Pilihan Baru Politik Pemilihan Taiwan
Rene L Pattiradjawane ;
Wartawan Senior Kompas
|
KOMPAS,
13 Januari 2016
Bagi Taiwan yang memiliki pemerintahan dikenal dengan nama
Republik China (Chunghua Minkuo), proses bernegara selama lebih dari 100
tahun memberikan kematangan tersendiri dibandingkan dengan negara-negara
demokrasi Asia lain. Pemilihan presiden langsung di Taiwan pada 16 Januari
adalah bentuk kematangan lain di tengah rapprochement Beijing-Taipei sejak
pertemuan para pemimpin kedua pihak Xi Jinping dan Ma Ying Jeou di Singapura
tahun lalu.
Taiwan adalah korban Perang Dingin yang menghasilkan dua Vietnam
dan berakhir dengan kekalahan AS tahun 1975, dua China, serta dua Korea yang
masih mencari bentuk integrasi yang memadai. Pertemuan Ma-Xi di Singapura
diharapkan akan menjadi model baru reunifikasi damai dalam proses apa yang
disebut sebagai Konsensus 1992, hanya ada satu China dan terserah setiap
pihak mengartikannya.
Calon pemerintahan berkuasa Partai Nasional China (Kuomintang), Eric
Chu Li-luan, yang sekarang menjabat Wali Kota Taipei Baru akan berhadapan
dengan kelompok oposisi pimpinan Tsai Ing Wen, Ketua Partai Progresif
Demokratik (Minchintang). Pemilihan presiden ini akan menentukan masa depan
hubungan dengan Beijing, pertumbuhan ekonomi domestik, dan perimbangan
geopolitik dalam penataan stabilitas kawasan.
Di atas kertas, berbagai jajak pendapat yang diselenggarakan,
termasuk jajak pendapat oleh Kuomintang sendiri, merujuk Tsai sebagai
pemenang pemilihan presiden ini. Kemenangan Tsai lebih banyak disebabkan
Kuomintang tidak memiliki kader politik yang setara Ma Ying Jeou, seolah
partai politik tertua di Asia ini benar-benar tak lagi memiliki politisi
unggulan.
Namun, di sisi lain, perilaku pemilih, khususnya orang muda, selama
delapan tahun di bawah kekuasaan Kuomintang kecewa dengan kebijakan-kebijakan
Presiden Ma yang condong pro Beijing. Serbuan orang-orang dari daratan
Tiongkok ke Taiwan, dalam berbagai aktivitas, khususnya penguasaan ekonomi
dan perdagangan, menyebabkan ”pemberontakan” orang muda dengan pendudukan
parlemen Taiwan tahun lalu.
Ada beberapa faktor menjadikan pemilihan Taiwan krusial.
Pertama, selain memenangi kursi kepresidenan, Minchintang diprediksi akan
memenangi mayoritas kursi parlemen Lifa Yuan (Legislatif Yuan). Kalau ini
terjadi, pilihan bagi Tsai Ing Wen menjadi leluasa dan mempunyai dukungan
memadai rakyat Taiwan umumnya dalam berhadapan dengan Beijing.
Kedua, Tsai memerlukan strategi baru tidak menimbulkan kemurkaan
Beijing atas konstitusi partainya membentuk kemerdekaan Taiwan. Posisi status
quo yang dianut Tsai atas Konsensus 1992 tidak memiliki nuansa politik dalam
menata dan mengelola hubungan Taipei-Beijing. Lingkungan regional dan global
Taiwan juga akan berubah sangat drastis sehingga Tsai harus mencari modus
keseimbangan baru menjaga kepentingan utama Taiwan dalam berhadapan dengan
Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Dengan pertumbuhan ekonomi 2,3 persen, Taiwan akan dihadapi
dengan kenyataan menurunnya pacu ekonomi RRT. Persaingan ekonomi kedua pihak
yang selama ini saling melengkapi pun akan rontok menghadapi situasi baru
pertumbuhan di kedua belah pihak. Kombinasi lingkungan politik dan ekonomi
akan menyebabkan Tsai terdesak mencari bentuk pilihan baru, termasuk
penentuan nasib sendiri dalam konteks nasionalisme China.
Pilihan ini menarik karena menata kesetimbangan lingkup
kedaulatan satu China akan menjadi antitesis terhadap gejolak politik yang
terjadi di Hongkong pasca 2017 dalam menentukan pemilihan langsung tanpa
campur tangan Beijing. Baik Taipei maupun Beijing harus bersiap menghadapi
kenyataan adanya pilihan politik baru di luar ekosistem yang sudah terasa
usang. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar