Senin, 24 Agustus 2015

Sarung Fantasi

Sarung Fantasi

Bre Redana  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                       KOMPAS, 23 Agustus 2015      

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dari muktamar NU di awal bulan waktu itu, tersisa kenangan, betapa melihat laporan media rasanya jadi ingin ikut ke Jombang. Seperti Presiden Jokowi yang bersarung ketika itu, kalau toh tak bisa masuk ke tempat acara karena tak terdaftar sebagai peserta, setidaknya saya bisa berada di tengah keramaian umat untuk merayakan sarung.

Saya tumbuh dalam lingkungan kebudayaan yang membuat sarung memiliki arti amat khas, baik dalam memori maupun kehidupan sehari-hari saya sampai sekarang. Semasa kanak-kanak, sebagaimana semua anak-anak di lingkungan kami, menjelang petang kami akan mengeluarkan "benda pusaka" itu, yakni sarung.

Ia bisa dimanfaatkan untuk kepentingan apa saja. Kadang kami memelintirnya memanjang dan memanfaatkan sebagai semacam pemukul. Di halaman kampung yang berdebu, kami saling sabet dan saling pukul dengan kain sarung.

Ketika hari gelap, sarung berubah menjadi mantel, dikerudungkan di badan untuk menahan hawa dingin Gunung Merbabu. Waktu itu hawa kota kami masih dingin. Sebagian lagi mengenakannya dengan rapi dan mulai berangkat ke surau.

Khusus pada pertunjukan wayang kulit, nah ini dia, kami anak-anak sedari petang sudah mengambil tempat di sela-sela penabuh gamelan. Ketika pertunjukan dimulai, sebagian dari kami malah mengantuk, jatuh tertidur berselimut sarung. Biasanya kami terbangun tengah malam, ketika suara gamelan riuh, gending sampak mengiringi adegan perang. Itulah bagian paling digemari anak-anak. Perang dan goro-goro, yang ditandai dengan munculnya punakawan Semar Gareng Petruk Bagong. Adegan lucu ini mengasah sense of humor kami, menjadikan kami kini manusia yang tidak melulu tegang.

Betapa utuhnya sarung sebagai bagian dari diri kami. Fantasi kami tentang seksualitas perempuan sebagian juga terbentuk, ketika mengintip perempuan mandi di kali, menutup tubuh dengan sarung yang basah. Tak ada yang bisa mengalahkan pemandangan itu, ditandingkan Marilyn Monroe sekalipun. Entah kalau Luna Maya.

Jelas seksualitas ada kaitannya dengan fashion. Itulah maka ada pakaian perempuan-pakaian lelaki. Dalam dunia mode, tahun 1920-an/1930-an dianggap masa tercapainya ideal busana perempuan modern. Hanya semangatnya terlalu feminin, yang berarti tetap terjadinya perbedaan perempuan-lelaki. Makanya, ketika menyusul berlangsung gerakan women libs, para perempuan mulai memakai celana panjang seperti kaum lelaki. Khusus di Indonesia, gerakan kaum feminis diwarnai pemakaian kain dan sarung oleh para aktivis. Seperti bangkitnya nasionalisme Indonesia dengan pertanda dipakainya peci, para aktivis perempuan menunjukkan semangat perjuangannya dengan kain dan sarung tadi. Dari "bung ayo bung" menjadi "jeng ayo jeng".

Kriteria estetik dalam soal busana menjadi tidak seberapa dibandingkan dengan fakta sosial politik yang bisa dimainkan olehnya. Sebab, orang berpakaian bukan semata-mata karena busana yang hendak dikenakannya bagus atau tidak, melainkan ingin dipersepsikan seperti apa sebenarnya dia. Busana adalah politik tubuh paling konkret: apakah ingin terlihat sebagai suburban, etnik, hamba korporat (yang ini antusias mengenakan seragam), bohemian, nasionalis, dan seterusnya.

Dalam soal sarung, saya tidak sendirian. Ada teman, lulusan Amerika, lingkungan pergaulannya kini sangat kosmopolit, di tubuhnya sekilas selalu terlihat melekat merek mahal, ternyata diam-diam tetap tak bisa lepas dari sarung. Ketika bepergian, tak ketinggalan sarung di koper. Ia tak bisa tidur kalau tidak terselimuti sarungnya.

Suatu saat, dari seorang kenalan perempuannya di kota besar, ia menerima hadiah sarung. Dia terheran-heran. Dari mana kenalannya ini, perempuan cantik agak berumur, yang kalau ketemu dengannya seingatnya ia tak pernah bersarung melainkan dengan jins, tahu bahwa ia menggemari sarung?

Jawab si pemberi sarung: karena pada dirimu aku melihat Nusantara, aku melihat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar