Kamis, 09 Maret 2017

KTT IORA: Momentum Penguatan Kerja Sama

KTT IORA: Momentum Penguatan Kerja Sama
Retno LP Marsudi  ;    Menteri Luar Negeri RI
                                                        KOMPAS, 08 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada tahun 2009, Robert Kaplan, seorang pakar ilmu politik internasional ternama, menulis sebuah artikel dalam majalah Foreign Affairs. Ia menyebut Samudra Hindia sebagai ”panggung utama abad ke-21”.

Julukan tersebut sejalan dengan fakta yang menunjukkan bahwa Samudra Hindia merupakan kawasan yang sangat strategis. Kawasan tersebut menjadi rute perdagangan utama dunia yang dilewati setengah dari kontainer perdagangan dunia dan dua pertiga perdagangan minyak dunia. Kawasan tersebut juga tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan global. Pada tahun 2015, saat ekonomi dunia hanya tumbuh 2,6 persen, pertumbuhan rata-rata sebagian besar anggota IORA mencapai 4,3 persen.

Di tengah peran penting kawasan tersebut, Indian Ocean Rim Association (IORA) hadir untuk mempererat kerja sama di antara negara-negara anggotanya, termasuk dalam bidang ekonomi. Pada tahun 2015, tongkat estafet ketua asosiasi kawasan tersebut beralih dari Australia ke Indonesia. Indonesia bertekad untuk tidak hanya sekadar menjadi ketua bagi IORA, tetapi juga menjadi pemimpin.

Kepemimpinan Indonesia selama ini di berbagai organisasi, baik di forum regional maupun internasional, selalu ditunjukkan melalui berbagai inisiatif baru yang memberi dampak perubahan positif. Gaya kepemimpinan Indonesia ini bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya, peran kepemimpinan Indonesia terlihat melalui sejumlah organisasi internasional. Di ASEAN, melalui Bali Concord III, Indonesia berperan penting dalam pembentukan Masyarakat ASEAN. Sementara di APEC kiprah Indonesia terlihat dalam Bogor Goals 1994 yang sampai saat ini terus menjadi aspirasi bagi negara anggota APEC.

Hal serupa juga telah dipraktikkan melalui IORA di mana Indonesia mendorong sejumlah terobosan penting guna memperkuat kemitraan di kawasan untuk memelihara perdamaian dan stabilitas kawasan, sebagai prasyarat utama bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan menuju kawasan Samudra Hindia sebagai pusat pertumbuhan yang baru.

Terobosan pertama yang dilakukan adalah menginisiasikan diskusi mengenai Jakarta Concord, satu dokumen strategis dan visioner untuk meningkatkan kemitraan IORA dan pemetaan arah masa depan organisasi tersebut. Jakarta Concord memperkuat kerja sama dalam enam prioritas IORA dan mendorong kerja sama pada tiga bidang baru, yakni blue economy, pemberdayaan perempuan, dan promosi demokrasi.

Indonesia juga telah mendorong langkah-langkah konkret untuk menerapkan visi strategis dalam Jakarta Concord tersebut. Untuk itu, inisiatif kedua Indonesia adalah mengegolkan pembahasan mengenai IORA Action Plan yang berisi target terukur dan program konkret peningkatan kerja sama di antara negara anggota. Rencana aksi dijabarkan dalam program kerja jangka pendek, menengah, dan jangka panjang yang dapat dinilai dan diukur pelaksanaannya.

Dokumen penting ketiga adalah Deklarasi untuk Mencegah dan Melawan Terorisme dan Ekstremisme dengan Kekerasan. Deklarasi ini menjadi pijakan atas komitmen bersama anggota IORA untuk menyuarakan moderasi dan toleransi, serta meningkatkan kerja sama melalui dialog dan pertukaran informasi.

Keketuaan Indonesia ini berpuncak pada penyelenggaraan KTT IORA tanggal 7 Maret 2017 yang bertepatan dengan ulang tahun ke-20 IORA. KTT IORA yang mengusung tema ”Strengthening Maritime Cooperation for a Peaceful, Stable and Prosperous Indian Ocean” ini dihadiri oleh perwakilan dari 21 negara anggota, 7 negara mitra wicara, dan 8 organisasi internasional. KTT tersebut juga menjadi ajang bagi para pemimpin negara-negara anggota IORA untuk mengesahkan Jakarta Concord.

Sebagian pihak mungkin beranggapan bahwa KTT tersebut hanya akan menjadi pergelaran seremonial tanpa manfaat nyata. Namun, realitas yang ada justru menunjukkan kebalikannya. Kawasan Samudra Hindia tidak hanya berperan penting bagi perekonomian dunia, tetapi juga bagi perekonomian Indonesia. Tahun 2016, ekspor Indonesia ke negara-negara IORA 42 miliar dollar AS yang mencakup sepertiga ekspor total Indonesia. Dari perdagangan tersebut, Indonesia mencetak surplus 1,5 miliar dollar AS tahun lalu.

Di tengah penurunan ekspor Indonesia akibat lesunya perekonomian dunia, justru ekspor Indonesia ke beberapa negara IORA menunjukkan kenaikan yang merefleksikan potensi mereka sebagai pasar nontradisional. Sebagai contoh, ekspor Indonesia ke Afrika Selatan, Iran, dan Oman naik 9 persen tahun lalu. Mengingat perdagangan RI- IORA hanya mencakup 10 persen dari total perdagangan intra IORA, terdapat potensi besar untuk terus meningkatkannya.

Arti penting kawasan Samudra Hindia juga terlihat pada sektor investasi. Sebanyak 6 dari 20 negara sumber investasi asing terbesar Indonesia merupakan negara anggota IORA. Investasi ini pun menunjukkan peningkatan. Tahun lalu, investasi dari Singapura naik 50 persen, investasi dari Thailand naik 100 persen, dan bahkan investasi dari Mauritius meningkat lebih dari 10 kali lipat.

Negara-negara anggota IORA pun berperan penting pada sektor pariwisata. Tiga dari 4 negara asal wisatawan asing terbesar ke Indonesia merupakan negara anggota IORA. Jumlah turis dari negara IORA pun meningkat, sebagai contoh wisatawan Thailand ke Indonesia naik 6 persen, turis Australia naik 14 persen, dan wisatawan India naik 28 persen tahun 2016.

Negara-negara anggota IORA juga menawarkan peluang besar peningkatan kerja sama ekonomi bagi Indonesia, terutama dari kawasan barat IORA, mulai dari Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Afrika. Indonesia bertekad memanfaatkan peluang tersebut dengan menekankan kerja sama ekonomi sebagai salah satu fokus pembahasan saat KTT. Salah satu elemen utama dari Jakarta Concord adalah mengokohkan kerja sama ekonomi, terutama meningkatkan perdagangan dan investasi, menggerakkan pembangunan infrastruktur, memperkuat konektivitas, dan melibatkan sektor swasta, terutama UMKM.

Di KTT IORA, peningkatan kerja sama ekonomi menjadi prioritas utama. Sebagai contoh, tahun lalu Indonesia berhasil mengekspor 150 gerbong kereta api ke Banglades, salah satu anggota IORA.

Peluang kerja sama ekonomi lainnya juga ditawarkan oleh sektor perikanan.

Salah satu prioritas Indonesia lainnya adalah membumikan kerja sama IORA dengan mendorong keterlibatan para pelaku usaha. Hal itu diwujudkan dengan penyelenggaraan IORA Business Summit yang pertama kalinya di sela-sela KTT IORA.

Melalui KTT IORA, Indonesia berupaya meningkatkan kerja sama di kawasan. Indonesia juga bertekad untuk menjadikan KTT tersebut sebagai kendaraan menuju kemitraan ekonomi yang lebih kokoh antara Indonesia dan semua negara anggota di kawasan yang pada akhirnya akan membawa kita lebih dekat menuju Indonesia sebagai poros maritim dunia.