Selasa, 07 Maret 2017

Arab Saudi Melihat ke Timur

Arab Saudi Melihat ke Timur
M Hamdan Basyar  ;   Peneliti Utama Pusat Penelitian Politik LIPI
                                                        KOMPAS, 04 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Akhir Februari sampai Maret ini, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mengunjungi beberapa negara di wilayah Asia. Negara yang dituju, antara lain Malaysia, Indonesia, China, dan Jepang. Bagi Indonesia, ini kunjungan yang bersejarah dan fenomenal, mengingat kunjungan terakhir penguasa Saudi ke Indonesia terjadi pada 1970. Sementara bagi Malaysia yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Saudi sejak 1961, kunjungan akan menambah persahabatan kedua negara. Kunjungan terakhir Raja Saudi ke Malaysia terjadi pada masa Raja Abdullah pada 2006.

Sementara itu, Raja Salman ke Jepang dan China dalam rangka menjalin hubungan ekonomi yang lebih erat. Terlihat ada suatu hal yang cukup penting dalam kunjungan Raja Salman kali ini. Apalagi ke Indonesia, Raja Salman membawa rombongan yang banyak: 1.500 orang dengan 14 menteri, dan 25 pangeran.

Visi Saudi 2030

Ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump cenderung anti global dan menganut ideologi protektif, kunjungan Raja Salman ke wilayah Asia akan memberikan peluang emas untuk mewujudkan apa yang disebut sebagai Visi Saudi 2030.

Dalam dokumen yang diluncurkan pada 25 April 2016 itu, disebutkan bahwa Arab Saudi pada 15 tahun mendatang akan mengalami perubahan besar-besaran. Ada ambisi dan rencana besar untuk mengubah Arab Saudi. Visi itu tidak terlepas dari adanya defisit anggaran Arab Saudi setelah harga minyak dunia mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Sebagaimana diketahui, minyak menjadi sumber utama pembiayaan kehidupan di Saudi. Visi Saudi 2030 diyakini akan berdampak besar bagi perubahan masyarakat Arab Saudi dalam era modern, tak terkecuali perubahan sosial, politik, dan militer.

Garis besar Visi Saudi 2030 meliputi efisiensi dalam pemerintahan, peran lebih besar untuk sektor swasta nonmigas dan manajemen yang lebih agresif atas aset kerajaan. Imbasnya, kebijakan ini akan mengurangi pengeluaran pemerintah kerajaan yang selama ini dinilai boros.

Tampak jelas Saudi mencanangkan visinya berdasarkan pada tiga pilar. Pertama, Saudi akan tetap memegang status sebagai ”jantung” dunia Arab dan Islam. Penguasa Saudi menyadari di wilayah mereka ada tempat suci bagi umat Islam di mana ada Kabah sebagai arah kiblat shalat Muslim sedunia. Saudi tidak dapat terlepas dari masyarakat Muslim dunia. Dalam kaitan ibadah umrah, Saudi ingin meningkatkan jumlah jemaah yang menjalankannya. Saat ini, sekitar 8 juta jemaah per tahun yang berumrah. Pada masa mendatang akan ditingkatkan menjadi sekitar 30 juta jemaah per tahun.

Pilar kedua, Saudi telah menetapkan diri sebagai pusat investasi global. Investasi itu akan dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan mendiversifikasi pendapatan.

Pilar ketiga, Saudi ingin mentransformasikan posisi strategisnya menjadi suatu pusat yang menghubungkan tiga wilayah Asia, Eropa, dan Afrika. Saudi ingin memanfaatkan posisi geografisnya yang dapat menjadi episentrum perdagangan tiga wilayah dan sekaligus menjadi pintu gerbang perdagangan dunia.

Dengan pilar tersebut, Saudi ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka yang dalam jangka panjang dapat menyejahterakan masyarakatnya. Untuk itu, mereka akan membangun kerja sama dengan saling menguntungkan dengan berbagai pihak. Saudi menyadari sektor migas masih menjadi tumpuan utama ekonominya, tetapi mereka juga ingin mengembangkan ekonomi nonmigas. Jatuhnya harga minyak belakangan ini ikut serta dalam membangun visi Saudi yang baru.

Dalam 25 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Saudi rata-rata lebih dari 4 persen. Mereka juga termasuk dalam 20 besar ekonomi dunia. Akan tetapi, Saudi ingin meningkat lebih tinggi. Visi Saudi 2030 diharapkan dapat mendorong peningkatan tersebut. Karena itu, mereka ingin investasi di berbagai bidang dalam rangka diversifikasi ekonomi.

”Goes to the East”

Kunjungan Raja Salman ke besejumlah negara di Asia itu dalam rangka mencari peluang investasi pengembangan ekonominya. Kedatangannya di Malaysia dan Indonesia tentunya tidak lepas dari hubungan keislaman. Raja Salman menambah kuota haji kedua negara itu. Malaysia mendapatkan kuota 30.000 jemaah, meningkat dari 27.000 jemaah. Sedangkan Indonesia menerima kuota untuk 221.000 jemaah, meningkat dari 168.000 jemaah.

Hal itu sesuai dengan pilar pertama dalam Visi Saudi 2030. Selain itu, dalam rangka menjalankan pilar kedua, Saudi akan berinvestasi di kilang minyak Cilacap 6 miliar dollar AS. Ini kerja sama Aramco dan Pertamina. Indonesia sendiri berharap ada investasi dari Saudi sampai 25 miliar dollar AS.

Raja Salman juga akan berkunjung ke China dan Jepang. Tentunya ini sesuai dengan pilar kedua Visi Saudi 2030. Sebenarnya pada tahun 2016, Arab Saudi dan China sudah ada penandatanganan nota kesepahaman (MOU) kerja sama di berbagai bidang. Pada waktu itu, Pangeran Muhammad bin Salman, Wakil Putra Mahkota Saudi, berkunjung ke Beijing, Agustus 2016.

Ada 15 kesepakatan antara Arab Saudi dan China. Salah satu kesepakatan yang dibuat adalah kerja sama antara Kamar Dagang Saudi (CSC) dan Dewan Promosi Perdagangan Internasional China (CCPIT). Kunjungan Raja Salman kali ini dalam rangka memperkuat kesepakatan tahun lalu.

Sementara kunjungan Raja Salman ke Jepang dalam rangka membicarakan kesepakatan investasi 45 miliar dollar AS dengan SoftBank Group. Tur Raja Salman itu juga digunakan untuk mencari investor yang mau membeli sebagian saham perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco. Pada 2018, Aramco akan melakukan penawaran umum perdana (IPO) dengan melepas 5 persen sahamnya. Saudi berharap dengan kunjungan Raja Salman ke sejumlah negara Asia itu akan ada investor yang akan membeli saham Aramco.

Visi Saudi 2030 kurang mengarah ke AS. Kebetulan saat ini yang menjadi Presiden AS adalah Trump yang cenderung isolatif. Maka, kunjungan Raja Salman ke beberapa negara Asia dengan jumlah rombongan besar menjadi sangat wajar.