Warisan
R Valentina Sagala ; Aktivis Perempuan, Hukum, dan HAM;
Anggota Dewan Redaksi Sinar Harapan
|
SINAR
HARAPAN, 22 Februari 2014
Jika boleh memilih, apa yang ingin Anda terima, warisan berupa
rumah, tanah, mobil, emas dan berlian, atau nilai-nilai kebaikan yang berguna
dalam hidup?
Sebagai menantu, saya tak berkesempatan bertemu dengan kedua
orang tua suami saya tercinta. Ayah mertua telah dipanggil Tuhan sepuluh
tahun lalu.
Istri tercintanya, ibu mertua saya, menyusul ke rumah Tuhan tiga
tahun kemudian. Guna menjawab keingintahuan saya mengenal mereka, saya sering
menanyakan tentang mendiang mertua kepada suami.
Foto-foto keluarga menjadi sumber cerita yang menarik. Suami
saya yang pendiam bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbagi kisah
tentang ayah dan ibunya.
Sang ayah bersifat keras, tegas, jujur, berprinsip, dan
bermental pejuang. Sebagai seorang pegawai negeri sipil mantan pejabat
kehutanan di Kalimantan, beliau bisa digolongkan tak punya harta kekayaan
melimpah.
Baginya prinsip ini penting: kejujuran nomor satu, kehormatan
bukan untuk dinegosiasikan, korupsi adalah barang haram. Beliau pernah
berpesan pada suami saya, “Bapak tidak
punya apa-apa, tapi bisa tidur tenang setiap malam.” Pesan itu
bertahun-tahun sebelum Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk.
Suami saya menyimpan berjuta kenangan dengan ibunya. Hal yang
paling dikenangnya adalah sifat ibunya yang sangat lembut, penuh perhatian,
dan setia. Tidak pernah satu kali pun ibunya yang juga bekerja sebagai guru,
mengeluh dengan kehidupannya atau mengeluarkan kata-kata keras.
Sang ibu menjalani perannya sebagai istri mantan pejabat tinggi
daerah yang hidup seadanya, dengan tabah dan ikhlas. Beliau bahkan tak
sungkan menggoreng kacang dan membungkusnya tiap malam untuk dijual esok hari
di warung kecilnya di depan rumah di Balikpapan. Ketabahan dan
keikhlasannyalah yang menjadi inspirasi kekuatan suami saya.
Hidup memang bisa membawa seseorang pada situasi yang dilematis.
Biaya kebutuhan hidup yang meningkat dibarengi dengan gaji bulanan yang
terbatas. Sementara itu, punya kedudukan sebagai pejabat bisa mendorong
seseorang mengambil jalan pintas lewat korupsi.
Bertahun-tahun lamanya rakyat dipertontonkan kekayaan melimpah
para pejabat yang memperkaya diri dan sanak keluarganya (anak, adik, adik
ipar, dan sebagainya). Ada hakim menjual putusan demi putusan sengketa
pilkada dengan label harga tertentu yang langsung masuk ke kantung pribadi.
Miris.
Saya tiba-tiba ingat ayah dan ibu saya. Hingga kini mereka masih
rajin menelepon saya dan adik-adik, meski kami telah berkeluarga. Ayah tak
segan menegur jika kami salah melangkah.
Ibu tetap rajin mengingatkan kami untuk terus mengingat Tuhan.
Kalau saya dan adik-adik saya tengah tenggelam di kesibukan kami
masing-masing, ayah paling rajin meminta kami berkumpul. Seperti biasa,
panggilan itu serta-merta kami sambut dengan suka cita, meski harus menempuh
perjalanan berjam-jam menerjang kemacetan.
Dalam perenungan saya, warisan yang terindah dari orang tua bagi
anak tentu adalah kebersamaan semasa mereka hidup. Setiap detiknya, ada
nilai-nilai kebaikan yang dipraktikkan dan dicontohkan; dijalankan dan
dilatih. Pada tiap embusan napas itu ada didikan yang ditanamkan, yaitu
pesan-pesan kebaikan yang mengakar dan prinsip-prinsip yang merasuk dalam
jiwa.
Bicara warisan, sebenarnya hal yang diwariskan orang tua pada
anak adalah apa yang diterapkan anak itu dalam kehidupannya kelak. Itu
mengapa orang sering prihatin jika melihat seseorang yang lahir dari keluarga
yang jujur, ternyata adalah seorang penipu.
Mungkin sebagai orang tua, kita sering kali menghabiskan terlalu
banyak energi untuk menumpuk kekayaan yang jika kita meninggal dunia kelak,
dapat diwarisi anak-anak kita. Kita lupa rumah, tanah, emas, atau berlian
yang diwariskan bisa habis sekejap. Sementara itu, nilai-nilai kebaikan yang
telah tertanam dan terlatih, tak lekang dimakan waktu.
Akhir pekan ini saya, suami, dan keluarga besar khusus datang ke
rumah mertua saya di Balikpapan. Keluarga bermaksud mengadakan kebaktian
diikuti acara kecil mengenang sepuluh tahun ayah dan tujuh tahun ibu pulang
ke rumah Tuhan.
Banyak orang yang hadir di perhelatan sederhana ini. Di rumah
kayu tempat mendiang ibu mertua saya menggoreng kacang dan membungkusnya tiap
malam ini, saya semakin tahu dari mana suami saya mewarisi nilai-nilai
seperti ketabahan dan keikhlasan yang dimilikinya selalu. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar