Sabtu, 15 Februari 2014

Insan Pers

Insan Pers

 Toeti Prahas Adhitama  ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA,  14 Februari 2014
                                                                                                                       
                                                                                         
                                                      
TENTANG pers, suatu kali Jenderal Moerdiono (alm) menyatakan, “Saya tidak bisa bayangkan apa jadinya kalau tidak ada pers.“ Di lain pihak, Jenderal LB Moerdani (alm) bernada agak keras, “The press thinks he is Jesus Christ, but he is not.“ Itulah dua sisi mata uang mengenai pers di mata pejabat. Pers diperlukan, tetapi sekaligus dihujat.

Akhir pekan lalu, sekitar 1.250 insan pers berkumpul di Bengkulu untuk merayakan Hari Pers Nasional dan pertemuan Serikat Perusahaan Pers; kehadiran terbanyak selama ini. Mungkin sebagian terpikat jadwal semula yang mengundang sejumlah capres yang sering muncul di pers. Rencananya, mereka akan berbicara dalam sebuah panel tanya-jawab dengan yang hadir. Ternyata mereka absen. Hanya tampak Dino Pati Djalal, Mahfud MD, dan Dahlan Iskan. Bahwa banyak capres absen, tentu mengecewakan.

Pembahasan dalam konvensi antara lain berkisar tentang peran dan tanggung jawab pers untuk kemajuan bangsa dan bagaimana memajukan industri pers sebagai pendukung misinya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir untuk menyatakan terima kasihnya kepada pers, tetapi juga mengungkapkan kekecewaan karena pers kurang bersahabat terhadap diri dan keluarganya. Menurut Ketua Dewan Pers Bagir Manan, selama 2013 terjadi 700 pengaduan publik terkait pemberitaan pers.

Pers di mata pers dan publik

Untuk mengenali jaringan sosial yang ada, pers berperan penting bagi masyarakat. Pers dituntut menunaikan tugas sejarahnya sebagai pelindung demokrasi. Dalam hal kita, demokrasi Pancasila. Maka insan pers diharapkan bersikap informatif, edukatif, dan objektif.

Tentu ada di kalangan masyarakat pers yang bersikap ceroboh, tidak membuat persiapan yang baik, atau membosankan. Ada pula yang gemar sensasi, memutarbalikkan fakta, dan salah menginterpretasi situasi. Tetapi, insan pers yang ideal umumnya bekerja keras dan tidak bosan memperluas pengetahuan dan menyempurnakan keterampilan berekspresi. Menjadi komitmen insan pers untuk memberitakan dengan cepat bila bahaya membayangi masyarakat; mungkin akibat situasi ekonomi, politik dan sosial umumnya; maupun bencana alam seperti sekarang.

Di luar tugasnya, insan pers masih mempunyai tanggung jawab karena anggapan masyarakat terhadap dirinya. Misalnya, masyarakat umumnya menganggap mereka serba tahu dan mungkin serbabisa, walaupun ada yang selalu mencurigainya dan tidak memercayainya. Insan pers, karena itu, sebaiknya sadar, dia bukan sekadar penyampai berita, tetapi penyaring dan pengolah informasi yang efisien, berwawasan luas, dan canggih.

Tentu kalangan pers mengakui, tidak semua anggotanya memiliki kemampuan ideal seperti tersebut di atas. Namun, mereka memiliki kesempatan untuk membuktikan diri sebagai insan pers ideal yang dilandasi keinginan untuk berbakti dan membangun masyarakat lebih baik, mengingat sebagai bangsa, kita masih dihadang berbagai kesulitan yang membelenggu demokrasi; masalah kemiskinan, polusi, dan maraknya korupsi yang mengganggu ketertiban masyarakat. Insan pers sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi komunikator yang diperlukan masanya.

Memang ada segolongan masyarakat yang tidak hentihentinya berceloteh tentang keburukan media massa masa kini, yang membuat kita berpikir, jangan-jangan benar demikian? Apakah benar media massa membosankan dan tidak sepenuhnya objektif? Faktanya, objektivitas bersifat relatif, khususnya dalam situasi tidak tertib dan tidak rapi seperti saat ini. Selalu timbul keberpihakan. Dalam hal media massa, walaupun belum-belum sudah dicurigai, sebenarnya kami meyakini harus berpihak kepada rakyat. Inilah pesan hakiki demokrasi.

Sejujurnya, mungkin pemerintah sekarang merasa kewalahan menghadapi media massa yang dinamis kalau bukan agresif, yang mengibarkan bendera demokrasi. Namun, jangan mengira seluruh insan pers bekerja sambil lalu. Selain SDM yang berpendidikan formal memadai, kelompok tenaga risetnya pun kuat. Sekarang ini, misalnya, media massa sedang tekun mempelajari pengaruh konvergensi media sosial; bagaimana perkembangan teknologi harus tekun diikuti demi misi yang lebih sempurna dan cepat menyebar ke seluruh masyarakat.

Kekuatan pengimbang

Memang perlu ada media penerangan lain yang mengimbangi media massa swasta yang sering dianggap mengedepankan sensasi demi rejeki semata. Idealnya ada media penerangan bermutu seperti BBC di London; yang secara universal dianggap objektif dan dapat dipercaya, sekalipun berlandaskan penerangan negara. Dalam kaitan ini, media massa umum nya menyadari kaum intelektual memainkan peran penting sebagai perantara yang menghubungkan kaum penguasa dan masyarakat. 
Lebih-lebih orang-orang media massa pun tidak homogen.

Itu menjelaskan mengapa Indira Gandhi (1917-1984), negarawan yang pernah dua kali menjabat perdana menteri, dalam suasana darurat di negaranya sekitar 1975 mengatakan, `'Saya benci penyensoran.'' Tetapi penyensoran toh dia lakukan karena koran-koran waktu itu berkampanye menentang pemerintah dan merongrong rasa percaya masyarakat. Sekadar catatan, pers India seperti juga pers Indonesia, memainkan peran penting dalam gerakan kemerdekaan. Sampai sekarang pun keduanya rasanya masih menjadi forum penting untuk mengekspresikan pendapat umum.

Mahatma Gandhi (18691948) politikus dan pemimpin spiritual dalam gerakan nasionalis di negaranya, pernah mengatakan, pers seharusnya bertujuan, “Bisa mengerti perasaan publik dan mengekspresikannya; juga membangkitkan gagasan yang perlu bagi publik; dan berani mengungkap kekurangan yang ada.“ Spirit itu yang antara lain menjawab mengapa insan pers, di mana-mana, bersikap dan berperilaku seperti sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar