Jumat, 11 Juli 2014

Memutus Supply dan Demand di Gang Dolly

Memutus Supply dan Demand di Gang Dolly

Ardi Winangun  ;   Pengamat Sosial
OKEZONENEWS, 08 Juli 2014
                                                


Meski Walikota Surabaya Tri Rismaharini secara resmi menyatakan menutup lokalisasi prostitusi Gang Dolly namun usaha mulianya itu tak mudah dilakukan. Sebab pihak-pihak yang menikmati bisnis haram itu melakukan perlawanan. Meski sudah dinyatakan tutup, kenyataannya mereka masih membuka wisma. Bahkan para pekerja seks komersial yang sudah diberi kompensasi ada yang mengembalikan uang itu dan ingin tetap bertahan.
  
Dalam menutup lokalisasi, masing-masing daerah memiliki pengalaman masing-masing. Upaya yang dilakukan oleh kepala daerah itu ada yang langsung didukung oleh masyarakat sekelilingnya, ada pula yang mendapat perlawanan dari masyarakat setempat sebab mereka merasa mendapat penghidupan dari perputaran uang di lokalisasi. 

Di sinilah keseriusan kepala daerah dalam menutup lokalisasi ketika mendapat perlawanan dari sebagian masyarakat. Bila Risma sudah menyatakan menutup dan mereka melakukan perlawanan, tentu Risma akan melakukan cara-cara pemaksaan sebab mereka telah melanggar hukum.

Lokalisasi tumbuh, perkembang, dan mati itu tergantung dari teori ekonomi, supply and demand, penawaran dan permintaan. Bila permintaan terhadap dunia prostitusi tinggi maka lokalisasi akan tumbuh dan berkembang. Kalau kita lihat Gang Dolly yang sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda hingga saat ini, itu menunjukkan bahwa permintaan jasa pekerja seks komersial di kota itu sangat tinggi.

Permintaan yang tinggi akan jasa kenikmatan itu membuat pekerja seks komersial bisa bertahan, bahkan ada yang mengatakan sebulan bisa meraup uang hingga Rp10 juta. Bertahannya para pekerja seks komersial di sana akan berdampak pada rantai ekonomi lainnya, seperti kebutuhan makan, minum, dan keperluan sehari-hari. Peluang seperti inilah yang ditangkap oleh masyarakat sekitarnya sehingga masyarakat bisa menikmati dari bisnis kenikmatan itu.

Permintaan yang tinggi akan pekerja seks komersial dari Gang Dolly sebab pengelola lokalisasi itu mampu mengemas bisnis itu dengan lihai, seperti pengunjung bisa memilih sendiri mana pekerja seks yang diinginkan, apakah karena cantik, seksi, atau warna kulit yang mulus; Selain itu di Gang Dolly ada regenerasi pekerja seks komersial, setiap saat ada ‘barang baru,’ atau pekerja seks yang berumur belia, anak baru gede, seksi, dan cantik.

Selain pengelola yang mampu menjaga ‘mutu,’ lokalisasi yang berada di tengah kota membuat orang mudah mengunjungi tempat itu, sama seperti Saritem Bandung dan Pasar Kembang Jogjakarta. Hanya dengan naik becak, ojek, bemo, atau angkutan lain yang murah membuat orang gampang menuju ke sana.

Tidak hanya pengunjung yang mudah ke sana namun pekerja seks komersial juga mudah menuju hotel-hotel yang ada di Surabaya, bila ada permintaan panggilan, karena lokalisasi Gang Dolly dekat dengan titik-titik hotel berbintang di kota pahlawan itu.

Intinya Gang Dolly bisa bertahan puluhan tahun karena pengelolaan yang profesional dan lokasinya yang strategis, mudah dijangkau dari segala penjuru.
Dengan teori supply and demand ini maka untuk menutup lokalisasi, harus diputus tingginya permintaan dan penawaran antara pengguna dan pekerja seks komersial.

Langkah untuk melakukan hal demikian, Pertama, lokalisasi dipindah ke tempat yang jauh dan tidak strategis. Tak hanya itu, pemerintah harus mengisolasi tempat itu, seperti tidak membangun infrastruktur jalan, tak menyediakan kebutuhan listrik dan air bersih.

Bila jaraknya jauh, infrastruktur jalan, listrik, dan air bersih tak tersedia, kondisi yang demikian tentu membuat suasana untuk menikmati kenikmatan dari pekerja seks komersial tak akan tercipta sebab bagaimana orang bisa menikmati hal itu bila suasana nyaman tidak mendukung. Lokalisasi prostitusi di Ponorogo, di Kedung Banteng, jaraknya jauh dari perkotaan dan infrastruktur jalan tidak memadai, hal demikian membuat orang malas ke sana.

Kedua, penghuni lokalisasi dibatasi, tak boleh bertambah namun bisa berkurang. Bila penghuni lokalisasi tetap, itu-itu saja, tak ada barang baru maka akan membuat pelanggan bosan. Bila lokalisasi itu-itu saja maka penghuni akan menua. Di sinilah maka penawaran tak menarik sehingga akan menurunkan permintaan. Cara yang demikian selain akan mengurangi jumlah laki-laki nakal datang, juga akan mengakibatkan pekerja seks komersial tak laku.

Pengalaman dari pekerja seks komersial di Gang Dolly yang tak laku membuat mereka kembali ke kampung halaman. Dengan pengalaman ini maka pekerja seks komersial yang tak ada permintaan tadi akan memikir ulang proffesi dan bila tak laku maka mereka akan pulang kampung beralih ke proffesi lain.

Ketiga, Bila cara-cara di atas tidak berhasil, maka kita perlu mencontoh negara Perancis, di mana bila ada laki-laki yang tertangkap atau ketahuan menggunakan jasa pekerja seks komersial ia akan didenda. Denda yang dijatuhkan kepada pria hidung belang itu sangat tinggi, 1.500 euro atau sekitar Rp24,2 juta. Dan cara ini cukup efektif untuk menanggulangi dunia prostitusi. Jadi dalam hal ini tidak hanya pekerja seks komersial yang disalahkan atau dihukum namun pengguna juga dikenai tindakan yang sama.

Jadi di sini sebenarnya masalahnya adalah adanya permintaan dan penawaran. Untuk itulah maka antara permintaan dan penawaran harus dipotong. Bila dari masyarakat tak ada permintaan, tanpa disuruh pun Gang Dolly akan tutup sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar