Minggu, 12 Maret 2017

Raja Salman dan Toleransi Beragama

Raja Salman dan Toleransi Beragama
Amidhan Shaberah  ;  Ketua MUI (1995-2015); 
Mantan Dirjen Haji dan Urusan Agama Depag RI
                                                  KORAN SINDO, 11 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Salah satu keberhasilan spektakuler dari kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud ke Indonesia adalah pertemuan beliau dengan komunitas antaragama. Jumat (3/3), Raja Salman didampingi Presiden Jokowi bertemu dengan sejumlah tokoh lintas agama di Hotel Raffles, Jakarta Selatan.

Pertemuan tersebut dihadiri 28 tokoh berbagai agama: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Dari Islam hadir Din Syamsuddin, Azyumardi Azra, Kamarudin Amin, Alwi Shihab, Yenny Wahid, Abdul Muti, Masykuri Abdullah, Komaruddin Hidayat, dan Yudie Latief. Sedangkan dari Kristen Protestan hadir Hanriette T Hutabarat, Rony Mandang, Jacob Nahuway, dan Gomar Gultom.

Sementara tokoh agama Katolik yang hadir Ignatius Suharyo Hajoatmojo, Antonius Subianto, Pascalis Bruno Syukur, dan Frans Magnis Suseno. Adapun tokoh agama Buddha hadir Hartati Tjakra Murdaya, Sri Pannyavaro, Suhadi Sanjaya, dan Arif Harsono. Dari Hindu ada Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Ketut Parwata, Letjen TNI (Purn) Putu Soekreta Soeranta, dan Made Gede Erata. Adapun dari Konghucu— Uung Sendana, Budi Santoso Tanuwibowo, dan XS Djangrana.

Dalam pertemuan bersejarah tersebut, Raja Salman meminta agar toleransi beragama terus ditingkatkan. Pada kesempatan itu, Raja Salman menyatakan dukungannya atas dialog rutin antarumat beragama di Indonesia. Dialog tersebut, kata Khadimul Kharamain, akan memperkuat hubungan masyarakat untuk menopang kestabilan negara.

Raja menyampaikan bahwa Saudi sudah melakukan hal sama, dialog antaragama untuk menentang terorisme dan radikalisme. Saudi, kata Salman, telah mendirikan sebuah lembaga nirlaba bernama King Abdullah bin Abdulaziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID) yang berlokasi di Wina, Austria. Tujuan dari LSM yang dibentuk 26 November 2012 lalu itu adalah untuk mempromosikan dialog antaragama secara global guna mencegah dan memecahkan konflik.

Raja Salman juga mengajak Indonesia untuk lebih erat melawan aksi radikalisme. Realisasi dari ajakan itu sudah dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) antara dua kepolisian yang diteken di Istana Bogor pada 1 Maret lalu Toleransi beragama, kata Salman, menjadi modal kuat untuk kemajuan bersama.

Raja memuji Indonesia karena beliau menganggap Indonesia stabil. Hal ini terjadi karena ada semangat toleransi yang ditunjukkan antarumat beragama di Indonesia. Salman mengatakan umat beragama harus saling membantu. Tanpa hal itu, sulit terjadi persatuan. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi menyatakan para pemimpin agama adalah salah satu pilar dalam rangka harmoni persatuan bangsa Indonesia. Mereka menjadi teladan bagi umatnya dalam rangka mengembangkan sikap toleransi.

Sementara itu, tokoh-tokoh lintas agama menyatakan apresiasinya atas waktu yang diluangkan Raja Salman untuk berbincang dengan mereka. Ini adalah perjumpaan simbolik dan tonggak sejarah bagi Indonesia. “Kedatangan Raja Salman menjadi siraman energi yang luar biasa bagi Indonesia,” kata Yenny Wahid yang hadir dalam pertemuan tadi.

Saudi dan Wahabi

Selama ini ada anggapan di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, bahwa Arab Saudi merupakan donatur utama Wahabisme— sebuah gerakan keagamaan yang dianggap radikal dan konservatif. Carmen bin Ladin dalam novel (true story) yang berjudul “Inside The Kingdom, My Life in Saudi Arabia“ menulis, “tidak pelak lagi wahabisme yang didanai Kerajaan Saudi merupakan penggerak terorisme.

Paham Wahabi di Saudi dan Taliban di Afghanistan, tulis Carmen, hakikatnya sama. Keduanya gerakan teroris. Beda keduanya hanya masalah pendanaan. Taliban miskin, Wahabi kaya raya. Menurut Carmen (mantan istri salah seorang putra Sheikh Muhammad (pemilik Bin Ladin Corporation) yang merupakan mitra bisnis keluarga kerajaan), Saudi mendonasikan enam persen hasil minyaknya untuk membiayai penyebaran wahabisme di seluruh dunia.”

Di Indonesia, tuduhan bahwa paham Wahabi sebagai ajaran yang mengusung Islam radikal dan terorisme juga sudah tersebar di masyarakat. Padahal, Wahabi sebagai sebuah paham, niscaya mengalami transformasi setelah mengikuti perkembangan dunia Islam. Seperti halnya Muhammadiyah dan NU yang mengalami transformasi ajaran-ajarannya sesuai perkembangan zaman, saya kira hal itu pun terjadi pada Wahabi.

Ini terbukti, misalnya, ketika Ketua Mantiqi IV Jamiah Al-Islamiyah untuk wilayah Australia, Abdul Rahim Ayub bisa disadarkan kekeliruan pahamnya oleh seorang dai Wahabi dari Arab Saudi. Padahal sebelumnya, dalam perdebatan panjang dengan beberapa dai, Ayub merasa ilmunya lebih luas dari “para pakar deradikalisasi” yang didatangkan untuk menyadarkan dirinya.

Tapi setelah berdebat panjang dengan seorang dai berpaham Wahabi, Ayub baru sadar akan kekeliruannya. Ini karena dai dari Wahabi tersebut ilmunya sangat luas dan kredibel. Gambaran di atas menunjukkan bahwa paham Wahabi pun (setelah munculnya terorisme), terutama sejak adanya ISIS yang memusuhi Arab Saudi, mulai bertransformasi menuju ajaran yang kompatibel dengan kondisi dunia yang suka damai.

Pernyataan Raja Salman bahwa Saudi mendorong terbentuknya dialog antaragama untuk mencegah munculnya radikalisme dan terorisme menunjukkan bahwa Wahabisme sudah mengalami transformasi— tidak seperti yang dituduhkan Carmen bin Ladin di atas.

Menurut Wikipedia, Wahabi atau wahabisme adalah sebuah aliran reformasi keagamaan dalam Islam. Aliran ini diinisiasi dan dikembangkan oleh seorang teolog muslim abad ke- 18 yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab dari Najed, Arab Saudi. Wahabisme bertujuan membersihkan dan mereformasi ajaran Islam agar kembali kepada ajaran yang sesungguhnya, berdasarkan Alquran dan hadis. Bagi Wahabisme, Islam sudah tercemar tradisi agama-agama non-Islam seperti menyembah kuburan, percaya perdukunan, klenik, dan lain-lain, yang menyebabkan umat Islam terperosok pada kemusyrikan.

Saat ini Wahabisme merupakan aliran Islam yang dominan di Arab Saudi dan Qatar. Ajaran Wahabi dipengaruhi tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah yang ingin memurnikan Islam dari pengaruh “budaya luar”.  Dalam perkembangannya, seperti dialami paham-paham lain, kemudian muncul Wahabi ekstrem dan moderat. Barangkali pengikut wahabisme ekstrem inilah yang dituduh Carmen sebagai pengusung terorisme seperti Osama bin Ladin, Abu Musa Al-Zarkawi, dan Abu Bakar Al-Baghdadi (pendiri ISIS). Kondisi ini pun berlaku pada Syiah. Ada Syiah ekstrem dan moderat. Yang ekstrem inilah yang dituduh Amerika sebagai biang terorisme.

Raja Salman ketika berada di Indonesia menepis tuduhan peyoratif terhadap Wahabi itu. Beliau, misalnya, memberikan contoh sikap lemah lembut; menghargai dialog antaragama, mau bersalaman dengan Ibu Megawati dan tokoh Kristen Protestan Ibu Hanriette T Hutabarat, dan lain-lain.

Raja Salman juga membantu keluarga anggota Densus 88 dan polisi yang cacat dan tewas karena tembakan teroris. Semua ini memberi pesan bahwa Arab Saudi adalah antiterorisme. Bukan pengusung terorisme seperti tuduhan pihak-pihak tertentu. Dan puncaknya, kesediaan Raja Salman untuk bertemu dengan tokoh-tokoh lintas agama seperti disebutkan di atas menunjukkan bahwa Arab Saudi dan Raja, kini sedang mengusung Islam yang ramah, toleran, dan damai.