Selasa, 08 Juli 2014

(Persepsi tentang) Kepribadian Pemimpin

                 (Persepsi tentang) Kepribadian Pemimpin

Reza Indragiri Amriel  ;   Psikolog Forensik, Anggota Asosiasi Psikologi Islami
KORAN SINDO,  07 Juli 2014
                                                


Di tengah caci-maki, baku fitnah, dan saling hujat antarpendukung calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), riset tentang kepribadian capres-cawapres yang dilakukan–antara lain–UI dan UNPAD patut dihargai.

Kontribusi ilmiah dari perguruan tinggi diharapkan dapat membantu masyarakat luas memiliki referensi lebih luas sebelum memutuskan untuk memilih duet capres-cawapres tertentu. Dalam survei tersebut, jika harus dipetakan berdasarkan menang-kalah, Jokowi-Jusuf Kalla mengungguli Prabowo- Hatta Rajasa. Pasangan nomor dua dinilai baik oleh responden hampir pada seluruh sifat kepribadian.

Sementara duet nomor satu memperoleh penilaian positif pada beberapa sifat saja. Dalam survei tersebut, para responden adalah komunitas psikologi sendiri. Penentuanresponden tersebut hingga derajat tertentu menjadikan hasil survei lebih legitimate . Komunitas psikologi selama ini dianggap sebagai pihak yang paling kompeten dalam memahami dan menilai individu. Termasuk, barangkali, ketika individu dimaksud adalah capres-cawapres.

Bagaimana hasil survei tersebut dipresentasikan dan bagaimana (sebagian) media kemudian mengemasnya menjadi bahan ulasan, perlu disikapi secara bijak. Ini menjadi hal serius agar khalayak luas tidak terposisikan ke kedudukan inferior sehingga secara apriori memfungsikan hasil survei tersebut sebagai–katakanlah– acuan kebenaran.

Hemat saya, ada dua hal berbeda yang perlu disampaikan secara lebih tegas kepada publik. Pertama, dengan mengidentifikasi para peneliti dan metode yang mereka terapkan, bisa dipastikan bahwa survei tersebut sangat akurat, dalam pengertian bahwa survei tersebut benar-benar mengungkap dan menyajikan data sematamata perihal persepsi para anggota komunitas psikologi tentang kepribadian capres-cawapres.

Di dalam data tersebut niscaya tidak ada respons insinyur, pilot, tukang ledeng, arsitek, pesulap, dan profesi-profesi lain. Dengan demikian, tak perlu ada pertanyaan apalagi bantahan tentang kebenarannya. Itulah penilaian para warga psikologi tentang Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, titik. Beda penyikapan tertuju pada hal kedua yakni apakah persepsi para responden memang benar-benar sesuai kondisi kepribadian para capres dan cawapres.

Dengan kata lain, perlu cermatan lebih seksama terhadap seberapa jauh kesebangunan antara watak capres-cawapres dengan apa yang para warga psikologi pikirkan tentang watak keempat pemimpin masa depan Indonesia tersebut. Masyarakat perlu diberikan garis bawah bahwa penelitian tersebut bukan merupakan–katakanlah– bedah psikologis secara langsung terhadap diri kedua pasangan capres dan cawapres.

Pada ihwal itu ada beberapa alasan untuk mengedepankan skeptisisme. Alasan utama, sudah seberapa jauh sesungguhnya para responden secara tekun mempelajari perjalanan hidup para capres-cawapres yang menjadi objek survei. Kepribadian manusia adalah sesuatu yang kompleks. Atas dasar itu, jangankan untuk memperoleh potret utuh, untuk mendapat gambaran memadai tentang trait individu pun sesungguhnya membutuhkan kerja besar.

Anggaplah misalnya sebagian responden patut dianggap sebagai ilmuwan yang telaten mencoba mempelajar i diri Jokowi. Tapi, bagaimana dengan responden lain? Pun seintens apakah ilmuwan yang sama pada saat yang sama juga sempat membaca kepribadian Prabowo, Hatta, dan JK dengan level kedalaman setara?

Kedua, seberapa tinggi sesungguhnya kualitas produk kognitif para pemikir profesional (kalangan terdidik) dibandingkan dengan orang biasa? Semestinya, dengan asumsi bahwa kaum intelektual- profesional memiliki perbendaharaan pengetahuan lebih luas dan konstelasi sinaps di dalam otak mereka lebih kompleks, masuk akal untuk berkeyakinan bahwa mutu pemikiran mereka jauh lebih tinggi dari orang biasa.

Tapi, silakan kaget! Daniel Kahneman dan Amos Tversky (1973) ternyata membangun simpulan berbeda berdasarkan studi-studi mereka mengenai proses kognitif dan–lebih spesifik–proses pembuatan keputusan manusia. Menerima nobel di bidang ekonomi, Kahneman (dan Tversky) memberikan warisan emas bagi dunia psikologi dalam memahami aktivitas berpikir manusia.

Bertitik tolak dari pandangan dasar mereka bahwa mustahil manusia mampu berpikir secara rasional (komprehensif, sistematis, dan kompleks), Kahneman dan Tversky menyimpulkan bahwa manusia lebih sering mempraktikkan proses berpikir jalan pintas. Di mata keduanya, ketika dituntut untuk membuat keputusan yang kompleks, manusia justru acap gagal menganalisis situasi secara utuh.

Kerja kognitif jalan pintas itu bisa dikatakan merupakan keniscayaan karena faktanya banyak hal yang harus dipikirkan atau dikerjakan oleh manusia secara bersamaan dalam waktu yang terbatas dan dengan stamina yang terbatas pula. Walau berpikir heuristic tidak serta-merta buruk, dalam salah satu riset Kahneman dan Tversky menyinggung bahwa proses berpikir jalan pintas juga bisa menghasilkan jebakan kognitif berupa bias representatif (representative bias).

Melalui eksperimen, Kahneman dan Tversky meminta para subjek untuk menentukan sekian nama dengan karakteristik- karakteristik tertentu sebagai pengacara dan sekian nama lain sebagai teknisi mesin. Si X misalnya karena bersifat konservatif dikelompokkan sebagai teknisi. Sementara si Y yang menggemari debat dimasukkan subjek eksperimen ke dalam kelompok pengacara.

Kahneman dan Tversky melihat bahwa pengasosiasian melalui proses stereotyping berlangsung sangat kuat melatarbelakangi para subjek ketika melakukan kategorisasi. Proses tersebut jauh lebih berpengaruh ketimbang informasi dasar yang telah Kahneman Tversky berikan sebelumnya kepada para subjek eksperimen. Error kognitif ternyata juga tidak bisa dihindari oleh dokter, insinyur, serta berbagai pemangku profesi dan kaum intelektual lain.

Karena bukti ilmiah menunjukkan bahwa orang awam ternyata menghasilkan produk kognitif yang tak terpaut jauh–bahkan setara– dengan pemikir kelas kakap, melesetnya persepsi para anggota komunitas psikologi tentang kepribadian Prabowo- Hatta dan Jokowi-JK pun menjadi dugaan yang memiliki basis ilmiah. Basis tersebut adalah bias representatif.  

Artikel ini pada akhirnya sepantasnya ditanggapi sebagai sambutan positif terhadap para pelaku survei di atas. Akan lebih besar lagi sesungguhnya pencerahan psikologi yang bisa diberikan tim penyurvei kepada publik kalau penjelasan teoritis tentang proses mental yang terjadi di dalam kepala para responden juga dipaparkan secara terbuka.

Kritisi ini dilontarkan sebagai safeguard agar hasil survei tidak dimanfaatkan oleh pihak mana pun dengan mendistorsi realita bahwa penelitian tersebut seolah menyajikan gambaran tentang kepribadian para capres-cawapres. Produk intelektual berupa survei politik tersebut ”sebatas” persepsi atau penilaian pihak ketiga (responden) terhadap sifat-sifat empat kandidat pemimpin nasional.

Akhirul kalam , satu garis bawah patut ditarik yakni hasil riset yang diselenggarakan dengan iktikad luhur (tanpa agenda setting menyimpang) tidak sepantasnya dimanipulasi sebagai amunisi politik untuk merendahkan kubu mana pun dalam kontes Pemilihan Presiden 2014.

Kata-kata bijak dilontarkan Nabi Muhammad SAW ratusan tahun silam dan kembali menemukan relevansinya hari ini, ”Cintailah orang yang kamu cintai dengan sewajarnya karena boleh jadi kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang kau benci dengan sewajarnya sebab mungkin saja suatu hari nanti ia akan menjadi orang yang engkau cintai .” Wallahualam” .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar