Kamis, 04 September 2014

Revolusi Politik Monoton

Revolusi Politik Monoton

Deny Humaedi Muhammad  ;   Peneliti Muda
Indonesian Culture Academy (INCA) Jakarta
OKEZONENEWS, 03 September 2014
                                      
                                                      

Dunia politik selalu mengundang perhatian publik. Sebab, segala hal yang  berkaitan dengan kebijakan yang berhubungan dengan rakyat ditentukan lewat mekanisme politik. Tidak salah sejumlah filsuf Yunani Kuno menyebut politik sebagai jalan pengabdian terhadap hidup.

Tetapi, hipotesa itu kian terbantahkan oleh praktik di dalam kenyataan politik sendiri. Pelbagai kasus dan intrik sengit yang dipertontonkan para elit (politikus) menggiring nalar publik bahwa politik selalu menyajikan perihal yang sarat kepentingan kelompok/pribadi dengan bungkusan apik sejumlah program yang diklaim sesuai dengan selera rakyat.

Dengan bungkusan ini, awalnya  publik dibuat takjub tanpa henti. Terlebih kewibawaan, penampilan yang klimis, kesantunan, dan retorika yang menyentuh semakin membuat publik kagum luar biasa.

Namun, semakin ke sini publik semakin cerdas bahwa apa yang mereka perlihatkan sungguh berbanding terbalik dengan kenyataan sesungguhnya.  Apa yang mereka tampilkan sebatas rekayasa. Jauh dari prinsip kejujuran. Jadinya, yang tampak hanyalah kesemuan belaka.  Karena itu, melihat realitas politik yang demikian tak ubahnya menonton drama  yang memuat cerita dengan akting mumpuni dari aktris dan aktor.

Tidak Mencerahkan

Drama dan dunia politik memang berbeda. Drama hanyalah rekaan cerita yang melibatkan kreasi imajinasi kendati kadang dipadu dengan kisah nyata. Sementara politik adalah dunia yang kesehariannya memperbincangkan ikhwal kepentingan, kebijakan, dan dinamika pemerintahan. Tapi, keduanya sama-sama menyuguhkan cerita dan kisah seputar kehidupan.

Dalam drama kadang tersaji cerita menarik yang membuat penonton betah mengikuti alur cerita. Hingga akhir cerita, penonton terkesima dengan alur, plot, dan peran para artis. Lebih dari itu kisah yang disuguhkan dapat memberikan pencerahan dan wawasan baru bagi penonton. Sehingga, tak dapat disangsikan kisah inspiratif drama sering menjadi referensi hidup bagi penonton.

Tetapi, tidak bisa dipungkiri juga cerita dalam drama terkesan tidak menarik. Alur cerita yang bolak-balik dan tambahan cerita terkesan dilebih-lebihkan membuat tontonan semakin basi. Cerita pun akhirnya kehilangan taji. Pesan moral yang hendak disampaikan tidak berbekas. Akhirnya, penonton sama sekali tidak mendapat pencerahan baru.

Tidak jauh berbeda, dinamika politik kita dewasa ini jauh dari kesan pendidikan. Sebagai media yang sering diperhatikan publik, politik melalui para  elitnya sering menampilkan perilaku yang jauh dari teladan. Di media televisi kita sering menyaksikan bagaimana para elit sering tersulut emosi, debat kusir, hingga memaki saat mendialogkan perihal yang berkaitan dengan rakyat.

Sebagai kaum intelek, hendaknya mereka menyuguhkan argumen cerdas, jelas, dan objektif, sehingga publik memahami duduk perkara yang tengah didialogkan. Malahan, politik semakin jauh dari media pendidikan ketika belakangan ini munculnya perilaku korup, skandal seks, dan lainnya.

Jelas saja, ini mengundang kekecewaan publik. Politik, kini, seolah menjadi public  enemy yang harus dibinasakan. Untuk itu, seperti halnya drama, dinamika politik kita dari tahun ke tahun, dari bergantinya orde ke orde yang baru tidak menawarkan perubahan yang berarti. Terjebak dalam kemandegan. Itu-itu saja yang ditampilkan. Monoton.

Revolusi Harga Mati

Kisruh politik demikian berimplikasi pada ketidakpercayaan publik pada politik, tekhusus terhadap kinerja para elit. Hal ini bisa kita lihat dari data survei yang dilakukan Pol-Tracking institute beberapa waktu lalu. Hasil survei ini menunjukan, hanya 12,64% masyarakat yang menjawab kinerja DPR baik. Sisanya 61,85% menilai tidak baik, dengan rincian 46,2% menyatakan kurang baik, 15,65% buruk, dan sisanya 25,68% menyatakan tidak tahu.

Sangat jelas berdasarkan hasil survei ini, publik semakin jengah dengan kondisi politik kita. Sebab itu politik kita harus segera dibenahi. Dalam konteks ini revolusi—perubahan cepat dan mendasar—menjadi  harga mati tanpa harus ditawar lagi. Untuk itu ada empat hal yang kudu direvolusi. Pertama,  revolusi mental. Ini penting sebab mentalitas elit politik kita selalu tertuju pada hitungan kalkulasi antara untung dan rugi. Jadinya, politik dijadikan lahan strategis untuk meraih kekayaan pribadi.

Kedua, revolusi akhlak (perilaku). Kebobrokan elit dalam skandal seks menyebabkan tujuan utama politik secara perlahan luntur. Untuk itu perubahan akhlak harus diupayakan. Para elit patut sadar bahwa mereka adalah pemimpin rakyat. Sebagai pemimpin, mereka harus bertanggung jawab kepada rakyat. Apalagi, kelak, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan.

Ketiga, revolusi kerja. kerja, kerja, kerja. Sebuah kata singkat tapi mempunyai makna dalam ini  yang harus ditimbang para elit kita. Kerja yang yang dimaksud ialah kerja nyata, yakni kerja yang orientasinya adalah untuk kesejahteraan rakyat. Bukan untuk pribadi semata.

Terakhir, revolusi sistem. Hemat saya ini sesuai dengan pidato kenegaraan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (15/8/2014) bahwa hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam politik adalah sistem. Menurutnya, dengan mengacu sejarah bahwa ada relasi kuat antara sistem, negara, dan rakyat. Sistem yang kuat akan menciptakan negara yang kuat. Negara kuat akan menciptakan rakyat yang kuat. Sebaliknya manakala sistem lemah, politik kita akan mengalami kemunduran.

Revolusi terhadap politik yang monoton menemukan relevansinya dengan pemerintah baru nanti. Presiden dan Anggota Dewan yang baru terpilih hendaknya menampilkan sesuatu yang “menggemaskan” publik. Sesuatu “tontonan” yang mencerahkan dan mendidik publik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar