Tuban yang mencapai 300 ribu barel per hari.

Kerja sama kilang di Cilacap senilai US$5 miliar juga menjadi bentuk kerja sama yang baik karena patungan yang terbentuk antara Pertamina-Saudi Aramco mencapai 55%-45%. Kapasitas dari kilang di Cilacap mencapai 370 ribu barel per hari dan dari jumlah ini 270 ribu barel per hari dipasok Saudi Aramco.

Selain itu, peluang Saudi Aramco untuk berbisnis SPBU di Indonesia menjadi peluang untuk memacu kompetisi yang lebih baik dan tentu konsumen mendapatkan kualitas layanan yang lebih baik pula.

Yang menarik ternyata sejumlah perusahaan dari Indonesia juga telah sukses berbisnis di Arab. Paling tidak, hal ini terlihat dari kiprah PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang sejak 2014 menjadikan Arab sebagai target pasar ekspor penting. Hal ini terlihat dari penjualan ke Arab pada 2014 mencapai Rp0,9 triliun dari total Rp5,4 triliun total ekspor. Kumulatifnya terus meningkat yaitu di semester awal 2016 mencapai Rp.0,3 triliun.

Selain itu, PT Telkom Tbk pada 2014 melakukan kerja sama dengan operator seluler dari Arab, yaitu Zain melalui produk Simpati Saudi sehingga ini berorientasi kepada pasar wilayah Riyadh, Jeddah, Mekah, dan Medinah. Artinya, pasar yang semakin terbuka karena semakin banyak jamaah haji dan umrah dari Indonesia.

Peluang kerja sama Indonesia-Arab memang dimungkinkan di semua bidang dan tentu ini perlu peningkatan sehingga implikasi terhadap perdagangan juga bisa meningkat dan hal ini berharap memacu neraca perdagangan kedua pihak.

Terkait ini, data menunjukkan bahwa 5 tahun terakhir ternyata neraca perdagangan dengan Arab cenderung defisit. Hal ini terlihat dari data 2016, defisitnya mencapai US$1,39 miliar yaitu ekspor ke Arab US$1,33 miliar dan impor dari Arab US$2,73 miliar. Pada 2015 defisit mencapai US$1,36 miliar yaitu ekspor keArab US$ 2,06 miliar dan impor dari Arab mencapai US$ 3,42 miliar.

Selain kerja sama investasi di bidang migas, potensi kepariwisataan di Indonesia secara tidak langsung juga memberikan potensi yang sangat besar sehingga peluang ini dapat dimanfaatkan kedua negara. Paling tidak minat kunjungan wisatawan secara global yang terus meningkat menjadi argumen tentang urgensi pengembangan kepariwisataan.
Fakta ini tentu menjadi pertimbangan penting karena pemasukan dari sektor migas baik dari Arab dan Indonesia cenderung menurun.

Bahkan harga minyak mentah dunia yang terus merosot juga berpengaruh signifikan terhadap pemasukan anggaran bagi kedua negara. Fakta ini menjadi alasan mengapa Arab akhirnya juga mengajukan utang untuk dapat menutup anggaran. Asumsi yang mendasari karena 75% anggaran Arab dipasok dari penerimaan minyak sehingga ketika harga minyak merosot secara tidak langsung ini berpengaruh terhadap kemampuan anggaran Arab. Fakta ini memberikan peringatan dari pentingnya pengembangan energi terbarukan karena ketergantungan terhadap migas menjadi ancaman serius bagi Indonesia dan Arab.