Minggu, 12 Maret 2017

SBY dan Jokowi

SBY dan Jokowi
Putu Setia  ;  Pengarang;  Wartawan Senior Tempo
                                                     TEMPO.CO, 11 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ketika saya berkunjung ke padepokannya, Romo Imam asyik dengan handphone-nya. "Saya menunggu cuitan Pak SBY. Sampai kemarin belum ada. Sekarang buka lagi," katanya.

"Apakah penting?" tanya saya. Romo menjawab, "Biasanya kalau Pak SBY punya masalah sekecil apa pun, pasti menulis di Twitter. Setelah bertemu Pak Jokowi, mestinya beliau menulis apa isi pertemuan itu. Pengikutnya yang jutaan tentu ingin tahu kabar itu."

Sebenarnya saya tak tertarik ngobrol soal ini. "Mungkin Pak SBY berubah, tak lagi obral cuitan yang kesannya hanya curhat. Beliau sudah bisa menahan diri," kata saya.

Romo malah bersemangat. "Itu sangat wajar. Orang berubah itu tak salah. Perubahan bisa terjadi karena seseorang melakukan introspeksi, melakukan perenungan. Saya dengar Pak SBY pergi bersama keluarga ke Gunung Lawu selesai putaran pertama pilkada DKI. Kekalahan putranya, Agus Yudhoyono, dalam pilkada Jakarta disikapi SBY dengan menyepikan diri lalu mendengarkan suara semesta, yang sejatinya adalah suara dari hati yang paling murni. Itu kan langkah yang bagus. Mungkin baru disadari ada yang salah dengan terlalu cepat mempromosikan anaknya. Kalau pun pilkada dimaksudkan untuk menyekolahkan anaknya ke dunia politik, sekolah itu terlalu tinggi. Dasarnya belum kuat."

"Apa pertemuan di istana itu berkaitan dengan pilkada putaran kedua?" tanya saya, asal-asalan. Romo dengan tenang menjawab. "Keduanya menyebut membicarakan masalah politik dan ekonomi bangsa. Apa termasuk pilkada Jakarta, kita tak tahu. Tapi SBY kan jago strategi. Sehari sebelum ketemu Jokowi, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat sudah menyatakan ke mana dukungan Agus akan dibawa itu terserah Agus Yudhoyono sendiri, bukan urusan partai. Ini mau mengabarkan bahwa SBY dan Demokrat tetap sebagai penyeimbang, tidak dukung calon ini dan calon itu. Saya kira ini rikuh dibicarakan keduanya."

"Apa membicarakan skandal e-KTP? Kok waktunya bersamaan dengan sidang kasus e-KTP itu?" tanya saya lagi, masih asal-asalan. Romo tertawa. "Semua bisa dikait-kaitkan. Mungkin ini kebetulan saja. Asal tahu juga, Jokowi itu punya strategi jitu, suka menyenangkan orang, seperti memberi hadiah sepeda, misalnya. Nah, tamu istimewa ini tentu tak perlu sepeda. Dengan menerima SBY pada tanggal 9, tentulah SBY sangat gembira sebagai tokoh yang senang angka sembilan."

Kini saya ikut tertawa, kok ada bau takhayulnya. Romo cepat melanjutkan, "Sebenarnya tak penting apa yang dibicarakan antara presiden aktif dan presiden pensiun ini. Kata-kata keduanya pasti tak banyak arti. Pertemuan itu yang lebih punya makna. Begitu tangan keduanya bersalaman, maka urusan sadap-menyadap sudah selesai. Begitu keduanya menyeruput teh manis, maka urusan Antasari Azhar pun sudah tak perlu lagi disebut. Kedua hati sudah berbicara dalam diam. SBY dalam posisi sudah madeg pandhito dan Jokowi dalam posisi jumeneng amangkurat, tak perlu lagi blakblakan bicara, seperti ketika keduanya cuit-cuitan di Twiter. Ah, ini bahayanya media sosial, berbicara tanpa saling menatap mata. Kata-kata hanya keluar lewat mulut, bukan lewat hati."

Saya kira Romo ngelantur, karena itu saya memotong: "Romo sebenarnya mau mengatakan apa sih soal pertemuan Jokowi-SBY?"

Romo menjawab sambil menatap handphone-nya. "Para pengamat sibuk menebak apa isi dialog kurang dari sejam itu. Padahal pertemuan ini hanya untuk mengubur sindiran-sindiran yang dicuitkan keduanya selama ini. Persoalan pokoknya belum selesai. Kan lumpia yang dihidangkan belum ada yang makan."