Rabu, 15 Maret 2017

Akar Akustik Kebencian Kita

Akar Akustik Kebencian Kita
AS Laksana  ;   Menulis Cerpen, Esai; Tinggal di Jakarta
                                                      JAWA POS, 13 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SUARA paling menyenangkan yang saya dengar pada masa kecil adalah suara yang muncul dari dasar sumur umum. Sumur itu terletak di kelokan jalan sebelum tanjakan ke arah krematorium dan Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu, Semarang. Di situ, orang-orang yang tinggal di daerah perbukitan mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari.

Kami selalu mampir ke sana setiap kali melintasinya, tidak untuk mengambil air karena sumur itu dalam sekali dan timbanya besar. Tidak ada satu pun di antara kami yang kuat mengambil air dengan timba besar dari sumur yang sedalam itu. Kami hanya melongokkan kepala di mulut sumur dan menyapa.

’’Halooo!’’ teriak kami.

’’Halooo!’’ sahut sumur itu.

’’Kamu sedang apa?’’

’’Kamu sedang apa?’’

’’Siapa namamu?’’

’’Siapa namamu?’’

Ia selalu mengembalikan apa yang kami sampaikan. Salah seorang teman, yang terbesar di antara kami dan paling berpengetahuan, mengatakan bahwa di dasar sumur itu ada jin yang suka menirukan apa pun omongan kami. Di sekolah, kami belajar tentang gema, tetapi kami percaya apa yang dia katakan.

Seperti kebanyakan orang menyukai misteri, kami kanak-kanak juga menyukai misteri. Ilmu pengetahuan bisa menjelaskan bagaimana gejala alam seperti gema suara kami itu terjadi, tetapi jin penunggu dasar sumur adalah sebuah misteri. Dan kami tetap percaya bahwa suara kami dikembalikan oleh jin penunggu sumur umum.

Beberapa waktu lalu, saya membaca buku bahwa gema, suara yang muncul akibat teriakan kami di mulut sumur umum, bukan melulu gejala alam, tetapi ia juga gejala spiritual. ’’Ada bunyi yang menyertai setiap tindakan,’’ kata Prabhat Ranjan Sarkar, yang dikenal dengan nama spiritual Shrii Shrii Anandamurti. Buku yang saya baca adalah kumpulan ceramahnya, diberi judul Discourses on Tantra.

Ada dua bab di dalam buku itu, yang berisi lebih dari lima puluh ceramah, yang membahas tentang akar akustik (acoustic root) yang menyertai setiap tindakan. Satu bab merupakan ceramah pengantar tentang akar akustik, disampaikan pada 1979 di Taipei. Satu bab lainnya adalah ceramah panjang dan lebih teknis tentang akar akustik aksara-aksara Indo-Arya.

Menurut dia, setiap tindakan kita selalu menghasilkan bunyi. Kita mengetuk pintu dan bunyi yang muncul adalah ’’tok-tok-tok’’ jika dituliskan dalam bahasa Indonesia, atau ’’knock-knock-knock’’ dalam ejaan bahasa Inggris. Pada saat menangis, kita mengeluarkan suara tangis. Pada saat tertawa, kita mengeluarkan bunyi hahahaha. Sekarang, berkat media sosial, orang menulis bunyi tertawa lebih beragam, bisa wakakak atau wkwkwkwkwk atau qqqqqq...

Benda-benda di alam semesta juga melakukan tindakan. Bumi mengelilingi matahari, bulan mengelilingi bumi, gelombang dan air sungai mengalir dari satu tempat ke tempat lainnya. Semua mengeluarkan bunyi. Bahkan aliran cahaya yang suaranya tak terdengar oleh telinga kita dan kucing yang mengendap-endap mengintai tikus.

Dalam spiritualitas yang diimaninya, Anandamurti meyakini –dan mengajarkan kepada para pengikutnya– bahwa pada dasarnya setiap suara adalah suci; semua berasal dari sumber yang sama, yakni zat yang mahakuasa. Akar akustik semesta, katanya, adalah suara-suara penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran. Sama sucinya dengan suara semesta adalah semua bunyi yang dihasilkan oleh ekspresi manusia, dalam bahasa apa pun.

’’Saya menghormati semua bahasa di muka bumi,’’ katanya. ’’Semua memiliki martabat yang sama.’’

Terhadap bahasa apa pun di muka bumi, ia menyebutnya ’’bahasa kita’’.

Rasa-rasanya saya tidak bisa sesaleh itu untuk menganggap semua bunyi atau seluruh akar akustikdari setiap tindakan adalah suci. Saya sulit menerima bahwa bunyi yang menyertai tindakan korup sama sucinya dengan bunyi yang menyertai ungkapan belas kasih.

Sering juga saya marah mendengar ujaran-ujaran kebencian dan caci maki, yang bahkan tidak ditujukan langsung ke saya. Dan itu kemarahan yang menguras tenaga. Sebab, jika kita turuti, setiap hari kita bisa mendengar ujaran-ujaran tunggal berisi kebencian dan caci maki. Dunia politik kita mendorong banyak orang memproduksi ujaran-ujaran tunggal semacam itu.

’’Pergilah ke pasar,’’ kata Anandamurti. ’’Di sana ada banyak suara.’’

Di dalam pasar, Anda bisa mendengar suara orang menawar daging, menawar tempe, atau suara pedagang yang minta dimaklumi karena menaikkan harga, dan sebagainya. Mungkin juga ada teriakan orang kecopetan.

Lalu, jauhilah pasar itu. Anda tahu, semua suara itu tetap ada, tetapi dari jarak tertentu kita tidak mendengar ujaran-ujaran tunggal. Kumpulan semua ujaran di pasar itu berubah menjadi dengung, bagian dari bunyi semesta yang, menurut Anandamurti, pada dasarnya suci –bagian dari penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran.

Memang tidak mudah mengambil jarak dari ’’pasar’’. Sialnya, hanya dengan membuat jarak itu kita bisa mentransformasikan suara-suara kebencian dan apa pun menjadi sesuatu yang suci. Atau, setidaknya, menjadi gaung yang menyenangkan seperti suara jin dari dasar sumur.