Kamis, 04 September 2014

Waspadai Dampak Televisi terhadap Anak

Waspadai Dampak Televisi terhadap Anak

Siti Muyassarotul Hafidzoh  ;   Litbang PW Fatayat NU DIY,
Peneliti pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
SINAR HARAPAN, 03 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

Peran televisi sangat krusial di tengah hidup berbangsa dan bernegara, terlebih dalam kehidupan anak. Televisi berdampak sangat serius kalau orang tua salah mengelola televisinya. Dampak buruk membuat mentalitas anak sangat buruk. Apalagi saat ini, berdasarkan Nelson Media Research (2013), penetrasi televisi meningkat sangat tajam, sampai 99 persen, dibanding media lainnya.

Dampak televisi sangat terasa bagi anak. Ini selaras dengan teori kulminasi yang menjelaskan tinggi/rendahnya kecemasan dipengaruhi media. Para pecandu berat televisi (heavy viewers) akan menganggap apa yang terjadi di dunia televisi itu dunia senyatanya. Anak-anak yang sering menonton tayangan film kekerasan akan melihat dunia seperti penuh kekerasan. Teori jarum hipodermik mengasumsikan televisi mempunyai pengaruh perkasa dan secara langsung terhadap masyarakat.

Dari sini, temuan American Psychological Association pada 1995 sangat menarik. Dijelaskan tayangan yang bermutu memengaruhi seseorang berperilaku baik. Sebaliknya, tayangan yang tidak bermutu memengaruhi perilaku buruk. Bahkan, hampir semua perilaku buruk bersumber dari tayangan tidak bermutu.

Dalam tayangan kartun atau sinetron di televisi kita, sedikit yang memberikan nilai dan makna edukatif bagi anak-anak. Temuan KPI Pusat antara Juni-Juli 2014, tayangan Spongebob, Chootabheem, dan Larva banyak ditemukan pelanggaran. Dalam tayangan sinetron Diam-Diam Suka, Ganteng Ganteng Serigala, dan Siti Bling-Bling juga banyak dijumpai pelanggarannya.

Sekarang ini tayangan berita saja sangat berbahaya bagi anak. Berita-berita hadir membawakan berbagai tayangan, seperti bencana alam, acara-acara besar, berita kriminal, peperangan, tawuran, juga berbagai sisi negatif kehidupan yang rawan menimbulkan rasa takut, anxiety, serta stres bagi anak.

Tayangan tentang kejahatan terhadap anak, peristiwa tawuran, perang, dan bencana akan membuat anak bingung terhadap dunia yang ditinggalinya ini. Secara alami, melihat tayangan seperti ini akan membuat anak takut serta khawatir jika kejadian tersebut terjadi juga dalam hidup mereka. Anak akan melihat dunia ini tempat yang membingungkan, menakutkan, juga tidak aman. Cara televisi menayangkan kejadian secara langsung membawa kesan seolah kejadian tersebut terjadi secara nyata dalam hidup anak.

Memilih Tayangan

Media televisi memang dahsyat. Tidak salah kemudian kalau McLuhan menyuguhkan teori ekologi media (media ecology) dengan gagasan yang berlandasan pada tiga hal. Pertama, media memengaruhi setiap perbuatan atau tindakan dalam masyarakat (media infuse every act and action in society). Kedua, media memperbaiki persepsi kita dan mengelola pengalaman kita (media fix our perceptions and organize our experineces). Ketiga, media mengikat dunia bersama-sama (media tie the world together).

Sayangnya, ekologi masyarakat kita belum sepenuhnya menyadari pentingnya media, apalagi pihak televisi hanya mengejar rating. Di samping itu, masih kurang pendidikan media sehat oleh agen literasi media, seperti orang tua, guru, dan masyarakat. Dari sini, memilih tayangan yang sehat dan bermutu merupakan keniscayaan di tengah dahsyatnya kejar rating yang dilakukan pihak televisi.

Televisi sangat menarik bagi anak karena merupakan media audio-visual. Koran, radio, buku, dan komputer dipersepsikan sebagai media milik orang dewasa.

Aghata Lily (2014), Komisioner KPI Pusat bidang isi, menjelaskan tayangan yang baik adalah yang edukatif. Hal ini bisa dilakukan dengan durasinya tidak terlalu panjang (25-30 menit), nyaman di telinga dan mata, memperhatikan tone atau tempo musik dari tayangan, mencermati iklan dalam tayangan anak, mengusung nilai positif, serta memerhatikan warna dan gerakan.

Orang tua harus mampu memberikan penjelasan yang menginterpretasikan kembali adegan yang ada di dalam televisi, mengajak dialog dan berdiskusi agar melatih sikap kritis anak dalam menonton, serta mematikan televisi kalau isi siarannya banyak mengandung unsur kekerasan, seksualitas, dan tidak pantas. Di samping itu, orang tua jangan pelit membelikan film bermutu, sehingga anak tidak terjebak dalam tayangan televisi yang tidak menyehatkan.

Pihak sekolah juga harus mampu memberikan tayangan “tandingan”, sehingga anak mempunyai tambahan referensi yang bermutu. Sekolah juga harus mendorong anak membuat tayangan “tandingan” tersebut. Anak diajak menjadi produser, bukan konsumen yang pasif. Dorongan ini sangat penting sehingga anak justru sudah paham sejak dini untuk mengisi tayangan televisi yang tidak menyehatkan, dengan tayangan yang kreatif dan inovatif.

Pemerintah harus tegas menerapkan undang-undang, sehingga televisi yang sudah membuat banyak pelanggaran, hak siarnya bisa diluruskan, kalau perlu ditutup sekalian. Pemerintah jangan sampai main mata karena masa depan bangsa adalah yang utama. Industri media harus taat dengan regulasi. Industri media hadir bagi negara sebagai penyangga membangun peradaban masa depan.

Anak adalah investasi masa depan. Jangan sampai media televisi membunuh masa depan mereka dan masa depan bangsa ini. Terakhir, hindari menonton televisi pada waktu menjelang tidur. Biasakan hal ini. Semakin malam tayangan televisi, biasanya diisi dengan acara yang ditujukan bagi penonton lebih dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar