Selasa, 14 Maret 2017

ACI

ACI
Samuel Mulia  ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 12 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kalau saya mengajukan pertanyaan pada Anda sekalian sebuah pertanyaan soal mencintai negeri ini, apa yang kira-kira akan menjadi jawaban Anda? Contohnya seperti ini. Apakah Anda benar mencintai Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya? Apakah Anda merasa bangga menjadi bangsa Indonesia dengan mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?

"Aku ini kalau berbahasa Indonesia jelek banget."

Sejujurnya saya ini mau mengaku pada Anda semua, mengapa saya mengajukan pertanyaan di atas sebagai pembuka tulisan ini. Begini ceritanya. Satu minggu yang lalu, saya dibuat kesal gara-gara mendengar pembicaraan seorang bapak pada temannya di dalam pesawat terbang. Saya tidak menguping karena ia bersuara sangat keras sehingga saya bisa mendengar semua percakapannya dengan jelas.

"Aku ini kalau berbahasa Indonesia jelek banget, sampai stafku sering kali mengoreksi. Aku ini lebih bagus kalau pakai bahasa Inggris." Sambil mengobrol, ia menggenggam sebuah buku tebal berbahasa Inggris yang sama sekali tak dibacanya selama penerbangan itu.

Mendengar dan melihat caranya membawa diri, awalnya saya ingin memberi judul tulisan ini "mulut besar". Tetapi ketika gendang telinga saya mendengar kalimat, aku ini kalau berbahasa Indonesia jelek banget, saya kemudian menggantinya dengan judul di atas yang Anda semua tahu, itu sebuah singkatan dari Aku Cinta Indonesia.

Selama kurun satu jam lebih sekian menit itu saya dibuat kesal bukan karena mulut besarnya, tetapi kalimat di atas itu terus mengiang di telinga, bahkan ketika saya sedang berusaha menghapusnya dengan melihat tayangan film.

Sejujurnya, kalimat yang dikeluarkan dari mulut besar si bapak itu sudah acap kali saya dengar dari beberapa teman atau klien, yang beruntung pernah tinggal dan bersekolah di luar negeri dalam kurun waktu yang cukup lama, dan kemudian pulang kampung dan mencari nafkah di negerinya sendiri.

Melihat kejadian itu, dan dengan mengingat kepandaian saya yang di bawah standar, saya hanya berpikir begini. Kalau seseorang bisa berbahasa asing dengan hebat, lancar, benar, dan tepat, serta dapat membaca novel atau apa pun dengan bahasa asing, mengapa ia tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?

Apakah karena...?

Maka seperti biasa, saya mulai memeras otak yang tajamnya tak seberapa ini. Apakah karena ia merasa kalau menggunakan bahasanya sendiri itu tidak memberi gengsi, tidak memberi keuntungan, terutama untuk berkomunikasi sebagai warga dunia?

Apakah karena ia merasa bahwa bahasa Indonesia yang bukan digunakan sebagai bahasa internasional tidak perlu mendapat porsi yang penting untuk dipelajari dan dikuasai? Kalaupun bahasa Indonesia tidak merupakan bahasa internasional, tidak pula digunakan dalam menjalani profesinya sehari-hari, apakah itu tidak cukup untuk membuatnya bangga, bahwa ia bisa fasih menggunakan sekian bahasa, termasuk bahasa Indonesia?

Apakah sejujurnya kalimat yang dikeluarkannya dari lidah tak bertulang dengan ringannya itu sebuah bukti kalau ia tidak mencintai negeri ini, atau hanya mencintai setengahnya saja? Karena buat saya, cinta itu bisa bermacam bentuknya, tetapi apa pun bentuknya, itu harus dibuktikan dengan nyata dan bukan hanya omongan saja.

Cinta Anda kepada Tuhan, pasangan, keluarga, diri sendiri, dan negara juga harus ada bukti nyatanya. Kalaupun bentuk cintanya terhadap negeri ini bukan dengan mampu berbahasa dengan benar, apakah mengeluarkan kalimat macam itu dianggap pantas?

Karena saya mempunyai kesan, bahwa ada kebanggaan seseorang dapat berbahasa asing dengan benar ketimbang mampu berbahasa Indonesia dengan benar. Itu mungkin yang menyebabkan bapak yang saya jumpai itu dapat mengutarakan ketidakmampuannya berbahasa Indonesia dengan ringannya dan dengan lantangnya tanpa merasa terbeban.

Mencintai itu butuh pengorbanan, mencintai itu tidak bisa setengah-setengah. Mencintai itu menuntut Anda untuk bersikap. Mencintai atau tidak mencintai. Karena yang setengah itu membuat seseorang tak pernah serius menjalani apa pun.

Selama penerbangan itu, saya berpikir keras, bagaimana seorang warga negara Indonesia bisa meleceh dengan lantang sebuah kalimat macam saya jelek kalau berbahasa Indonesia, tetapi masih berwarga negara Indonesia dan mencari nafkah di negeri ini?

Sekarang, saya mau mengajukan pertanyaan pada saudara-saudari sekalian. Saya berjanji, ini pertanyaan yang terakhir untuk hari ini. Tentu Anda tak perlu melayangkan jawaban ke kantor redaksi, cukup di hati Anda saja. Begini pertanyaannya.

Kapan kira-kira Anda akan berhenti mengatakan bahwa bahasa Indonesia saya itu jelek banget, dan kapan Anda mulai belajar untuk mencintai negeri ini dengan belajar berbahasa Indonesia agar tidak jelek?

Kalau sudah bertahun lamanya Anda selalu berkata dengan ringannya kalau bahasa Indonesia saya jelek, dan Anda pun tak tergerak untuk menjadi lebih baik sampai sekarang ini, mengapa Anda bersikap untuk memilih tetap jelek dan menjadi orang asing di negeri sendiri?