Senin, 01 September 2014

Angklung

Angklung

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO, 31 Agustus 2014

                                                                                                                       


Hampir semua orang Indonesia tahu angklung. Sebagian mungkin baru dengar-dengar saja, tetapi jauh lebih banyak yang sudah pernah menonton pertunjukannya (kendati hanya lewat TV), bahkan tidak sedikit yang sudah pernah ikut memainkan alat musik yang sudah kondang di seantero bumi ini.

Saung Ujo di Bandung adalah salah satu tempat kita bisa belajar main angklung dalam waktu 10-15 menit saja. Saya pernah mengajak seorang teman saya, Dr Roseline Davido, psikolog dari Prancis, untuk berkunjung ke saung (dari bahasa Sunda, artinya: rumah) yang semua orang Bandung tahu itu. Saya pikir, pasti dia senang menonton musik khas daerah, yang alatnya juga sangat unik. Maka dengan mengajak istri saya juga, pergilah kami bertiga ke Bandung dengan tujuan: Saung Ujo (tentu saja sesudah itu kami ajak Roseline untuk menikmati aneka atraksi lain yang sangat menarik di Bandung dan sekitarnya, mulai kuliner sampai pemandangan alamnya).

Roseline sangat menikmati saung yang juga berfungsi sebagai workshop dan tempat pameran. Layaknya turis lain, ia sibuk mengarahkan kameranya ke berbagai objek seni dan pertunjukan yang digelar di sana. Terutama ketika tiba saatnya sejumlah anak dan remaja memainkan Blue Danube dan beberapa lagu lain yang akrab di telinganya, dengan harmoni yang sangat indah, padahal setiap pemain hanya bisa memainkan dua alat angklung, yang berarti dia hanya bisa memainkan dua not secara bergantian. Namun, hal yang paling membuatnya kagum, adalah ketika ia sendiri, dan semua pengunjung yang lain, dibagi angklung masing-masing sebuah.

Mula-mula semua membunyikan angklungnya. Nah yang orang Jepang, orang Belanda, orang Prancis (termasuk Roseline), orang Sunda (para turis lokal), orang Jawa (termasuk istri dan saya sendiri), dan orang-orang lain, serempak menggoyangkan angklungnya, sekeras-kerasnya, bahkan ada yang saling adu keras dengan kawannya. Hasilnya adalah hiruk-pikuk luar biasa, bising yang jauh dari musik. Tak lama kemudian, salah satu anaknya Mang Ujo (saya lupa namanya, tetapi beliaulah penerus Mang Ujo) masuk, dan meminta semua hadirin berhenti membunyikan angklungnya.

Serentak semuanya sunyi senyap. Sesudah itu mulailah anaknya Mang Ujo yang menjadi dirigen (yang dengan gerak-gerik tangannya memimpin sebuah orkes), memberi aba-aba untuk angklung ”do” dibunyikan panjang, sesudah itu ”re” panjang lagi. Dan seterusnya sampai semua nada satu oktaf dibunyikan. Kemudian ”do”, ”mi”, dan ”sol”, dibunyikan serempak untuk menghasilkan suara accord ”C”, sesudah itu ”do”, ”fa” dan ”la” untuk accord ”F”, ”sol”, ”si” dan ”re” untuk accord ”G”. Mulai kedengaran harmoni yang indah. Roseline sangat senang, begitu juga gerombolan turis cewek Jepang yang tampangnya seragam, semua mirip girlband Cherry Bells.

Sesudah itu baru mulai memainkan lagu-lagu. Dirigen terampil sekali mengarahkan lebih dari seratus orang untuk tetap dalam harmoni. Apalagi di depan dipasang kain besar bertuliskan lagu dan partitur musiknya sehingga peserta lebih mudah mengikuti arahan dirigen. Selepas acara, saya tanya kepada Roseline, bagaimana kesannya. Jawabnya sangat antusias, dia senang sekali sudah bisa ikut memainkan lagu-lagu yang indah itu walaupun memegang hanya satu not.

Jika seni musik pada umumnya, dan seni angklung pada khususnya, bisa menyenangkan semua partisipan, sejauh masing-masing menyimak dan mengikuti arahan dirigen, lain halnya dengan seni rupa. Seni rupa (seni lukis, seni patung, kaligrafi, seni kerajinan) dibuat sendiri oleh senimannya dan ditawarkan kepada publik. Ada yang senang, bahkan senang sekali sehingga mau membelinya dengan harga yang mahal. Namun, ada juga orang yang tidak senang, malah menganggap seni rupa karya orang lain adalah seni jiplakan atau seni murahan, atau bahkan bukan seni sama sekali. Demikian pula kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Ibarat musik angklung, setiap warga negara hanya memainkan satu atau dua peran, pekerjaan atau profesi. Namun, kalau masing-masing peran, pekerjaan atau profesi itu dijalankan bersama-sama dalam satu perpaduan yang harmonis, di bawah pemimpin bangsa yang hebat, maka bangsa ini akan menghasilkan karya yang adiluhung. Jika sektor industri, distribusi, birokrasi, pendidikan, sarana dan prasarana, dan berbagai sektor lain di Indonesia, misalnya, bisa bersinergi bagaikan musik angklung, maka kita akan menjadi negara besar yang disegani dunia yang rakyatnya bukan hanya sejahtera, juga bahagia karena merasa telah ikut berpartisipasi,

seperti halnya Roseline yang bahagia sekali karena telah ikut memainkan satu not dalam konser angklung indah yang barusan dimainkan. Sebaliknya kalau negara ini dipimpin dengan gaya mau menang sendiri, merasa diri masing-masing adalah yang paling pintar, dan paling benar, maka sebentar saja bangsa ini akan terkoyak-koyak, pecah belah, entah karena faktor suku, agama, rasialisme ataupun antargolongan politik. Sekarang, bagaimana dengan masa depan Indonesia pasca-Pilpres 2014? Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Mahkamah Konstitusi (MK) telah memenangkan Jokowi dan JK.

Mudah-mudahan presiden dan wakil presiden terpilih ini bisa memainkan perannya sebagai pemimpin bangsa yang bergaya dirigen musik angklung, tetapi para elite politik bangsa ini masih ada saja yang ingin main sendiri-sendiri dan tidak peduli kepada ”dirigen” Jokowi-JK. Bukan hanya yang tadinya berasal dari kubu yang berseberangan, melainkan juga dari para pendukung dan relawan Jokowi-JK sendiri. Sebagian dari mereka ada yang belum puas kalau ide-idenya, gagasannya, atau sarannya belum diterima pimpinan baru bangsa ini yang dulu mati-matian dibelanya. Mereka berlomba-lomba untuk masuk ke ring 1-nya Jokowi dan JK. Malah ada yang berambisi untuk jadi menteri. Mereka pikir, merekalah yang lebih baik daripada relawan yang lain sehingga tanpa keterlibatan mereka, Jokowi dan JK akan gagal. Mudah-mudahan Jokowi-JK bisa mengendalikan para pemain yang mau main sendiri-sendiri ini. Kalau tidak, jangan harap akan terjadi harmoni bangsa seindah harmoni musik angklung versi Mang Ujo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar