Kamis, 01 Juni 2017

Islam Mazhab Medsos

Islam Mazhab Medsos
Komaruddin Hidayat  ;   Yayasan Pendidikan Madania Indonesia
                                               MEDIA INDONESIA, 31 Mei 2017



                                                           
DALAM diskusi teologi Islam muncul perdebatan klasik terhadap sebuah pertanyaan, apakah manusia memiliki kebebasan memilih dan menentukan tindakannya sendiri, ataukah nasib manusia semata wayang yang digerakkan Sang Dalang yaitu Tuhan? Kedua kutub itu masing-masing memiliki rujukan teks Alquran. Lalu muncul pendapat di antara keduanya bahwa manusia memiliki kebebasan, tapi tetap dalam keterbatasan di bawah kekuasaan dan kehendak Tuhan. Ketiga mazhab teologi itu produk tafsir dan penalaran manusia atas teks Alquran yang kemudian berkembang dalam sejarah dan masing-masing memiliki pengikut. Berjilid-jilid kitab klasik membahas perdebatan itu. Menjadi masalah sosial ketika perbedaan tafsir itu berkembang menjadi ideologi yang mematikan tradisi dialog kritis dan menimbulkan perpecahan serta percekcokan sesama umat Islam.

Perbedaan tafsir yang melahirkan perbedaan mazhab itu juga terjadi dalam pemikiran hukum Islam (fikih) dan pemikiran politik. Misalnya, adakah Islam mewajibkan membentuk negara Islam, ataukah yang primer itu bergerak pada tataran kemasyarakatan? Adakah membentuk sistem demokrasi sejalan Islam, ataukah mewajibkan sistem kekhalifahan, itu semua tafsir dan produk sejarah sepeninggal Rasulullah. Karena hasil ijtihad para ulama dan sarjana Islam, maka sulit ditemukan kata sepakat mengingat tiap-tiap pemikir punya argumen serta tumbuh dalam konteks sosial berbeda.

Tantangannya berbeda, bacaan buku-bukunya berbeda, dan lingkungan sosial, politik, dan ekonominya juga berbeda. Namun, para pemikir kenegaraan memandang model kekhalifahan itu sudah berakhir. Sebatas wacana sah saja, tetapi pada tataran implementasi sangat sulit dilaksanakan. Kecuali ketika jumlah ummat Islam sedikit dan belum muncul negara bangsa.

Ustaz google

Mazhab artinya jalan yang mengantarkan pada tujuan. Dalam konteks pemikiran keagamaan, mazhab berarti sebuah metode yang dirumuskan ulama atau pemikir ahli dalam rangka membantu umat beragama untuk mendekati dan meraih pemahaman Islam yang benar dan mudah yang bersumber pada Alquran dan Sunnah Rasul. Ibarat Alquran dan Sunnah Rasul itu mata air, maka mazhab adalah jalan menuju ke sana, untuk membantu umat mendekati ajaran agama secara benar. Ulama ahli itu merumuskan metodenya setelah mendalami isi Alquran dan hadis secara mendalam, disertai argumen yang sistematis untuk mendukung pemikirannya. Dengan demikian, orang yang setuju ataupun yang menolak bisa mengikuti argumen yang dibangun dengan jalan membaca karya-karya tulis mereka.

Mazhab itu sangat diperlukan agar orang awam yang tidak ahli agama mendapatkan bimbingan dan jalan yang mudah untuk memahami Islam. Bayangkan saja, bagi masyarakat awam, begitu membuka Alquran dan tafsirnya, pasti tidak mudah menangkap pesan Alquran yang kadang terkesan paradoksal antara statement ayat yang satu dan yang lain, misalnya mengenai kebebasan manusia. Bahkan untuk menentukan awal Ramadan saja terdapat mazhab hisab dan rukyat.
Sekarang ini muncul mazhab baru dalam memahami Islam, yaitu mazhab medsos. Sebuah jalan dan pembelajaran agama yang didapat dengan mudah, tanpa harus membaca kitab tebal-tebal serta berguru lama-lama pada kiai. Melainkan cukup memiliki handphone yang memiliki aplikasi Facebook (FB), Whatsapp (WA), Twitter, Instagram, Google, dan aplikasi lain yang berbasis internet.

Muncul sebuah jargon baru; Anda bertanya, ustaz google menjawab. Baik untuk berdakwah maupun untuk mempelajari agama, cukup lewat WA atau FB, di sana bertebaran informasi agama. Bahkan mereka sering terlibat perdebatan dengan modal pengetahuan yang diperoleh melalui copas dan forward yang beredar di medos, terutama WA. Apakah kelebihan dan kelemahan mazhab medsos? Pertama, istilah mazhab medsos sendiri pasti mengundang pro-kontra. Kedua, bagi yang serius ingin melakukan riset kepustakaan, medsos menyediakan fasilitas untuk mengakses sumber informasi keilmuan yang amat kaya, seperti e-book atau e-journal sehingga perangkat handphone bisa berfungsi sebagai mobile-library. Ratusan ribu judul buku agama yang klasik dan kontemporer tersedia semuanya.

Ketiga, bagi mereka yang tidak sempat atau malas membaca buku, medsos menyajikan sekian banyak penggalan informasi keagamaan ibarat makanan cepat saji yang siap disantap. Keempat, wacana keagamaan di medsos bersifat sangat egaliter, siapa pun bisa memberi tausiah, berbantahan, bahkan sampai pada sikap mencaci dan mengafirkan jika tidak sependapat. Pembaca tidak tahu kualifikasi dan orisinalitas pendapat keagamaan yang di-posting, apakah itu sekadar forward dan copas, hasil baca buku, atau sekadar iseng. Atau sengaja ingin menciptakan perdebatan kontroversial.

Kelima, perdebatan emosional, sampai pada taraf caci maki, mudah muncul ketika paham keagamaan dikaitkan dengan sikap dan pilihan politik serta menyangkut isu mazhab dan keyakinan di luar mainstream, misalnya Syiah dan Ahmadiyah. Peristiwa pilkada DKI yang belum lama berlalu memberikan contoh dan temuan nyata bahwa paham keagamaan dan sikap politik saling berkaitan.

Namun, yang menonjol ialah sikap emosional like or dislike, bukan perdebatan argumentatif ilmiah layaknya perdebatan dalam mazhab tradisional. Sikap emosional cenderung menolak berpikir panjang dan detail, melainkan langsung pada kesimpulan setuju atau tidak setuju. Jadi, siapa pun yang bergabung dalam komunitas mazhab medsos sebaiknya bisa mengendalikan emosinya.

Eklektik dan fragmentatif

Lontaran pemikiran dalam medsos biasanya fragmentatif karena keterbatasan ruang. Kalaupun panjang, orang enggan membacanya. Terlebih mereka yang sibuk, tidak tertarik mengikuti argumen yang njlimet, detail. Makanya mazhab medsos pemikirannya bersifat eklektik, campuran dari berbagai tulisan orang, sambung-menyambung, tidak solid, dan kadang tidak sistematis. Terserah pembaca untuk memilih, menimbang, dan memutuskan sendiri, tak ada hubungan guru-murid secara langsung. Tak ada tokoh utama yang memimpin wacana publik dalam medsos.

Bahkan, orang pun bisa memalsukan identitas aslinya. Atau namanya dibajak. Makanya, setiap netizen yang bergabung dalam pemikiran Islam mazhab medsos, dalam waktu yang sama bisa berperan sebagai guru atau murid. Jika tidak setuju, bebas keluar dari jemaah netizen atau membantahnya, sejak dengan kalimat yang cerdas, halus, sopan, sampai yang terkesan sarkastik.

Perkembangan sosial ke depan, komunitas Islam mazhab medsos diperkirakan semakin membesar terutama ketika bulan pilkada atau pemilu tiba. Lebih seru serta heboh manakala para politikus mengapitalisasi isu agama untuk mendukung salah satu paslonnya dengan menggunakan sarana medsos sebagai ajang promosi dan kampanye, apakah kampanye putih, abu-abu, atau hitam. Kita lihat saja nanti, apakah prediksi ini sahih atau meleset. Namun saya kira, dan berharap, semakin cerdas dan dewasa masyarakat, ke depan mazhab Islam medsos kualitasnya akan meningkat dan terjadi seleksi alamiah. Yang tidak bermutu tidak akan laku dalam pasar bebas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar