Sabtu, 08 Februari 2014

Memaknai Musibah

Memaknai Musibah

Djamaluddin Darwis   ;   Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)
SUARA MERDEKA,  07 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
KOSAKATA musibah, kata Arab, yang bersepadan makna dengan kata bencana, menjadi menu berita sehari-hari. Berawal dari meletusnya Gunung Sinabung, banjir bandang di Manado, banjir yang merendam sebagian wilayah pantura Jawa, tanah longsor, puting-beliung sampai gempa bumi.

Beragam musibah tersebut menyisakan penderitaan. Kejadian beruntun itu menjadi perhatian banyak pihak, di antaranya Prof Fathur Rokhman, Rektor Unnes, perguruan tinggi konservasi, lewat tulisannya ”Sikap Kultural Hadapi Bencana” (SM, 27/1/14). Manusia wajib menyikapi secara bijak bencana dengan merefleksi diri secara kultural.

Sebagai bangsa berbudaya, manusia perlu memperhatikan warisan leluhur, local wisdom untuk memayu hayuning bawana, mempercantik alam yang dari sono-nya sudah cantik. Ini merupakan upaya kultural, supaya dalam mengeksplorasi alam, kita harus tetap melindungi dan menjaga keseimbangan.

Guna mencegah bencana seperti banjir yang mengancam tiap musim hujan, pengelolaan alam jangan sampai merusak keharmonisan ekologi. Pemerhati lain, Tjahjo Kumolo melihat sisi positif dengan membedah hikmah di balik musibah (SM, 1 Feb. 2014). Dikatakan, ada blessing in disguise, kemunculan empati, solidaritas sosial, dan kegotongroyongan yang kini dirasakan mulai memudar.

Bahkan penulis ”Gayeng Semarang”, Abdul Djamil, mantan rektor IAIN Walisongo, tidak ketinggalan ikut menggayengkan melalui judul pendek, hanya satu kata, ”Musibah” (SM, 2/2/14). Sebagai bangsa religius, kita perlu menjaga sikap bijak secara kultural dibarengi sikap spiritual.

Manusia harus menempatkan diri sebagai bagian dari alam, tidak dapat lepas darinya, melebur sebagai kesatuan ekologi dan harmoni. Andai keseimbangan terusik, alam menderita dan bisa ”marah” dan kemudian manusia juga terkena imbasnya.

Musibah memiliki beragam makna, baik secara akademik ilmiah, kultural, sosial, maupun spiritual, bergantung cara pandangnya. Pemaknaan ini memunculkan penyikapan, dan secara spiritual, banyak yang menyatakan setidak-tidaknya ada tiga makna dalam musibah. Pertama; teguran Allah terhadap manusia yang merusak keseimbangan alam.

Dalam mengeksploitasi alam, dengan berbagai alasan manusia acap kurang, bahkan tidak mempertimbangkan kerusakan yang timbul. Sepintas memang ada pembangunan, tapi tanpa memperhatikan keseimbangan penyangganya.

Begitu tidak ada keseimbangan, kemunculan musibah tidak dapat dihindarkan. Sebagaimana difirmankan dalam Alquran, ”Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 77).

Peringatan Tuhan ini harus disikapi dengan menumbuhkan kesadaran diri, kesalihan sosial, kesalihan lingkungan, dengan memperbaiki persahabatan dengan alam. Kedua; ujian dari Allah.

Kehidupan dan kematian dengan segala situasinya merupakan bagian dari ujian Tuhan, sebagaimana ayat, ”Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Muluk:2).

Kepedulian Sosial

Ujian tidak hanya sesuatu yang bersifat penderitaan seperti musibah. Namanya saja ujian, tujuannya mengukur kualitas sikap seorang hamba pada Tuhannya. Kekayaan dan kemiskinan merupakan ujian dari Tuhan, yang kaya harus bersyukur dan memiliki kepedulian sosial menolong orang yang bernasib kurang beruntung.

Adapun yng miskin harus tetap sabar dan tak putus asa mencari jalan keluar dari kemiskinannya. Hakikat ujian adalah untuk meningkatkan peringkat kualitas hidup. Orang kaya yang berkualitas, adalah yang memperoleh kekayaan dengan jalan halal, pandai bersyukur, dan peka sosial. Ketiga; hukuman dari Allah.

Orang yang mengetahui dan mengerti bahwa perbuatannya tidak baik, bahan menimbulkan kemudaratan atau kerusakan tetapi ia tetap nekat dengan berbagai alasan, inilah yang dapat menimbulkan musibah sebagai hukuman. ”Demikianlah telah tetap hukuman Tuhanmu terhadap orangorang yang fasik, karena sesungguhnya mereka tidak beriman”. (Yunus:33).

Bisa saja seseorang beriman, tetapi ketika ia nekat berbuat tidak baik dan mendatangkan kemudaratan, perilaku itu seperti orang tidak beriman. Iman bisa menjadi kuat, dan kadang menipis, bahkan hilang.

Karena itulah kata iman sering berpasangan dengan kata amal salih, perbuatan yang baik mendatangkan maslahah dan kebaikan bukan kerusakan. Yang diperlukan adalah sikap sadar diri akan kesalahan, beristigfar mohon ampun kepada Allah, bertobat menghentikan perilaku yang merusak seraya memperbaiki sikap dengan perilaku yang mendatangkan manfaat bagi sesama.

Apa pun makna dari musibah, manusia perlu menyikapi secara positif, mencari titik putih dari musibah itu untuk perbaikan hidup bersama. Kita berharap berbagai musibah yang terjadi di Tanah Air dapat menjadi pelajaran berharga, bisa diantisipasi, dan diatasi bersama. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar