Rabu, 17 Mei 2017

Ancaman Peretasan Massal dan Masalah Kesenjangan Digital

Ancaman Peretasan Massal
dan Masalah Kesenjangan Digital
Rahma Sugihartati  ;   Dosen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Unair
                                               MEDIA INDONESIA, 16 Mei 2017



                                                           
DI balik makin meluasnya pemakaian komputer di masyarakat, salah satu ancaman serius yang kini harus dihadapi masyarakat digital ialah serang­an virus Wannacry yang kini terjadi di lebih dari 100 negara, tak terkecuali Indonesia. Avast, sebuah lembaga penyedia jasa keamanan perangkat lunak yang terkenal, menyatakan untuk sementara ini pihaknya sudah menemukan sekitar 57 ribu komputer yang terinfeksi di lebih dari 100 negara.

Sejumlah negara, seperti Rusia, Ukraina, dan Taiwan, menjadi sasaran utama. Di Indonesia, serangan virus Wannacry ini sudah mengontaminasi sistem komputer milik RS Harapan Kita dan RS Dharmais. Benar-tidaknya serangan virus Wannacry itu sudah menyerbu Indonesia memang masih menjadi perdebatan. Akan tetapi, ancam­an serangan virus yang kini tengah melanda dunia tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja.

Sejumlah ahli telah menyatakan serangan virus komputer berskala raksasa itu menggunakan alat peretas yang diyakini dulunya dikembangkan Badan Keamanan Nasional (National Security Agency/NSA) AS. Alat peretas canggih yang dikembangkan NSA itu, pada April lalu, telah dicuri kelompok peretas yang dikenal dengan nama The Shadow Brokers.

Virus Wannacry menjadi ancaman serius, bukan sekadar karena akan berisiko mengenkripsi seluruh berkas yang ada di komputer. Namun, yang mencemaskan ialah pihak peretas ternyata meminta uang tebusan sebagai kompensasi agar berkas yang telah dibajak dengan enkripsi bisa dikembalikan dalam keadaan normal lagi. Dana tebusan yang diminta ialah pembayaran Bitcoin yang setara dengan US$300 atau sekitar Rp4 juta.

Masif

Di Indonesia, kasus peretasan komputer sebetulnya bukan hal yang baru. Sebelum virus Wannacry mengancam dunia, sejumlah kasus peretasan telah berkali-kali terjadi. Edward Snowden, mantan pegawai National Security Agency AS, pernah membocorkan ulah badan intelijen Australia yang konon meretas percakapan pribadi mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah petinggi negara pada 2009.
Sejumlah situs milik lembaga penting, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komisi pemberantasan Korupsi (KPK), situs milik Polri, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Garuda Indonesia, ICMI, portal berita Detik, juga dilaporkan pernah diretas sejumlah hacker, baik sekadar main-main ataupun karena didorong motif balas dendam. KPAI, misalnya, pernah menganjurkan sejumlah gim diblokir karena berbahaya bagi anak-anak. Tak lama kemudian, situs KPAI diretas hacker yang merupakan penggemar gim.

Serangan siber yang dilakukan para hacker melalui virus Wannacry dinilai banyak pihak merupakan ancaman serius karena melanda lebih dari 100 negara, tersebar dengan cepat tanpa bisa dicegah, bersifat masif, serta menyerang situs-situs yang termasuk critical resource (sumber daya sangat penting). Karena itu, tidaklah berlebihan jika serangan kali ini bisa dikategorikan sebagai bentuk terorisme siber (cyber terrorism).

Dengan menyerang situs-situs penting berikut seluruh komputer yang terkoneksi dalam jejaringnya, bahaya yang ditimbulkan penyebarluasan virus Wannacry sungguh sangat mencemaskan. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika masyarakat yang sehari-hari sudah sangat bergantung pada data digital dan tiba-tiba seluruh data yang ada tidak bisa dibuka atau diakses? Sebuah rumah sakit yang situsnya diretas dan kemudian medical record pasiennya tidak bisa dibuka, tentu implikasi­nya bukan tidak mungkin akan membahayakan keselamatan jiwa para pasien.

Lebih dari sekadar ulah iseng para hacker yang ingin mendemonstrasikan kemampuan mereka di antara sesama hacker, kali ini ulah para peretas yang memanfaatkan virus Wannacry juga didorong motif ekonomi sehingga dampaknya menjadi sangat luar biasa. Dengan senjata virus canggih yang mampu menembus dan menyebar dengan cepat dalam sebuah jaringan sistem komputer, ancaman yang ditimbulkan virus Wannacry memang tidak mudah dihadapi.

Kesenjangan digital

Walaupun dampak peretas­an situs komputer akibat virus Wannacry di Indonesia belum separah yang terjadi di luar negeri, ke depan risiko yang ditanggung bukan tidak mungkin akan lebih mencemaskan.

Di Indonesia, dari sekitar se­ratus juta lebih pengguna teknologi informasi dan puluhan juta pengguna komputer, sebagian besar bisa dipastikan masih gagap dan bahkan mengalami cultural lag. Di balik penggunaan perangkat komputer yang makin meluas, sering terjadi para penggunanya masih meremehkan bahaya yang mungkin mereka hadapi.

Seperti dikatakan Webster (2005), di era masyarakat digital, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin inovatif diikuti penggunaannya yang semakin pervasive memang merupakan salah satu ciri dari perkembangan masyarakat pascaindustri. Meski demikian, akibat ketimpangan dan ketidakmerataan dalam kepemilikan serta pengaksesan informasi telah menimbulkan persoalan kesenjangan digital.

Kesenjangan digital ialah ketidakmampuan individu dalam merasakan manfaat dari teknologi informasi karena kurangnya aksesibilitas dan kemampuan dalam menggunakan teknologi informasi tersebut (Dewan et al, 2005: 1). Ketika dalam masyarakat kemampuan mengakses dan me­manfaatkan informasi yang tersedia di dunia maya tidak merata, dapat dikatakan telah terjadi keadaan yang disebut ketidaksetaraan kemampuan dalam pengaksesan, dan implikasinya tentu akan menimbulkan kesenjangan dalam kemampuan literasi informasi serta pengetahuan (knowledge) yang dimiliki orang yang satu dengan yang lainnya.

Bagi masyarakat yang memiliki gadget dan komputer, tetapi di saat yang sama tidak didukung dengan literasi informasi yang memadai, jangan heran jika mereka rentan menjadi korban ulah hacker yang mengancam keamanan data-data penting yang tersimpan di situs di dunia cyberspace.

Melawan ancaman penyebarluasan virus Wannacry, di satu sisi, memang mengandalkan kemampuan dari para ahli untuk melindungi situs-situs penting yang ada di masyarakat. Namun, untuk memastikan masyarakat tidak menjadi sasaran empuk para hacker yang terus berulah, tentu yang dibutuhkan ialah dukungan literasi informasi yang memadai.