Minggu, 23 November 2014

Religiusitas Kaum Nelayan

                                       Religiusitas Kaum Nelayan

Komaruddin Hidayat  ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO,  21 November 2014

                                                                                                                       


Suatu hari saya terlibat diskusi kecil dengan seorang antropolog agama UIN Jakarta, Prof Jamhari Makruf, mengapa masyarakat nelayan senang mengadakan ritual doa disertai melepas sesaji ke laut? Menurutnya, ini bermula dari rasa cemas ketika mereka melaut mencari ikan.

Tidak saja cemas, mereka juga merasa dirinya sangat kecil dan takut menghadapi kemungkinan datangnya ombak besar dan ganas yang bisa menenggelamkan mereka. Sementara mereka tidak memiliki ladang penghasilan kecuali dari laut sehingga mereka selalu berharap agar laut berbaik hati. Sehingga memudahkan mereka dalam menangkap ikan yang merupakan satu-satunya sandaran kehidupannya.

Perasaan takut menghadapi laut yang sedemikian besar, luas, dan dalam ini benar-benar membuat seorang nelayan merasa sangat kecil dan takluk di hadapan lautan. Karena itu, kaum nelayan lalu secara berkala mengadakan ritual dan sesaji membujuk penguasa laut agar tidak mendatangkan malapetaka bagi mereka.

Setiap upacara ritual yang bernuansa keagamaan selalu terdapat dua kandungan pokoknya. Pertama , meminta pada penguasa semesta agar terhindar dari malapetaka. Kedua, terima kasih atas kebaikan-Nya.

Secara antropologis, kita dapat membedakan tiga kategori masyarakat dalam menyikapi misteri alam. Pertama, mereka yang berada dalam tahap alam mistis. Mereka berpandangan dan berkeyakinan bahwa alam sekelilingnya itu penuh kekuatan gaib semacam dewa sehingga yang dominan adalah rasa takut.

Para dewa ini mesti dibujuk dan diberi sesaji agar tidak marah. Bagi masyarakat mistis, jika terjadi ombak besar, hujan lebat, gunung meletus, anak hilang di pantai, penyakit menular, semua itu kemarahan para dewa karena kesalahan ulah manusia. Agar tidak terulang lagi, biasanya masyarakat melakukan ruwatan, ritual dan sesaji, serta minta ampun.

Kategori kedua adalah cara pandang ontologis yaitu masyarakat yang mulai memandang perilaku alam secara rasional, baik berkat pendidikan maupun pengalaman panjang hidupnya sehingga pada fase ini masyarakat bisa memahami secara rasional mengapa terjadi banjir, hujan lebat, dan ombak besar, serta penyakit menular penyebabnya bukan karena dewa penguasa jagat marah, melainkan itu kebiasaan alam yang terjadi secara berkala yang bisa dijelaskan dengan nalar.

Dalam istilah akademis, itu hukum alam yang berlaku berdasarkan rangkaian sebab-akibat. Yang diperlukan bagi para nelayan adalah memahami siklus alam, kapan ombak besar, kapan musim hujan, dan bagaimana membuat saluran air yang baik serta menjaga kebersihan agar terjauh dari penyakit.
Dalam tahap ini posisi alam dan manusia sejajar, sedangkan dalam alam mistis manusia merasa dikuasai alam.

Kategori ketiga adalah masyarakat yang merasa sudah maju dalam penggunaan sains dan teknologinya sehingga merasa mampu mengeksplorasi, merekayasa, dan menguasai alam. Jika nelayan kecil takut pada ombak, pencari ikan yang menggunakan kapal besar dengan peralatan teknologi canggih tak lagi takut pada ombak dan hujan lebat. Mereka tak lagi percaya pada pertolongan sesaji dan ritual doa-doa dalam menangkap ikan di tengah laut. Analisis dan perhitungan sains dalam membaca cuaca dan ombak lebih penting ketimbang ritual doa-doa dan memberikan sesaji pada penguasa laut.

Lalu, bagaimana dengan religiusitas kaum nelayan Indonesia? Sebagian tentu masih berada dalam kurungan alam mistis meski sebagian dari mereka telah mendapatkan sentuhan sains dan teknologi modern serta ajaran keagamaan yang bersumber wahyu Ilahi. Namun, mitos-mitos tentang penjaga lautan yang minta sesaji juga masih bertahan sampai sekarang yang diceritakan dari generasi ke generasi.

Adapun sosok Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang berhasil membina karier sebagai eksportir ikan tentu saja sudah berada pada tahapan fungsional. Dia bahkan menggunakan pesawat terbang untuk ekspor ikan ke mancanegara. Secara sadar dia ingin melindungi nelayan kecil dari desakan dan perampokan kapal asing yang menguras ikan di perairan Indonesia.

Secara antropologis kehadiran negara sangat diperlukan untuk melindungi nelayan kecil yang selalu dicekam waswas dan takut, baik karena ganasnya ombak, langkanya ikan, maupun langkanya bahan bakar minyak untuk menggerakkan kapalnya. Secara perlahan campur tangan negara akan menggeser sikap mistis dalam mengatasi sulitnya mencari ikan.

Mereka mengharapkan perlindungan tidak saja pada penguasa lautan, tetapi juga uluran tangan negara, teknologi modern, dan bantuan bahan bakar minyak. Betapapun rajinnya nelayan berdoa dan membuat sesaji, jika tidak disertai teknologi modern serta perlindungan negara, pasti akan kalah bersaing dengan maling-maling asing yang lebih canggih teknologinya meski mereka belum tentu beragama.

Alam pikiran mistis di Nusantara ini tentu tidak akan hilang, terlebih lagi bagi masyarakat penduduk sekitar pantai selatan yang ombaknya besar dan sering menelan korban manusia. Namun, untuk wilayah pesisir utara masyarakatnya lebih rasional dan terbuka.

Mungkin dipengaruhi oleh sejarah panjang yang mempertemukan beragam penduduk, pedagang, dan nelayan asing sehingga di daerah pesisir utara tradisi berdagang lebih berkembang dibanding penduduk pesisir selatan. Bayangkan, sekian hari terombang-ambing di lautan yang penuh risiko, pasti memunculkan dorongan berdoa pada penguasa lautan.

Sikap nelayan pada lautan itu mendua. Satu sisi sangat mencintai dan berterima kasih pada lautan, di sisi lain sangat takut akan ganasnya ombak dan kemungkinan langkanya ikan yang hendak mereka tangkap. Ada juga ketakutan lain yaitu mahalnya harganya bahan bakar minyak dan kalah bersaing dengan nelayan asing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar