Senin, 01 September 2014

Gaza dan Jerusalem Simbolis

Gaza dan Jerusalem Simbolis

Jean Couteau  Penulis Kolom “Udar Rasa”Kompas Minggu
KOMPAS, 31 Agustus 2014

                                                                                                                       
                                                      

KADANG saya membayangkan suatu saat saya harus bisa menerbangkan sendiri pesawat. Itu bukan karena cita-cita yang tidak kesampaian, sebab semasa bocah pun sumpah saya tidak bercita-cita jadi pilot. Melainkan, betapa untuk urusan naik pesawat, terutama di pelabuhan-pelabuhan udara modern, sekarang semua cenderung harus dilakukan sendiri oleh calon penumpang.

Seperti terjadi di pelabuhan udara Muenchen baru-baru ini. Saya tiba di bandara di Jerman itu pukul empat pagi. Pesawat yang hendak membawa saya ke Kopenhagen dijadwalkan lepas landas pukul enam. Bandara sepi. Meja check in tidak ada petugas.

Saya tolah-toleh seperti kunyuk mencari bocah yang menyumpitnya. Di Indonesia, biasanya ada saja orang siap membantu. Satu-dua calon penumpang saya lihat memencet-mencet mesin untuk mendapatkan boarding pass.

Dengan kepercayaan diri di bawah 50 persen, saya coba ikut-ikutan. Saya pencet tombol. Keluar instruksi. Kadang mesin seperti ngadat, bahkan menyatakan saya salah. Diam-diam saya panik. Saya tidak terlatih merayu mesin.

Entah bagaimana, keluar juga boarding pass. Persoalan berikut, bagaimana dengan koper, yang harus masuk bagasi pesawat? Kembali saya harus berhadapan dengan mesin, yang terletak persis di pinggir conveyor alias ban berjalan. Dengan logika seadanya saya letakkan koper di atas conveyor.

Kembali saya memencet-mencet. Setelah kekeliruan beberapa kali, keluar lembaran kertas berperekat yang harus saya kalungkan di pegangan kopor. Tiba-tiba conveyor bergerak, membawa koper saya pergi. Kaget saya. Sempat terpikir, kalau saya lengah, jangan-jangan saya ikut terbawa, tercemplung di bagasi pesawat.

Sungguh pagi yang menegangkan. Dunia makin impersonal. Kita tidak lagi berhadapan dengan orang yang bisa kita tanya-tanya.

Sudah diakrabi cukup banyak orang, mentransfer uang sekarang tidak lagi perlu berhadapan dengan petugas bank. Cukup dilakukan sendiri lewat ATM, laptop, atau handphone. Yang masih ke bank berhadapan dengan petugas untuk mengambil uang tinggal orang-orang berumur.

Begitu pun pemesanan tiket pesawat, kereta api, hotel, dan lain-lain. Tak diperlukan lagi berhadapan dengan orang. Belum lagi urusan lebih sehari-hari seperti Coca-Cola, cokelat, kopi panas, kondom, dan lain-lain. Semua bisa didapat lewat mesin. Kita tinggal menyemplungkan koin.

Itulah bagian dari revolusi digital yang kita alami kini dan bakal menjadi masa depan kita. Manusia makin teralienasi dari manusia lain. Andaikata Nietzsche masih hidup, paling hanya dia yang bungah.

Sebaliknya, bagi sebagian besar manusia, justru ada kebutuhan makin besar atas komunitas, sosiabilitas, suasana kekeluargaan, di tengah arus globalisasi dan revolusi digital ini. Itu yang saya rasakan, sekaligus yang menjadi alasan saya ke Jerman. Saya mengikuti Guru Gunawan Rahardja, menghadiri retret para anggota perguruan dari seluruh negara di Eropa. Selama sepuluh hari kami bersama mereka, berlatih silat pagi sore, bercengkerama, ngobrol, setiap hari.

Dari Jerman, usai kegiatan yang oleh sebagian orang dianggap katrow, kuno ini, melalui Kopenhagen saya menuju Swedia untuk tugas kantor. Saya akan mengunjungi perusahaan furniture modern, yang mereknya niscaya tak asing bagi kalangan atas Jakarta.

Tadinya, saya bersiap-siap untuk melakukan wawancara dan eksplorasi soal bentuk, rupa, fungsi, dan berbagai hal yang berhubungan dengan dunia desain mutakhir. Ancang-ancang tersebut seketika saya ubah. Begitu bertemu, pihak perusahaan ini lebih banyak bicara bagaimana menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik, bagi sebanyak-banyaknya orang. Tak ketinggalan, tanggung jawab untuk kelangsungan hidup di masa depan, atau istilahnya: sustainability. Itulah katanya inti kreasi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar