Selasa, 07 Maret 2017

Bila Pendidik Berpolitik Praktis

Bila Pendidik Berpolitik Praktis
Sidharta Susila  ;   Pendidik di Muntilan
                                                        KOMPAS, 06 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Berpolitik adalah hak. Tetapi tidak semua hak, termasuk hak berpolitik praktis, harus didapatkan. Lebih-lebih bagi pendidik bila karenanya berpotensi mengganggu martabat dan keselamatan jiwa.

Pendidik adalah lentera kehidupan. Ia pencerah kehidupan. Lentera itu menerangi siapa dan apa saja. Ia memberikan diri dan mencerahkan yang lain tanpa memihak dan bersyarat. Lentera tak mengenal sekat. Juga tidak membuat sekat. Tidak memisahkan, apalagi memecah belah.

Pemberian dirinya tulus dan ikhlas. Itulah sebabnya guru diyakini sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Kebahagiaan dan kebermaknaan seorang pendidik bukan karena mendapatkan, memiliki, menguasai, apalagi mengeksploitasi; tetapi memberdayakan dan membebaskan anak didik atau siapa saja yang dilayaninya. Kompetensi dan kemampuan manajerial pendidik diniscayakan melulu demi semakin mampu memberdayakan dan membebaskan liyan agar menjadi insan yang unik secitra penciptanya. Begitulah pendidik menjadi rekan Sang Pencipta dalam terus-menerus menaburkan rahmat kehidupan.

Tak mengherankan begitu banyak kita temukan pendidik yang menjadi panutan kehidupan. Mereka menjadi rujukan untuk melumerkan kemelut kehidupan. Tutur, nasihat, dan tindakannya yang santun mengurai kekusutan. Semua itu dimungkinkan hanya karena pendidik menjalani hidupnya dalam laku membebaskan diri dan liyan yang dilayani dari hasrat egois. Demi hal ini mereka memilih jalan hening dan sunyi, jauh dari hasrat beroleh panggung.

Pendidik semacam itu banyak kita temukan di pesantren, seminari, biara, tetapi juga di sekolah dan perguruan tinggi. Yang selalu sama dari para pendidik sejati adalah mereka dikenal dan terkenal bukan karena infotainment atau panggung yang sengaja diciptakan/direkayasa.

Kontras dan ironis

Tidakkah segala hal yang kita kenal tentang pendidik sejati di atas berbalikan dengan pelaku politik praktis? Banyak yang memandang bahwa kiblat politik adalah kepentingan. Berkawan atau melawan tergantung kepentingan. Kebenaran yang diyakini tergantung dari kepentingan beroleh kekuasaan. Maka sering kali politisi tak konsisten dan manipulatif. Dan pendidik sering menjadi satu adonan atau hiasan pemikat untuk mewujudkan kepentingan politik.

Perilaku politisi praktis amat berbalikan dengan laku pendidik. Pendidik tak segan mengakui keringkihan dan kerapuhan dirinya. Tetapi politisi tak pernah membiarkan dirinya tampak ringkih, rapuh, dan selalu benar. Politisi ingin menguasai sebanyak mungkin orang. Pendidik justru membebaskan dan memberdayakan.

Tak jarang aksi politik praktis memanipulasi aneka hal, bahkan mengeksploitasi manusia (pemilih). Manusia adalah obyek, angka belaka bagi hasrat berkuasa. Sementara pendidik menyikapi dan memperlakukan liyan sebagai pribadi yang unik, bermartabat, dan tak tergantikan.

Maka pastilah teramat rumit bagi pendidik, manusia yang bertekun menenun kebermartabatan jiwa dalam hening, terjun dalam hiruk-pikuk panggung politik yang acap kali penuh dusta dan nista. Tetapi para juragan politik sadar bahwa pendidik adalah aset bagus untuk menuntaskan hasrat berkuasa.

Kita sungguh waswas ketika pendidik akhirnya dilibatkan dalam gerak politik praktis. Mereka tak lagi dihadirkan sebagai pribadi. Kehadirannya tak lebih dari materi, hiasan elok yang karakter dan sifatnya amat dipuja masyarakat. Hakikat dan martabat pendidik dalam gawe politik praktis dimerosotkan. Dengan lihai dan licik citra elok yang melekat pada pendidik sengaja ditampilkan petarung politis agar masyarakat hilang nalar hingga tak menemukan kebusukan hasrat dan tujuan politis.

Maka dalam banyak hal hadir dan dilibatkannya pendidik dalam gawe politik justru efektif mengaburkan fakta dan membelokkan kebenaran. Apalagi bila yang dihadirkan sosok pendidik yang santun atau agamais. Nalar masyarakat cenderung lebih gampang dilumpuhkan.

Ketika nalar melumpuh, masyarakat tak lagi menjadi pribadi yang unik. Mereka menjadi gerombolan. Dengan gampang hakikat manusia beralih menjadi hakikat bebek yang gampang mengekor seragam dalam gerombolan. Juga meski bila sejatinya sedang dituntun berbarengan masuk jurang.

Sungguh sulit titian seorang pendidik yang dimasukkan atau sengaja terjun dalam panggung politik praktis. Alih-alih merawat jiwa dan menghadirkan pencerahan, ia justru berpotensi mengaburkan serta membelokkan kebenaran. Kontras dan ironis.