Kamis, 03 Juli 2014

Membangun Kota Sehat

Membangun Kota Sehat

Ahmad Arif  ;  Wartawan Kompas
KOMPAS, 02 Juli 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
KOTA Jakarta saat ini ibarat kota-kota di Eropa dan Amerika 200 tahun lalu. Bahkan, problem Jakarta, yang tahun ini berulang tahun ke-487, agaknya lebih akut.

Akhir abad ke-19, kota-kota di Eropa dan Amerika yang sebelumnya dirancang hanya untuk hunian harus menjalankan fungsi produksi seiring terjadinya industrialisasi. Kota-kota menjadi sumpek, kumuh, penuh polusi, dan sumber penyakit. Kriminalitas pun merajalela.

Persoalan ini melahirkan teori tata kota modern yang menonjolkan pembangunan fisik dan infrastruktur. Asumsinya, tata kota baik melahirkan warga kota sehat fisik dan perilakunya. Dimulailah teori zoning yang memisahkan fungsi tiap kawasan dan diikuti garden city tahun 1898 (Hall, 2004). Konsep ini diekspor keluar Eropa melalui kolonialisme hingga Indonesia.

Beberapa permukiman baru dengan konsep garden city yang dibangun Belanda di Indonesia misalnya Bandung Utara (1917) dan Kota Baru Yogyakarta (1920). Kota Bandung awalnya disiapkan sebagai ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang saat itu dianggap sebagai kota gagal.

Kota gagal

Pieterszoon Coen awalnya memimpikan Amsterdam ketika meminta Simon Stevin merancang kota di muara Sungai Ciliwung pada 1619. Kota itu dikelilingi parit, tembok kota, lengkap dengan kanal. Dengan kanal itu, Coen berharap bisa mengatasi banjir sekaligus menjadi jalur pelayaran.

Batavia memang sempat dijuluki ”Venesia dari Timur.” Namun, endapan lumpur segera memampetkan kanal. Terusan berbau busuk dan menjadi sarang malaria. Hanya tiga tahun sejak dibangun Batavia kebanjiran.

Pada akhir abad ke-18 terjadi perpindahan besar-besaran penduduk Batavia ke arah selatan, yaitu Weltevreden—sekitar Lapangan Banteng saat ini. Pada 1830, ibu kota Hindia Belanda resmi pindah ke kawasan ini.

Namun, banjir tak teratasi. Pada 1 Januari 1892 banjir melanda pusat kota. Puncaknya terjadi Januari 1918 saat hampir seluruh kota kebanjiran hingga sebulan. Wabah kolera merebak dan membunuh banyak warga. Citra Batavia sebagai kota gagal terus membayangi hingga periode akhir penjajahan.

Tak mengherankan, begitu Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menyiapkan Kota Palangkaraya sebagai calon ibu kota baru. Namun, cita-cita ini kandas seiring pergantian rezim.

Jakarta berkembang pesat seiring pergeseran paradigma modern planning dari kepentingan publik kepada kepentingan pemburu rente yang menjadikan tanah sebagai investasi. Harga properti tak terjangkau sebagian besar warga kota yang jumlahnya terus melonjak. Sebagian besar penduduk tinggal makin ke pinggiran atau ke ruang tak layak huni, seperti bantaran sungai.

Dampaknya, beban transportasi kian tinggi dan banjir meluas. Namun, kemacetan, kekumuhan, dan kriminalitas menjadi banal dan tak dianggap sebagai masalah. Keruwetan lalu lintas, misalnya Tanah Abang, dan okupasi waduk-waduk di Jakarta, seperti Waduk Pluit untuk hunian, puluhan tahun tak tersentuh.

Namun, mimpi menjadikan Jakarta sebagai kota sehat dalam 1-2 tahun ibarat mimpi siang bolong. Butuh bertahun-tahun memperbaiki Jakarta. Apalagi, bersinggungan dengan kota-kota di sekitarnya. Butuh dukungan kuat dan konsisten pusat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar