Ayam
Jantan Berkokok
Sukardi
Rinakit ; Pendiri
Soegeng Sarjadi Syndicate dan Kaliaren Foundation
|
KOMPAS,
18 Februari 2014
|
Seminggu terakhir ini
saya kurang sehat. Namun, erupsi Gunung Kelud, setelah sebelumnya Sinabung,
tanah longsor, serta banjir yang melanda hampir seluruh pelosok Tanah Air,
mendorong penulis membuka beberapa data lain, seperti target produksi minyak
bumi tahun 2014 dan realisasi pajak tahun lalu.
Dari sedikit data
tersebut, secara simplistis bisa disimpulkan, beban hidup bangsa tahun ini
akan lebih berat daripada tahun lalu. Rusaknya lahan-lahan pertanian karena
serangkaian bencana alam akan mendorong peningkatan impor pangan. Demikian
juga dengan penurunan produksi minyak bumi dari sekitar 850.000 barrel per
hari (bph) menjadi 820.000 bph tahun ini. Situasi itu diperberat dengan
target pajak yang tak terpenuhi dan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang
mencapai sekitar Rp 340 triliun pada 2013.
Dengan gambaran
seperti itu, optimisme hanya mungkin bangkit kalau kepemimpinan nasional saat
ini berani mengambil kebijakan drastis, misalnya memotong subsidi BBM.
Apabila hal ini tidak dilakukan, siapa pun yang menjadi presiden pada Oktober
nanti, dia akan menghadapi jebakan sedahsyat bom nuklir, khususnya terkait
dengan pangan, subsidi BBM, dan pertumbuhan penduduk.
Sehubungan dengan hal
itu, apabila kepemimpinan nasional sekarang lepas tangan terhadap beberapa
masalah yang bisa menjadi bom waktu bagi pemerintahan mendatang, partai
politik sebenarnya bisa menjadi juru selamat dari situasi yang suram itu. Di
sini, partai dapat menjalankan fungsi tertingginya, sebagai kristalisasi
beberapa fungsi, yaitu mencalonkan tokoh yang dikehendaki publik, yang pada diri figur itu hadir aspirasi rakyat,
perekrutan kepemimpinan, dan ideologi yang hidup.
Ibarat ayam jago yang
berkokok karena matahari terbit, tokoh itu lahir dari rahim konsolidasi dan
kaderisasi partai politik. Kelahirannya sebagai ”juru bangun”, yaitu
membangunkan masyarakat untuk bergerak, mengais rezeki, dan mencari
kehidupan. Oleh karena pemimpin yang dimunculkan partai politik tersebut
berselimut kejujuran, kesederhanaan, dan mempunyai dignity (martabat), dia bisa menggenggam hati rakyat dan
memandu mereka menjalani kehidupan bernegara.
Sehubungan dengan hal
tersebut, pemetaan terhadap partai politik peserta pemilu menunjukkan bahwa
kelahiran seorang figur yang diharapkan publik ternyata tidak bisa muncul
dalam waktu singkat. Selain itu, juga belum tentu lahir dari rahim partai
politik berkuasa dan koalisinya. Ini memang kesimpulan sementara dan membalik
cara pikir yang selama ini berlaku.
Belum munculkan jago
Argumen umum yang
berkembang selama ini adalah partai politik berkuasa akan dengan mudah
melakukan kaderisasi dan memperkuat cengkeraman jejaring kekuasaannya.
Demikian juga dengan partai-partai lain yang bergabung dalam koalisi
penguasa. Namun, buktinya, Partai Demokrat, Partai Golkar, dan beberapa
partai lain yang tergabung dalam Sekretariat Gabungan Koalisi Partai Politik
Pendukung Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Setgab) sejauh ini
belum mampu memunculkan ”jago” yang menjadi preferensi publik. Calon presiden
mereka belum dianggap sebagai pemandu tepercaya oleh masyarakat.
Sebaliknya, Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan yang selama dua pemilu berada di luar
pemerintahan, seperti dinyatakan Philips J Vermonte dari Centre for Strategic and International Studies, telah mengajarkan
nilai politik penting bahwa menjadi oposisi tidak berarti harus mati. Menjadi
oposisi juga berarti bisa fokus menjalankan konsolidasi dan kaderisasi di
tubuh partai politik. Hasilnya, selain PDI-P menjadi solid dan berwibawa,
juga melahirkan sejumlah kepala daerah yang baik dan politisi muda mumpuni.
Terkait dengan itu,
saya menambahkan bahwa faktor kepemimpinan ketua umum partai memegang peranan
penting dalam menjaga ketenangan partai tersebut. Apabila partai politik
bergejolak dan terbelah, konsolidasi internal dan kaderisasi sulit
dijalankan.
Oleh sebab itu, suka
atau tidak, Megawati Soekarnoputri selama ini telah bekerja dalam diam guna
mempersiapkan lahirnya para politisi muda PDI-P tersebut. Belum tentu
politisi lain mampu melakukan apa yang ia jalani, yaitu menjaga biduk partai
tetap solid selama lebih dari dua dasawarsa.
Tidak mengherankan
jika pemilik narasi politik di ranah kepartaian saat ini adalah PDI-P. Adapun
pemilik narasi untuk calon presiden juga melekat pada kader yang dibesut
Megawati Soekarnoputri, yaitu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).
Dalam realitas politik, narasi seperti ini, meminjam Alfred North Whitehead,
ibarat prinsip pengkristalan (principle
of concretion) sehingga secara rasional sulit dikalahkan, termasuk oleh
politik uang dan manipulasi.
Hal itu disebabkan
pemilik narasi pada dasarnya adalah pemilik sejarah. Apabila ada pihak yang
secara ekstrem berkehendak membelokkan sejarah dengan sumber daya politik
yang dimilikinya, secara prediktif bukan sekadar apatisme publik yang
menebar, melainkan juga letupan konflik yang luas dengan intensitas yang
sulit diprediksi.
Hal itu terkait dengan
sikap kritis kelas menengah yang kini jumlahnya diperkirakan sekitar 130
juta. Meski kelas menengah Indonesia sering dianggap mendua, alam bawah sadar
mereka tetap didominasi kesadaran kritis kognitariat. Apabila ayam jantan
berkokok, mereka akan mengamplifikasinya. Oleh karena itu, biarlah pemimpin
baru lahir memandu bangsa Indonesia. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar