Rabu, 02 Juli 2014

Melawan Lupa

Melawan Lupa

Anton Kurnia ;  Cerpenis, Esais
TEMPO.CO, 01 Juli 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Milan Hubl, sejarawan Republik Cek, menyatakan, "Langkah pertama untuk menaklukkan sebuah masyarakat adalah dengan memusnahkan ingatannya .... Tak akan lama, masyarakat itu akan lupa pada masa kini dan masa lampaunya."

Begitulah, saat para pemilik kekuasaan-kekuasaan politik, kapital, atau media-berupaya mensterilkan kesadaran sebuah masyarakat, dipergunakan metode organized forgetting. Kesadaran kolektif dienyahkan lewat proses melupakan secara terstruktur dan sistematis dengan berbagai cara: propaganda hitam, pemalsuan fakta, dan pembelokan sejarah.

Hari-hari belakangan, perebutan kursi presiden di negeri kita yang tengah menjelang puncaknya berimbas pada perang propaganda dan kampanye kotor yang telah sampai pada tahap menghalalkan segala cara. Maka, proses pelupaan dan pemalsuan fakta pun dilakukan secara sistematis. Kasus memalukan penyebaran tabloid Obor Rakyat yang berisi fitnah dan hujatan terhadap capres Joko Widodo dengan berkedok jurnalisme adalah salah satu contohnya.

Contoh lain adalah pernyataan Gus Dur tentang Prabowo Subianto yang dikutip sepotong-sepotong sehingga menyimpang dari konteks semula, seakan ulama karismatis itu mendukung Prabowo sebagai capres. Padahal baru-baru ini terungkap wawancara Prabowo dengan wartawan Amerika Serikat, Alan Nairn, pada 2001 yang berisi hujatan fisik dan serangan Prabowo terhadap Gus Dur saat beliau menjabat Presiden RI.

Sebelumnya, Amien Rais, tokoh reformasi 1998 yang kini makin menyimpang dari semangat reformasi, dicemooh banyak orang di media sosial karena sikapnya yang tak konsisten. Pada masa lalu, dia bersuara lantang menuntut Prabowo diseret ke mahkamah militer berkaitan dengan penculikan aktivis, penembakan mahasiswa, dan kerusuhan di Jakarta pada Mei 1998. Namun, kini dia pasang badan membela mantan jenderal itu sebagai calon presiden yang seakan tak punya catatan kelam di masa lalu, padahal layak dipertanyakan integritas dan komitmennya terhadap demokrasi dan civil society.

Kasus terbaru yang menunjukkan ketidakpekaan dan sikap abai terhadap sejarah adalah rekaman video propaganda dukungan terhadap capres Prabowo oleh musikus Ahmad Dhani yang mendapat kecaman dari berbagai penjuru dunia.

Di situ, Dhani mengenakan kostum yang amat mirip seragam Heinrich Himmler, pendiri pasukan SS Nazi yang dikenal telengas dan haus darah. Pengikut setia Hitler itu yakin, "Senjata terbaik adalah teror. Keganasan membuat kita disegani." Tindakan gegabah Dhani ini tentu justru mencoreng capres yang didukungnya karena sama saja dengan mencitrakan Prabowo sebagai pemimpin fasistis, chauvinistis, dan kejam layaknya citra Nazi dalam sejarah.

Demikianlah. Kita sibuk memproduksi kebodohan tanpa kesadaran untuk mawas diri. Sejarah ada bagi kita hanya untuk dilupakan sehingga kesalahan terus diperbarui tanpa rasa jera. Sejarah tak digunakan sebagai cermin tempat kita bisa melihat kekuatan dan kelemahan di masa silam untuk bekerja keras menuju masa depan bersama yang lebih baik. Tapi sekadar lalu waktu yang sirna begitu saja bersama retorika politik.

Rupanya kita memang telah mengidap semacam amnesia sejarah yang amat parah. Kita telah menjelma sebuah masyarakat yang sakit dan "lupa ingatan" sehingga menjadi bebal terhadap kenyataan, sibuk memperebutkan "kekuasaan" tanpa sadar telah berdiri di tepi jurang kehancuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar