Kamis, 03 Juli 2014

Karakter Pemilih Pemilu Presiden 2014

Karakter Pemilih Pemilu Presiden 2014

Wasisto Raharjo Jati ;  Peneliti di Pusat Penelitian Politik,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
MEDIA INDONESIA, 01 Juli 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
PENINGKATAN suhu politik dengan semakin dekatnya perhelatan pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli mendatang begitu terasa. Berbagai manuver dilakukan para calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres) untuk menarik simpati rakyat. Bermacam-macam cara pun dilakukan mulai dari menisik sisi positif capres, hingga mengungkap sisi kelam kandidat lainnya.

Tidak mau kalah dengan aksi para capres-cawapres beserta tim sukses masingmasing, beberapa lembaga survei telah menghasilkan pelbagai macam rilis hasil survei Pilpres 2014. Tercatat ada 10 lembaga survei yang telah merilis temuan survei masing-masing kepada publik, di antaranya Indo Barometer, Cyrus Networking, dan Pol Tracking. Secara umum, survei yang dilakukan para lembaga tersebut telah dilaksanakan pada periode Mei-Juni 2014 guna mengukur preferensi awal publik terkait pilihan presiden yang akan dipilih.

Hasil rilis survei mendudukkan pasangan Jokowi-JK sebagai yang tertinggi dengan interval suara mencapai 35%-50% publik, sedangkan Prabowo-Hatta dengan interval suara mencapai 30%45%. Adanya perolehan suara yang berselisih dekat tersebut mengindikasikan bahwa kontestasi pemilu presiden akan semakin ketat. 

Namun, yang perlu digarisbawahi dari temuan awal lembaga-lembaga survei tersebut ialah masih menguatnya pemilih mengambang (swing voters) dalam rumpun masyarakat menjelang pemilihan presiden ini.

Kekuatan swing voters

Adanya swing voters atau dalam hal ini yang belum memiliki pilihan terhadap salah satu pasangan capres-cawapres, terindikasi dari temuan berbagai lembaga survei tersebut. Misalnya saja Populi Center mencatat 21,3% swing voters, LSI merilis adanya 41,3%, Indo Barometer sebesar 15,9%, Pol-Tracking 12,3%, dan lain sebagainya. Potensi adanya swing voters tersebut mengindikasikan belum kuatnya preferensi pemilih terhadap capres dan cawapres tertentu. Adapun survei Pusat Penelitian Politik LIPI menemukan indikasi bahwa terdapat 23% pemilih belum menentukan pilihan mereka kelak pada pilpres nanti. Belum kuatnya preferensi pemilih tersebut tentu sangatlah dipengaruhi konstruksi rasionalitas pemilih terhadap kriteria ideal pasangan pemimpin yang mereka inginkan.

Tingginya angka swing voters dalam perhelatan pemilu presiden setidaknya mengindikasikan dua hal, yakni masih kuatnya potensi pemilih yang berkarakter split ticket, dan juga masih kuatnya kultur bounded rationality dalam preferensi pemilih pilpres nanti. Adapun yang dimaksudkan dengan split ticket adalah ketidakliniernya preferensi pemilih antara pemilu legislatif dan pilpres. Gejala itu setidaknya menghasilkan premis bahwa kultur pemilih kita ialah sebenarnya undecided voters, yakni pemilih yang tidak memiliki kecenderungan tetap untuk ajeg memilih baik kandidat maupun calon. Hal itu disebabkan karakternya yang masih pemilih mengambang dan belum memiliki determinan tertentu dalam menentukan calon.

Kelompok pemilih itu sangat rentan untuk diinflitrasi berbagai macam pola kampanye yang dilakukan oleh tim sukses setiap calon. Hal itu menjadi alasan pembentukan preferensi politik elektoral di Indonesia sangatlah artifisial dan dibentuk secara by accident. Oleh karena itulah, sangatlah menarik melihat tren pemilih Indonesia sejak masa Pemilu 1999 hingga kini yang ternyata memiliki deviasi pemilih rasional-ideologis menuju pada karakter pemilih rasional-realis.

Pemimpin sederhana

Karakteristik pemilih rasional realis tersebut bisa terlihat jelas dalam masa kampanye pilpres lainnya. Pertama, pemilih itu cenderung memihak calon yang bisa memberikan kejelasan terhadap pemenuhan kebutuhan pokok maupun subsidi kebijakan. Kedua, pemilih itu tidak menyukai pada pola agitasi kampanye yang bersifat utopia dan abstrak. Mereka melihat sisi masalah kekinian dengan solusi riil yang akan dilaksanakan dan ditindaklanjuti calon tersebut. Oleh karena itulah, jika membaca hasil mutakhir survei Pusat Penelitian Politik LIPI, sosok ketegasan dalam menyele saikan masalah mencapai 80,2% dan sosok sederhana merakyat mencapai 84% sebagai parameter pemimpin yang akan diidamkan dan dipilih. Artinya bahwa pemilih pilpres ini akan mengidentifikasi setiap karakter pasangan untuk ditemukan political chemistry baik itu afinitas, afiliasi, maupun afeksi antara pemimpin dan publik.

Adapun masih kuatnya rasionalitas terbatas (bounded rationality) dalam pengambilan keputusan memilih pasangan mengindikasikan bahwa diseminasi informasi terkait latar belakang capres dan cawapres hanya dilakukan secara heuristik. Artinya ada potensi munculnya kampanye negatif di akar rumput yang dilakukan tim sukses kampanye. Hal itulah yang menjadikan hasil survei dengan hasil real count akan paradoks pada 9 Juli nanti dengan hasil survei tidak mencerminkan secara tetap dan pasti kecenderungan pemilih. Artinya kekuatan setiap relawan di lapangan menjadi kunci bagaimana mengubah struktur rasionalitas terbatas ini menjadi rasionalitas dinamis.

Pemilih menjadi dinamis dan cerdas dalam memahami dan mengerti calon yang akan dipilih nanti. Tentunya dengan adanya pelbagai bentuk media artikulasi yang variatif, akan dengan secara instan dan cepat membentuk konstruksi pemilih tersebut. Jika membaca hasil survei pemilu presiden dikaitkan dengan kultur preferensi politik elektoral di Indonesia, kita tidak bisa memastikan mulai dari sekarang kecenderungan mayoritas pemilih itu akan memilih siapa. Pemilih di Indonesia yang semakin rasional-realis akan mengeksaminasi lebih lanjut siapakah pemimpin ideal nanti dilihat dari semua bentuk input informasi yang mereka dapatkan dan saring hingga menjadi tolok ukur ideal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar