UNAOC,
Pemuda Dunia dan Indonesia
Al Busyra Basnur ;
Pengamat
Internasional
|
KORAN
SINDO, 17 September 2014
|
Akhir
Agustus 2014 Indonesia kembali menjadi pusat perhatian global. Kali ini dalam
menggemakan aspirasi pemuda dunia tentang kerunyaman masa lalu, keprihatinan
terkini, pentingnya pengawasan dan peningkatan kewaspadaan, memperkokoh
komitmen serta diperlukannya tindak cepat tepat guna memelihara dan
meningkatkan toleransi dengan mengutamakan kebersamaan di tengah perbedaan.
Seratus
pemuda dunia dari 42 negara, termasuk Indonesia, berkumpul di Nusa Dua, Bali.
Pemuda terpilih! Itu julukan paling tepat buat mereka karena berhasil
menyisihkan sekitar 3.000 pemuda hebat dunia yang semua berkompetisi ketat
menjadi peserta Youth Forum , suatu rangkai kegiatan Global Forum VI pada
United Nations Aliance of Civilizations (UNAOC). Kegiatan itu diselenggarakan
Indonesia bersama UNAOC pada 29-30 Agustus 2014. Penting dicatat, Indonesia
adalah negara pertama di Asia-Pasifik yang menjadi tuan rumah forum global
UNAOC.
Sebelumnya
dan untuk pertama kali adalah Madrid (2008), disusul Istanbul (2009), Rio de
Jenairo (2010), Doha (2011) dan Wina (2013). Forum global ini di Indonesia
bertema Unity in Diversity: Celebrating
Diversity for Common and Shared Values. Forum dihadiri 1.480 peserta dari
95 negara dan 23 organisasi internasional. Tujuannya meningkatkan pemahaman
universal terhadap arti pentingnya solidaritas, toleransi, dan persatuan di
tengah keberagaman latar belakang, budaya dan agama guna menuju dunia yang
lebih maju dan damai.
Pesertanya
beragam, meliputi kalangan pemerintah, organisasi regional dan internasional,
pengusaha, kelompok masyarakat madani, generasi muda, seniman, kelompok
keagamaan, peneliti, lembaga pemikir, lembaga donor, yayasan dan media pers.
Bagi Indonesia, forum ini tidak semata bermakna pengakuan global bahwa kita
dengan Bhinneka Tunggal Ika menjadi contoh terbaik dunia dalam mewujudkan
harmoni dalam keberagaman, toleransi di tengah begitu banyak kepentingan
serta persatuan beralas aneka latar dan kalangan.
Rekomendasi Pemuda
Setelah
membahas bersama perihal pendidikan, media, migrasi serta kewirausahaan dan
lapangan kerja, para pemuda dunia itu menggemakan delapan butir rekomendasi
untuk didengar di manapun masyarakat dunia. Dua perwakilan pemuda, Niwa
Rahmad Dwitama (Indonesia) dan Ayunda Nxusani (Afrika Selatan), bersuara
lantang membacakan rekomendasi itu di sesi plenary yang dihadiri para menteri, pejabat tinggi berbagai
negara, dan tokoh terkemuka organisasi internasional. Di bidang pendidikan,
pemuda mendesak pemimpin dunia agar ke depan melibatkan pemuda dalam
merumuskan kebijakan pendidikan.
Elemen-elemen
pemahaman antarbudaya, penyelesaian masalah, resolusi konflik, dan membangun
perdamaian diminta pula dimasukkan dalam kurikulum pendidikan apa pun
tingkatannya. Di bidang media, pemuda menilai perlunya pembentukan week of cross-cultural awareness on media
dan youth-led observatory on media.
Tujuannya tidak lain untuk memastikan adanya akuntabilitas, transparansi, dan
pertukaran pengetahuan. Dalam hal migrasi, para pemuda menyerukan membentuk
kerja sama antara institusi lokal, pemerintah, dan PBB untuk menciptakan
program berkelanjutan. Ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap
isu migrasi.
Dalam
bidang kewirausahaan dan lapangan kerja, pemuda mendesak pemerintah untuk
mendorong kewirausahaan di kalangan pemuda, melalui kemitraan dengan sektor
swasta dan masyarakat madani. Pemuda juga mengimbau agar disusun strategi
interaktif untuk membuka lapangan pekerjaan dan penyediaan kondisi kerja yang
kondusif bagi pemuda. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)
Ban Ki-moon, yang hadir saat penutupan, mengakui pentingnya youth forum
karena di forum itu dunia dapat mendengar aspirasi, menerima kontribusi dan
mengajak untuk bersama membangun dunia yang lebih tenteram, damai,
bersahabat, dan maju.
Menteri
Luar Negeri Marty M Natalegawa saat membuka forum pemuda itu mengingatkan
pentingnya masyarakat dunia belajar lebih banyak dari pemuda mengenai
nilai-nilai kebersamaan, kemasyarakatan, keterbukaan dalam berpikir dan
wawasan luas. Nilai-nilai yang dimiliki pemuda tersebut terbukti menjadi
pemersatu pemuda dari berbagai negara tanpa membedakan antara satu sama
lainnya.
Penyelamat Dunia
Youth
Forum pada UNAOC yang baru saja diselenggarakan di Indonesia jangan semata
dilihat dari sisi pentingnya atau adanya kepentingan Indonesia dalam
perjuangan pergerakan kontemporer pemuda dunia. Juga jangan semata dilihat
besarnya atensi Indonesia dalam mengemban, membangun, dan memajukan
nilainilai universal tentang peradaban, kebersamaan, dan toleransi di tengah keberagaman
melalui gerakan pemuda.
Forum
pemuda UNAOC di Indonesia itu sekaligus melahirkan inspirasi, komitmen dan
awal era baru sejarah perjuangan Indonesia dengan merangkul lebih banyak
generasi muda internasional untuk bersama-sama menciptakan dunia yang lebih
maju, aman, dan damai. Dunia dan kita sendiri mencatat jelas dan terukur,
bahwa peran regional dan internasional Indonesia selama ini cukup dominan,
terutama dalam satu dekade terakhir. Ini adalah suatu titik di mana kita
tidak mungkin mengubah, apalagi memutar arah dari apa yang telah kita
perjuangkan dan capai untuk kepentingan dunia.
Pemerintahan
baru ke depan diyakini pula sepenuhnya akan terus memberi peluang
sebesar-besarnya kepada pemuda serta tidak hanya menempatkan generasi muda
bangsa dan pemuda dunia sebagai aktor, melainkan juga sebagai pemikir
sekaligus generasi penyelamat dunia. Dunia, yang di sana-sini memang terjadi
kerusakan dan kehancuran. Indonesia sendiri telah membuktikan bahwa pemuda
berada di barisan paling depan dalam momen-momen penting sejarah perjuangan bangsa.
Lihat tahun 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998.
Dino
Patti Djalal, tokoh pemuda yang juga Wakil Menteri Luar Negeri RI, mengatakan
bahwa pemuda harus ditempatkan pada posisi strategis, bukan sebaliknya,
karena pemuda adalah lokomotif perubahan. Kesempatan menjadi tuan rumah Youth
Forum bisa saja hanya sekali dalam perjalanan sejarah peran internasional
Indonesia. Namun, Indonesia akan tetap dikenang masyarakat berbagai bangsa,
khususnya kalangan muda, sebagai pusat inspirasi dan penggelora semangat untuk
menciptakan kemajuan dan harmoni dunia di tengah keberagaman. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar