Remitologisasi Kepahlawanan Guru
Ari Kristianawati ;
Guru SMAN 1 Sragen
|
JAWA
POS, 23 November 2015
GURU berperan penting dalam peningkatan
kualitas pendidikan nasional. Guru merupakan aktor pembelajaran yang memiliki
tanggung jawab dalam mandat pencerdasan kehidupan masyarakat, khususnya
generasi muda. Guru sekaligus juga memikul beban sejarah terkait dengan tugas
meningkatkan standar kualitas pembangunan manusia.
Jelang Hari Guru pada 25 November, patut
direnungkan eksistensi guru saat ini yang diletakkan dalam eksperimen
kebijakan negara yang selalu dikaitkan dengan pemenuhan kesejahteraan
ekonomis. Bukan kebijakan yang memuliakan martabat guru.
Pelaksanaan Undang-Undang Guru, dengan titik
tekan pada hasrat pengembangan profesionalitas, menimbulkan beban psikosisal
bagi guru. Jumlah guru di Indonesia mencapai 2,5 juta orang dan 60 persen
sudah menikmati tunjangan profesi guru (TPG) dengan menyandang label
profesional yang otomatis mendatangkan sorotan dari masyarakat. Sorotan yang
selalu berfokus pada aspek standar kinerja dan kualitas yang unggul dari para
guru.
Beban psikososial yang dirasakan para guru,
yang dianggap sudah makmur karena insentif tunjangan profesi guru, menjadikan
guru keluar dari imajinasi kepahlawanan dalam dunia pendidikan.
Guru saat ini tak ubahnya seperti tenaga kerja
yang digaji mahal dengan tuntutan profesionalitas mengajar. Guru bukan
sebagai pendidik, namun pekerja di dunia pembelajaran.
Mitologi guru sebagai pahlawan tanpa tanda
jasa dengan ciri khas kebersahajaan, keunggulan penguasaan ilmu, dan
ketekunan menanamkan nilai budi pekerti telah tergerus oleh citra subjektif
guru yang modern, makmur, dan cakap dengan penguasaan peranti teknologi
pendukung kegiatan belajar dan mengajar. Publik dan siswa memandang guru tidak
lagi sebagai personifikasi sosial tentang kejujuran, kepintaran, dan
keteladanan.
Blunder proyek sertifikasi guru dengan muara
kepentingan mengucurkan alokasi tunjangan profesi guru telah mereduksi
legitimasi sosial guru. Tidak lagi dipandang sebagai insan cendekia yang
bertugas mendidik generasi muda.
Sertifikasi guru sebagai proyek labelisasi
profesionalitas guru telah menghancurkan ”mitologi” yang memiliki basis
legitimasi kultural guru. Beberapa implikasi sosiologis yang dirasakan guru,
antara lain, pertama, guru adalah tenaga kerja (”kuli”) dalam panggung
pekerjaan sebagai pengajar.
Guru tidak lagi menjadi sosok yang memiliki
keagungan moral sebagai pendidik dengan segudang tugas mencerdaskan dan
mencerahkan karakter anak didik. Namun, semata sebagai komponen pekerja dalam
aktivasi kegiatan belajar-mengajar yang diatur dalam alokasi jam mengajar
minimal 24 jam dan maksimal 40 jam per pekan.
Kedua, guru naik status ekonomis. Guru kini
dipersepsikan sebagai kelas borjuis kecil dengan gaya hidup yang konsumtif
dan lalai akan tanggung jawab untuk memperdalam ketajaman wawasan
pengetahuan.
Guru tidak lagi dipersepsikan sebagai ”Oemar
Bakri” yang ke sekolah naik sepeda kumbang dengan ketulusan hati untuk
mengajar dan mendidik siswa-siswanya. Guru ke sekolah dengan naik mobil
keluaran terbaru, menjinjing laptop terbaru, dan mengajar gaya eksekutif
dengan bergantung pada materi dalam dokumen yang ditayangkan tanpa harus
diingat.
Ketiga, guru pragmatis. Pascaproyek
sertifikasi, banyak guru yang tergerus menjadi sekadar pengajar yang
menyampaikan materi pelajaran untuk memenuhi alokasi jam mengajar, tanpa
proses kreatif dalam metodologi pengajaran. Hanya sedikit guru yang bekerja
keras dalam upaya membangkitkan minat belajar siswa dengan aneka metodologi
pembelajaran.
Kehormatan guru di masa lalu terbungkus dalam
mitologi kepahlawanan tanpa tanda jasa. Guru mendidik tanpa pamrih dan aktif
dalam menggali khazanah keilmuan dengan melengkapi diri dengan berbagai
pustakaloka yang terkait disiplin keilmuan.
Guru mengajar bukan lagi untuk kepuasan
batiniah. Namun, tereduksi untuk mengejar target mendapatkan kesejahteraan
ekonomis dengan menyandang label profesionalitas.
Marwah guru sebagai pejuang pendidikan menjadi
pekerja pendidikan. Guru seolah tidak memiliki akuntabilitas sosial untuk
mengimplementasikan falsafah pendidikan yang transformatif kepada siswa
dengan membangun apa yang disebut tahapan pendidikan yang membebaskan.
Padahal, guru adalah pejuang yang bekerja atas
kesadaran organik untuk mencerdaskan generasi muda dengan keunggulan ilmu,
karakter humaniora, dan visi kemanusiaan yang demokratis.
Untuk itulah, diperlukan remitologisasi
kepahlawanan guru. Remitologisasi kepahlawanan guru tidak menjadikan guru
sebagai mitos dalam dunia pendidikan nasional.
Namun, mengembalikan jiwa keteladanan, sikap
hidup kebersahajaan, dan komitmen mengembangkan cakrawala keilmuan. Guru
tidak boleh tersandera oleh kepentingan ”ekonomis” yang menempatkan tugas
mengajar sekadar mencari upah yang mahal melalui tunjangan profesi guru.
Tunjangan profesi guru harus diperlakukan
sebagai pengungkit kesadaran untuk menjadi pendidik yang haus ilmu
pengetahuan dan tulus mengabdi bagi masyarakat dan bangsa. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar