Selasa, 07 Maret 2017

Kunjungan Multidimensi Raja Salman

Kunjungan Multidimensi Raja Salman
Komaruddin Hidayat  ;   Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
                                             MEDIA INDONESIA, 06 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KUNJUNGAN Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia selama sembilan hari tentu saja memiliki multidimensi, multitafsir, dan multimakna. Terserah Anda mau melihatnya dari sisi mana. Dari sisi ekonomi, boleh dikatakan kedatangannya memberikan angin segar. Janji surga. Semoga benar-benar jadi kenyataan yang katanya mau berinvestasi sekitar Rp315 triliun dalam berbagai sektor industri. Dalam hal ini pemerintah mesti aktif, tidak cukup sekadar menunggu.

Di sana terdapat formula bahwa investor asing dengan jumlah investasi besar mensyaratkan tiga hal. Pertama, negara itu secara politik mesti stabil dan aman. Kedua, peraturannya jelas dan tidak rumit. Ketiga, dari sisi bisnis menjanjikan keuntungan-keuntungan. Jika ketiga syarat tadi tidak tercukupi, uang akan terbang bagaikan belalang, mencari negara lain yang aman dan menguntungkan. Mungkin saja Tiongkok, Malaysia, atau negara lain.

Kalau Anda menteri pariwisata, khususnya pemerintah Bali, kehadiran rombongan Raja Salman sebanyak 1.500 orang ke Pulau Dewata tersebut bagaikan durian runtuh. Sebuah rezeki dan sekaligus promosi bagi dunia turisme Indonesia. Para pangeran dan orang-orang kaya Arab yang selama ini lebih senang rekreasi ke Eropa, semoga saja, akan menjadikan Bali sebagai salah satu tujuan wisata mereka. Bayangkan, Raja Arab yang selama ini dipersepsikan eksklusif dan menganut paham keagamaan yang puritan dan rigid mau datang ke Bali untuk berlibur selama enam hari. Sekali lagi, ini bagaikan durian matang yang runtuh dan tinggal melahapnya.

Berdiri sejajar

Bagi umat Islam Indonesia, yang setiap salat umat Islam menghadapkan muka ke Kabah, juga jumlah hajinya terbanyak dan dikenal tertib dan santun, tentu saja kunjungan Khodimul Haramain (pelayan dua kota suci Mekah-Madinah) itu merupakan balasan persahabatan iman yang sangat hangat. Karena itu, tidak mengherankan, bahkan Raja Salman sendiri yang kagum dan gembira melihat antusiasme warga dalam menyambutnya. Meskipun hujan deras, masyarakat Bogor berdiri untuk menghormati sosok tamu agung. Kata Alwi Shihab, Raja dan rombongan mengatakan baru kali ini menerima sambutan selama kunjungan ke luar negeri yang sedemikian meriah dan ramah.

Bagi Presiden dan pemerintahan Joko Widodo, meskipun sebagian orang enggan mengakui, ini merupakan keberhasilan diplomasi yang menaikkan posisi dan citra Indonesia di mata Arab Saudi. Katanya, mereka kaget melihat pembangunan di Jakarta yang megah sehingga Indonesia tidak bisa disejajarkan dengan Bangladesh yang diasosiasikan sebagai supplier tenaga kerja ke Arab. Indonesia ialah bangsa dan negara besar, mesti berdiri tegak dalam posisi sejajar ketika berbicara soal bisnis, terlebih lagi kebudayaan. Indonesia jauh lebih kaya, yang sebagian baru disaksikan dari dekat di Bali. Seeing is believing.

Yang paling heboh di media-media sosial ialah ketika kunjungan Raja Salman ini ditarik ke wacana politik, terutama dalam konteks jelang pilkada DKI putaran kedua. Bagi kalangan pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan pendukung Anies, berbagai event selama Raja di Indonesia lalu ditafsirkan, dimaknai, dan digoreng sedemikian rupa untuk menguatkan pilihan jago mereka. Misalnya, foto jabat tangan Raja Salman dengan Ahok disebarkan buzzer pro-Ahok sehingga menjadi viral mencapai puluhan ribu pengunduh. Lalu diberi komentar bahwa Raja Salman memberi restu bagi pencalonan Ahok.

Bagi yang pro-Anies, kehadirannya ialah untuk menunjukkan solidaritas Islam yang selama ini secara ekonomi Indonesia dikuasai modal Tiongkok, dan kini Raja Salman ingin membantu umat Islam Indonesia dengan mengucurkan dana ratusan triliun rupiah, untuk membendung ekspansi modal dari ‘Negeri Tirai Bambu’ tersebut. Ini bukan sekadar kunjungan diplomasi kenegaraan, melainkan lebih dari itu ialah untuk mengeratkan ukhuwwah islamiyah antara Arab Saudi dan Indonesia maka pilkada nanti jangan pilih Ahok. Demikianlah, benturan kepentingan dan pemihakan politik jelang pilkada telah meramaikan bagaimana memaknai kunjungan Raja Salman ini.

Namun, berbagai penafsiran tadi tak lebih sebagai akrobat hermeneutika. Orang menafsirkan menurut seleranya sendiri sehingga tidak mungkin seragam, bahkan menjadi perbedaan yang menajam. Bagi pengamat ekonomi, tentu agenda primernya ialah menjajaki kerja sama ekonomi ketika pertumbuhan ekonomi di Asia lebih menjanjikan ketimbang mitra tradisional mereka di Barat. Bagi Arab Saudi, Indonesia yang mayoritas muslim tentunya memiliki ikatan batin lebih hangat dan kuat. Namun, orang bijak bilang, uang ketika bepergian ke luar negeri juga akan mencari teman karibnya, yaitu uang. Pedagang akan berkawan dengan pedagang. Uang hanya mengenal dalil untung-rugi, adapun nasionalisme dan agama hanya tambahan belaka.

Pesan simbolis

Karena itu, jangan heran jika salah satu agenda kunjungan Raja Salman dan rombongan ialah ke Tiongkok. Ukhuwwah tijariyah wa fulusiyah, persahabatan peradangan dan uang, bukan persaudaraan Islam. Alih-alih perintah belajarlah kamu sampai ke negeri Tiongkok, tetapi berdaganglah kamu sampai ke negeri Tiongkok. Masyarakat Indonesia pun memperoleh banyak pelajaran dan pengalaman baru dari kunjungan ini. Bahwa Raja Salman ialah sosok yang santun, inklusif, dan antiradikalisme-terorisme yang secara simbolis, keluarga Densus Antiteror yang suaminya meninggal akan diberi hadiah ibadah haji. Kesediaan berswafoto dengan Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani juga menunjukkan sikapnya yang human, kebapakan.

Raja juga bertemu dengan wakil tokoh lintas agama, para ulama, dan politikus. Dalam usianya yang ke-83, kesediaan melayani berbagai acara di Indonesia sungguh sangat mengesankan. Bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia, semoga saja penerimaan pada tamu agung yang begitu hangat, spontan, dan damai merupakan karakter asli kita. Janganlah suasana yang sudah sejuk dan kondusif untuk bekerja itu rusak oleh persaingan pilkada yang kadang tak lagi mengindahkan etika sosial. Jika kita tak mampu menjaga kedamaian dan stabilitas politik, investor asing pasti hengkang. Uang selalu ingin tinggal di tempat yang aman dan rakyatnya pekerja keras serta jujur.

Di atas semua itu kunjungan ini punya makna historis. Bayangkan, kepulauan Nusantara yang letaknya jauh dari Saudi Arabia, terhalang oleh India, tetapi kenyataannya menjadi kantong umat Islam terbesar di dunia. Islam yang bermula dari dataran Arab Saudi, dibawa ke Nusantara oleh para pedagang Arab sambil berdakwah. Mereka menyebarkan Islam dengan bijak dan damai, tanpa teriak-teriak dan kekerasan, tetapi menggunakan bahasa dagang yang senang dengan lobi dan persahabatan. Karena itu, Islam di Indonesia sangat bersahabat dengan budaya lokal dan kebinekaan budaya dan etnis.

Kunjungan ini mengingatkan dan menapak tilas perjalanan sejarah panjang pedagang Arab muslim ke Nusantara dengan cara yang damai. Begitu juga ketika Raja Salman ke Tiongkok, itu pun mengulangi hubungan dua bangsa yang sudah berabad-abad terjalin. Dari dulu Nusantara sudah familier dengan pedagang Arab, Tiongkok, dan Eropa, yang sekarang digantikan Amerika. Hanya saja Eropa meninggalkan memori imperialistis dan eksploitatif. Bagaimana Amerika Serikat?